Bab 15

462 25 0

Ustad in love

Bab 15

.
.
.

Warning : Segala hal yang kutulis di dalamnya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Typo, absurd, but this story is mine.

.
.
.

~Jika boleh memilih, aku tak ingin merasakan rasa yang orang-orang sering katakan. Rasa yang disebut "Jatuh cinta."~

.
.
.

Hasbi berjalan diiringi Rizki, Sam, dan Bara? Setiap hari juga begitu.

Hasbi berjalan di ekori para gadis? Sudah hal yang lumrah.

Tapi, Hasbi berjalan dengan menggandeng seorang gadis? Itu baru hal yang luar biasa hingga lagi-lagi membuat Universitas Erlangga Buana geger bukan main.

Pasalnya, Idol di kampus mereka terang-tarangan menunjukkan kedekatannya dengan gadis yang diketahui merupakan adik dari Rizki, sang ketua klub fotografer yang tak kalah populer dengan Hasbi.

Canggung. Itulah yang kini dirasakan Kenbi. Di depannya, Rizki menatapnya dengan raut tak terbaca sementara suasana Kantin yang tadinya ramai kini senyap. Seolah tak ada siapapun selain mereka.

"Bi, ini maksudnya apa?" Tanya Rizki tegas sementara Hasbi hanya mendengus.

"Maksudmu?" Bukannya menjawab, Hasbi malah balik bertanya dengan sebelah alis terangkat. Mengabaikan bisikan yang mulai terdengar dari orang-orang di sekitar mereka.

"Jangan pura-pura bodoh Bi. Kau tau kan apa yang kumaksud." Balas Rizki kesal.

"Hn."

Rizki menggeram, memang susah bicara dengan Hasbi jika dia seperti ini. Terlalu dingin dan juga tak peduli. Apa iya dia harus menunggu Hasbi berubah menjadi Gus Muzaki? Rasanya lebih menyenangkan jika seperti itu.

Menyerah, kini Rizki memandang objek lain. Maniknya menatap penuh selidik gadis yang duduk di depannya.

"Kenbi, kok bisa sama dia sih? Kalian beneran pacaran?" Tanya Rizki dengan nada yang dibuat selembut mungkin Hingga membuat Bara memandangnya tak percaya. Lucu juga saat Rizki yang terkenal dengan ketegasannya berbicara selembut itu.

"Itu.... " Jeda sejenak, manik coklat Kenbi melirik pemuda di sampingnya, namun yang dimaksud hanya menampilkan wajah datar.

"Itu .... kami han-"

"Ya. Kami berpacaran."

Bukan hanya Rizki, tapi Kenbi juga Bara yang mendengar tiga kalimat itu meluncur dari bibir tipis Hasbi tercengang.

"Apa?" Tanya Rizki tak percaya sementara Bara kini menatap takjub Kenbi, gadis yang berhasil meluluhkan hati sang idol.

"Kau keberatan?" Tanya Hasbi datar. Tak lupa tatapan mata elangnya yang menatap tepat pada manik Rizki hingga membuatnya tanpa sadar menggeleng.

"Ahh, kalian mau pesan apa?" Tanya Bara mencoba mencairkan suasana canggung disana dan setelahnya hanya terdengar obrolan-obrolan ringan mereka meski yang mendominasi adalah Rizki, yang terus menanyakan lebih detail tentang hubungan mereka dan juga Kenbi, yang sesekali melirik Hasbi dengan sorot yang tak bisa dijelaskan.

***

Di lain tempat, jauh dari kepadatan ibu kota Indonesia, tepatnya di Yogyakarta, sesosok gadis termenung dan seolah tenggelam dalam dunianya sendiri.

Najma Khayra Wilda. Putri tunggal Kyai Hasym, pengasuh pondok pesantren terbesar di kota Yogyakarta itu kini berdiri di depan cermin di kamarnya. Tangannya dengan perlahan melepas cadar yang setia menutupi wajahnya selama beberapa tahun terakhir ini. Tak hanya itu, tapi kini tangannya juga mulai bergerak, melepaskan jilbab syari yang tak pernah absen dikenakannya jika Ia keluar dari ruangan ini.

