Surat panjang penuh satire

46 0 0
                                                  

Ada hari-hari dimana aku tak tahu apa yang harus kurasakan padamu. Tapi aku tahu itu bukan rasa yang biasa orang sebut cinta. Dan,bukankah cinta itu adalah sesuatu yang seharusnya terjadi pada dua pihak? Pada hari-hari itu,aku adalah orang yang beku tak berperasaan.

Untuk setiap laki-laki yang fotonya kamu unggah pada laman sosial media-mu,aku menjadi semakin kusut,semua harapan rasanya tertutup kabut. Ingin kuminta untuk kamu berhenti. Namun,aku seperti orang bisu yang mencoba meminta orang tuli untuk berhenti. Tak terucap,apalagi terdengar.

Jika harus aku suratkan,rasa ku akan menjadi teks penuh satire yang jika ditarik,panjangnya adalah dari matahari menuju pluto.
Rebusan rasa yang sudah meluap-luap ini, masih tetap aku coba tutupi dengan tutup-tutup panci yang sudah berkarat ini. Entah berapa lama lagi bisa bertahan,yang kutahu,tutup ini sudah terlalu rapuh jika harus menutup lebih lama lagi.
Dalam gaduh ini,aku berkamuflase dengan cara diam. Sementara lalu lintas perasaan ini berlalu lalang nyaris kacau,aku coba tetap tenang diam tak terpandang.
Aku angkuh,tapi litotes adalah majas favorit ku. Aku akan katakan perasaan-ku hanya seluas kamar panti,meski sebenarnya lebih luas dari hanya sebatas galaksi.

GaduhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang