🌸 Lee Daehwi 🌸

Start from the beginning
                                    

"Kemarin malem aku mau ke kamar Kak Seongwoo. Mau minjem buku pengantar manajemen, eh inget nggak aku pernah ijin mau minjem?" Daehwi mulai bercerita. Seongwoo sebagai kakak tingkat yang baik dengerin dong. Dia inget sih katanya Daehwi memang mau mampir ke kamar asramanya untuk meminjam buku. Tapi semalaman ia tunggu Daehwi tidak jadi datang. "Tadinya aku mau langsung masuk aja karena pintunya kebuka dikit, tapi nggak jadi."

Seongwoo mengangguk-angguk kecil ketika Daehwi menjeda ceritanya. Daehwi memang suka nyelonong begitu saja, saking seringnya ia mampir ke kamar Seongwoo dan Daniel. Berguru, kalo kata Daehwi. Minta kisi-kisi ujian, kalo kata Seongwoo. Gangguin orang, kalo kata Daniel.

Dan kemudian, bukannya melanjutkan cerita, Daehwi malah senyum-senyum misterius. "Tau nggak Kak, kenapa?"

Seongwoo menggeleng-geleng. Gimana bisa dia tau, emang dia roy kiyuwu.

"Hihihihi." Daehwi ngikik-ngikik dan menutup wajahnya yang memerah dengan telapak tangan. Sukses membuat Seongwoo mengernyit geli. "Aku liat Kak Daniel, lagi nyium kening Kakak." bisiknya masih dengan wajah merona.

"Jangan mulai deh, Hwi." Seongwoo mendengus lelah dan menarik kembali kepalanya menjauh. "Jangan jadiin kita objek inspirasi buat fanfiction lagi ya."

Daehwi ini selain mahasiswa biasa yang dituntut untuk mengetik tugas, juga sering mengetik cerita di laptopnya. Fanfiction. Iya, diam-diam si gemes ini memang hobi menyalurkan fantasinya dengan menulis cerita. Dia juga seorang fudanshi, yang suka sekali melihat moment romantis antara idolanya yang seorang laki dengan laki-laki juga. Bukan sekali dua kali Daehwi memerhatikan interaksi Seongwoo dan teman sekamarnya, Daniel. Seongwoo sampai kebal kalau Daehwi mulai jejingkrakan ketika ia dan Daniel melakukan skinship.

"Ih serius!" ujar Daehwi agak ngotot. "Aku liat dengan mata kepala aku sendiri. Kakak tuh lagi tidur, di kasur Kak Daniel. Kak Daniel lagi jongkok gitu di depan kasur. Tadinya mau aku pergokin. Eh tiba-tiba," Daehwi menarik napas sebelum melanjutkan omongannya, "KAK DANIEL CIUM DAHI KAKAK! YA AMPUN!" pekiknya kemudian.

"Aduh, aduh bujang. Jangan kenceng-kenceng teriaknya. Nanti dimarahin penjaga perpus." bisik Seongwoo sambil celingukan kanan - kiri.

Daehwi cemberut. "Ih, Kakak. Bukannya fokus sama omonganku, malah mikirin penjaga perpus. Heran." gerutunya.

"Ya malu kali, Hwi. Masa diusir dari perpus gara-gara menggosip." sungut Seongwoo.

Daehwi masih tidak terima. Pokoknya dia harus mendapat kejelasan dari adegan tidak senonoh yang semalam dia saksikan secara langsung.

"Hwi, Hwi. Beli ginian dimana sih?" Seongwoo menekan-nekan choker Daehwi pelan. Sekalian mengalihkan perhatian, agar adik kecilnya tidak melulu membahas tentang Daniel. Seongwoo sudah bosan ditanya tentang pria dengan bahu lebar itu.

Daehwi mengerjapkan matanya. Perhatiannya langsung buyar. "Choker?"

"Eum." Seongwoo mengangguk lalu kembali menyentuh benda di leher Daehwi. "Namanya choker?" tanyanya.

Daehwi mengangguk-angguk. Kemudian dia melepas chokernya dan diberikannya pada Seongwoo.

"Loh kok?" Seongwoo menerimanya dengan bingung. "Nanya doang, Hwi. Bukan mau pinjem."

"Yeee, yang mau minjemin siapa?" Daehwi sekarang kembali kipas-kipas. "Buat Kak Seongwoo kali. Biar makin cakep."

Seongwoo malah mengembalikan chokernya kembali. "Gue udah cakep dari sononya. Nggak perlu pake gituan."

"Hih. Dibilangin ngeyel." Daehwi menarik telapak tangan Seongwoo kasar. "Pake aja. Aku bayanginnya aja Kakak gemes banget, udah kayak kucing. Pasti Kak Daniel suka." kata Daehwi riang.

Uh, Really?Where stories live. Discover now