Manik coklatnya menatap lurus ke depan, memperhatikan bayangan dirinya dari pantulan cermin. Tampak seorang gadis bertubuh semampai dengan rambut hitam bergelombang sebatas pinggang. Cantik dengan pipi tirus dan juga hidung mancung. Bibir mungilnya membentuk senyum tipis. Yah, sebelum berubah menjadi senyum sendu saat tangannya kini menagkup pipi sebelah kirinya. Bekas itu masih ada. Goresan-goresan abstrak serta bekas luka bakar yang tak mungkin bisa hilang. Juga pelipis kirinya. Terdapat luka memanjang yang tampak seperti bekas jahitan.

"Apa Ustad Fandi nanti bisa menerimaku saat tau aku seperti ini?" Tanyanya entah pada siapa.

"Aku cacat." Gumamnya lirih.

"Bahkan aku tidak ingat apapun tentang luka ini. Aku tak ingat apapun." Lanjutnya dan kini tubuhnya meluruh ke lantai seiring dengan butiran air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya. Ia menangis, menampakkan kerapuhan yang hanya dirinya, serta Allah yang tau juga ayahnya, Kyai Hasym yang berhati besar mau menjadikannya sebagai anak angkat, menggantikan putri kandungnya yang meninggal akibat kecelakaan di Kairo dulu. Hanya segelintir orang yang tau tentang masalah ini. Bahkan namanya, itu adalah nama pemberian dari Kyai Hasym sendiri. Diambil dari nama gabungan antara  almarhum istri dan juga putri kandungnya.

Yah, dialah Najma. Gadis yang tak disangka bahwa di balik suara merdunya saat tilawah, dibalik sikap anggunnya, dia mempunyai kekurangan fisik. Tak ada yang tau. Selama ini Ia tak pernah membuka cadarnya di depan siapapun kecuali ayahnya. Masa bodoh dengan sebagian orang yang menganggapnya berlebihan dan tak jarang pula ada yang menganggapnya bagian dari organisasi Islam yang bertentangan dengan mereka. Masa bodoh dengan orang-orang yang menganggapnya terlalu naif karena di pesantren ini hanya dialah satu-satunya gadis yang selalu mengenakan cadar. Ia bukannya malu dengan wajah cacatnya, pun juga bukan karena takut akan mendapat cemooh dari orang-orang. Ia hanya tidak ingin ayahnya, menjadi bahan perbincangan orang karena memiliki anak sepertinya. Cukup Ia saja yang dihina, jangan sampai ayahnya.

Ilmu agama yang diperolehnya selama hampir 10 tahun di Kairo membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Ia sudah kebal akan hina'an dan cemo'ohan orang-orang. Ia tak pernah merasa takut menunjukkan wajahnya pada siapapun, pun Ia tak pernah malu.

Tapi, sejak kembali ke Indonesia beberapa bulan lalu entah mengapa rasa malu itu muncul. Bahkan Ia juga sangat takut. Itu adalah saat pertama kali dirinya melihat seorang pemuda yang sungguh, mampu membuat hatinya bergetar hebat. Saat ayahnya mengadakan seleksi untuk tenaga pengajar di pesantrennya, mau tak mau Ia ikut membantu. Dan saat itulah, kedua pasang manik coklat itu bertemu. Muhammad Arfan Fandi Al-Hamid. Ustad muda yang untuk pertama kalinya membuat Ia memilih menutup diri. Pemuda yang untuk pertama kalinya membuatnya merasa takut dan malu akan kenyataan jika saja wajah cacatnya dilihat orang lain. Ia tak pernah merasa sakit atas kecacatannya, Ia yang selalu yakin akan Allah yang tak pernah melihat seorang hamba dari penampilan.

Tapi kenapa sekarang semuanya terasa berbeda? Jika boleh memilih Ia akan memilih untuk tidak pernah mempunyai perasaan seperti ini. Perasaan yang oranng-orang sering katakan. Perasaan yang sering disebut dengan  'jatuh cinta.' Sungguh Ia tak ingin. Karena perasaan itu kini menyiksanya, membuatnya merasakan malu dan ketakutan untuk yang pertama kalinya.

.
.
.
Tbc.

Pendek amat yak #plak.

Review, Vote & coment please......

Awal publish : Selasa, 16 April 2019.

Versi revisi : Kamis, 23 Mei 2019.

Magelang, Jawa Tengah.



Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!