15. Bekal

173 15 4

Hai, pembaca setia aku. Thanks untuk kalian yang masih menunggu. I purple 💜 you.

Jangan lupa klik bintang :))

***

“Kata Mama makanan yang dibuat dengan cinta dan kasih sayang itu bakalan enak, jadi aku buatin itu untuk kamu.”

🌞🌞🌞

Hari ini pagi-pagi sekali Ariana sudah bangun pada jam empat pagi untuk melancarkan aksinya di dapur, sesuai saran yang telah diberikan Luna kepadanya. Biasanya di jam begini Ariana masih berada di kasur empuknya dan bergelung dibalik selimut kesayangannya yang sangat lembut sehingga memperpanjang tidurnya dengan sangat nyenyak.

“Udah bangun Non?” Tanya Bi Raisan kebingungan, karena tidak biasanya Ariana bangun lebih awal seperti hari ini. Tentunya Bi Raisan sangat heran karena sudah bertahun-tahun menjaga Ariana yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu bangun sangat cepat tidak seperti bisanya yang bangun tepat pukul enam, bahkan sering kali Ariana bangun pada jam enam lewat tiga puluh menit sehingga membuatnya tergesa-gesa untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.

“Udah dong Bi. Hari ini aku mau masak buat seseorang!” Ucapnya dengan gembira. Dia mengambil celemek berwarna merah, mengikat talinya di belakang punggung. Sedangkan Bi Raisan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi tingkah ajaib sang majikan.

“Yaudah Non, kalau gitu Bibi yang bikin sarapan,” katanya yang langsung di angguki oleh Ariana.

Ariana berdiri menatap bahan-bahan yang berada di depannya sambil berpikir menu apa yang akan ia masak untuk Kevan. Nasi, telur dan ayam. Yap, Nasi goreng sepertinya adalah menu yang paling tepat. Mengulas senyum tipis, lantas, Ariana mengambil bawang putih, bawang merah dan cabai merah kemudian ia ulek menjadi satu lalu ia tumis di atas wajan dengan minyak dan kemudian dimasak. Sambil menunggu, dia mengambil telur lalu memasaknya menjadi telor orak-arik.

Ariana sangat lihat di bidang memasak, sepertinya karena turunan dari mamanya yang juga sangat ahli dalam bidang memasak, dan karena itu pula ia sangat menyukai memasak, bahkan dia menjadikan memasak adalah salah satu hobinya. Baginya, dengan memasak ia bisa merasa sanggat dekat dengan mamanya.

Ariana bertepuk tangan kecil  seraya tersenyum puas ketika melihat nasi goreng yang ia buat dengan suwiran ayam dan sosis sebagai pelengkap. Nasi goreng itu ia buat dengan sepenuh cinta dan sayang untuk seorang Kevan si ice prince. Eaaaa.

Setelah menyelesaikan acara masaknya, dia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul lima lewat lima puluh. Membulatkan mata panik, Ariana berlari menaiki tangga bersiap dengan cepat.

♡♡♡

Matahari lagi terik-teriknya, Ariana berjalan menuju belakang sekolah untuk menemui Kevan yang sudah pasti berada di sana. Membayangkan Kevan akan memakan nasi gorengnya dan tersenyum lembut lalu mengacak-acak rambutnya membuat Ariana tersipu malu sehingga pipinya memerah. Ariana menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan imajinasinya yang berlebihan dan kalau pun yang terjadi malah sebaliknya kan sakit.

“Lo mau kemana?” tanya Arnan yang kebetulan berpas-pasan dengannya di koridor.

“Taman.”

“Ngapain? Nggak kantin?”

“Nanti, gue ada urusan dulu.” Arnan mengangguk lalu permisi karena di panggil oleh Bu Gita.

Ariana kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Tepat seperti dugaannya, seorang Kevan duduk di kursi taman tepat di hadapan air mancur dengan kedua mata terpejam seperti biasanya, tak lupa kedua telinga disumbat oleh earphone.

Memory Of The PastRead this story for FREE!