Pasal 7: Kejujuran, Kebohongan, Keluarga

631 92 55

Ada bau menyengat tertangkap indera pembauku. Pelan-pelan mataku terbuka. Sinar putih cukup menyilaukan menyambut visual pertamaku. Pemandangan serba putih yang terlihat. Apa aku sudah mati? Apakah ini surga?

"Ternyata aku orang baik," gumamku. "Surga tidak buruk juga."

"Kata siapa kamu masuk surga? Ini masih di bagian administrasi pendaftaran alam baka." Ada suara lain yang mengisi keheningan. Rasanya sangat familiar dengan suara itu, sangat khas hingga ingin sekali aku memindahkan situasi ini ke dalam mode sunyi. Bahkan suara Mean mengikutiku hingga kea lam baka. Bisakah aku mati dua kali, sekali saja ternyata belum cukup membuatku lupa padanya.

Sedikit ngilu di bagian kepala, kupaksakan untuk menggerakkan dan netraku akhirnya bersirobok dengan orang yang paling ingin kuhindari sejagad raya.

"Kenapa setannya ngintilin sih?" gumamku sebal. Ada secercah kebahagiaan sebenarnya melihat wajah Mean yang begitu berantakan. Ada cukup banyak noda darah pada kaos putihnya yang sekarang terlihat berkerut di mana-mana.

"Plan," suara Mean membuatku merinding. "Kenapa kamu begini? Kenapa kamu sembunyiin banyak hal dariku, huh?"

"Mean—"

"Diam dulu," suara Mean terdengar gusar, kesal, panik, sendu, entahlah. Tidak pernah sekalipun aku mendengar nada bicaranya ini. Rasanya sesak sekali.

"Maaf—"

"Kubilang diam dulu!" Mean marah, aku paham itu.

Tidak pernah semenjak pertemanan kami dimulai Mean membentakku seperti ini. Rasa nyeri menyeruak. Dada terasa begitu menyakitkan. Aku mengalihkan pandangan dari Mean karena tiba-tiba saja segalanya terlihat tidak jelas di mataku. Aku takut terlihat ringkih di depan Mean. Karena begitu aku lemah, mudah untukku membongkar perasaan yang selama ini terpendam, dan aku jelas menolak fakta itu, sekeras apapun aku berusaha.

"Salahku apa padamu, huh?" Mean bersuara lagi. Hanya ada kami berdua dan itu semakin membuatku gemetar. Aku tidak ingin kelepasan ketika Mean sangat baik padaku. Tuhan, kumohon, jaga mulut dan perasaanku agar tertutup rapat, kunci kalau perlu. Buang kuncinya ke laut, jangan pernah biarkan manusia lain menemukannya. Biarkan aku memendamnya sendiri ... selamanya.

"Kamu bilang kamu demam, tapi ada jahitan di kepalamu," kata Mean lirih. "Itu bekas pukulan benda tajam, Plan. Siapa yang pukul kamu? Kamu berantem? Kapan?" Mean terus berujar tanpa ada niat mendengarku.

Mataku terus menatap langit-langit, ingin meniadakan suasana yang semakin lama membuatku sulit bernapas, benar. Aku mulai merasa begitu sesak, rasanya begitu sulit. Tolong, bahkan hidungku tak mampu membantu. Mulutku terbuka, mencoba meraup oksigen dengan rakus. Kenapa ingin mati rasanya begitu sulit?

"Plan?" Mean bergerak menyentuh lenganku. Aku menatapnya, ingin minta tolong tapi ingin ia menjauh. "Plan, kamu kenapa?"

Aku tidak tahu. Rasanya sesak. Tidak ada kata yang keluar, hanya bunyi orang seperti kehabisan udara yang mampu terdengar.

"Plan, tenang! Aku tidak marah padamu, maaf! Plan!" Mean berteriak panik. "Suster! Brengsek, Plan, tenanglah!" Mean mencengkeram lengatku begitu erat. "Dokter!" Mean berteriak lagi. Tidak lama kemudian datang seorang suster dan dokter.

Aku tidak lagi mendengar suara Mean. Cengkeramannya terlepas, saat itu aku merasa begitu kehilangannya. Tanganku terulur, ingin berteriak jangan tinggalkan, tapi taka da suara apapun yang keluar. Mean menatapku nanar, pandangan yang selama ini aku khawatirkan. Pandangan jijik yang diberikannya padaku ketika tahu aku mencintainya. Pandangan kecewa saat aku diam-diam mengkhianati persahabatan kami.

Mean, tolong aku. Bagaimana aku harus lupa tentangmu? Entah berapa kali akhirnya kegelapan menjadi sahabatku sekali lagi.

***

Garis-garis Besar Gebetan PlanWhere stories live. Discover now