6

84 19 1
                                                  

Tidak peduli sudah berapa kali tetesan hujan itu turun,
Hati ini akan selalu jatuh karna alasan yang sama dan dengan nama yang sama.

***

Sudah seminggu sejak hari itu, hari dimana perempuan itu kembali dalam kehidupan Jimin. Dan hari itu juga menjadi pemula Jimin mulai jauh dariku, mengabaikanku, dan bahkan aku sering tak dianggap olehnya.

Sedih? tentu saja. Jimin yang memang selalu bersikap dingin padaku, kini semakin dingin. Dan bahkan sekarangpun aku sudah jarang diantar jemput olehnya. Ya tentu saja, itu karna dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan perempuan itu.

Awalnya aku menganggap itu biasa, toh perempuan itu hanya sahabat kecil Jimin. Mungkin saja Jimin sedang melepas rindu dengannya.

Namun mengalirnya hari dan hingga hari ini, perasaan biasa itu menjadi kegelisahan di hatiku.  Aku takut Jimin akan semakin jauh dan melupakanku. Aku cemburu? tentu, aku takut dia memiliki perasaan pada sahabat kecilnya itu.

"Brengsek!" itu suara Joy, tapi aku tak mempedulikanya. Fokusku masih ke depan, kepada lelaki yang sedang duduk dan dengan senyum bahagia disuapi oleh perempuan disampingnya yang tak kalah bahagia.

"Lo nunggu apa lagi, Gi?
nunggu Jimin bener-bener lupa dan ninggalin lo?" ucap Irene dengan suara yang ditinggikan.

"Gue rasa kali ini lo harus tegas sama Jimin, Gi" ucap Wendy seraya mengusap punggungku.

Aku meremas tupperware digenggamanku. Kali ini kesabaranku sudah diujung kepala. Aku sudah lelah melihat ini semua. Melihat Jimin yang sering berdua dan tertawa dengan perempuan itu, tanpa mempedulikanku yang statusnya adalah pacarnya.

Aku melangkahkan kali dengan sedikit menghentakanya. Meninggalkan ketiga sahabatku yang masih berdiri di depan pintu kantin, menuju meja Jimin dan Nancy.

Brakk

aku menggebrak meja itu. Membuat semua mata penghuni kantin menatap terkejut dan bingung padaku, tapi aku tak peduli. Terlebih Nancy, ia sampai melempar sendok yang berisikan bakso yang akan disuapkan pada mulut Jimin. Barbeda dengan Jimin yang kini sudah menatapku datar.

"Kamu ini siapa, hah? berani-beraninya nyuapin kekasihku. Chimin itu pacar aku, jadi kamu ngga punya hak untuk berdua-duan sama Chimin!" aku menatap Nancy yang kini menunjukan wajah bingung.

"Aku minta mulai sekarang jangan deket-deket sama pacar aku. Aku minta kamu JAUHIN CHIMIN" ucapku penuh penekananan. Tapi Nancy masih bungkam dan terlihat bingung.

Kini aku menatap wajah datar Jimin,
"Chim, bilang sama dia bahwa aku ini pacar kamu! Dan bilang juga sama dia buat jauhi--"

BRAKK

Aku tersentak karna tiba-tiba Jimin menggebrak meja lebih keras dari aku sebelumnya. Kini dia berdiri dan menatap mataku tajam, sontak itu membuatku takut.

"BERHENTI KEKANAK-KANAKAN! AKU PIKIR KAMU SUDAH DEWASA, JADI BERHENTI MEMPERMALUKAN DIRIMU SENDIRI! APA KAMU PIKIR AKU MENYUKAI SIKAP KEKANAKANMU?!" kini aku benar-benar takut, air mataku sudah di pelupuk mata. Aku memang sering dibentak Jimin, tapi kali ini berbeda. Dia membentaku ditempat umum.

"BERSIKAPLAH SEDIKIT DEWASA!"

"BRENGSEK! LO YANG HARUSNYA INTROPEKSI!" aku tersentak oleh suara keras Joy. Kini aku menatap ke samping yang di sana sudah ada ketiga sahabatku.

"Lo pikir siapa hah? berani-beraninya mbentak Seulgi! lo pikir karna dia pacar lo, jadi lo bisa memperlakukan seenak jidat lo!"

"Ren!" aku menegur Irene.

"Apa Gi? lo mau bela dia lagi?! udah cukup Gi!" aku menundukan kepalaku lagi. Wendy mengusap pundaku lembut.

"Dan buat lo!" Joy menunjuk Nancy.

"Gue ingetin ya! Jimin itu udah punya pacar! walaupun lo itu sahabat sejatinya sekalipun, Seulgi lebih punya hak dari pada lo!" Joy menatap tajam  Nancy yang kini terlihat terpojokan.

Tanpa aba-aba, Jimin menarik lembut tangan Nancy dan aku bisa melihat itu dengan jelas. Jimin membawanya pergi. Dan entah kenapa aku tidak bisa menahan air mata lagi. Aku lari pada pelukan Wendy, menyembunyikan wajahku disana.

"DASAR COWO BRENGSEK!" tubuhku semakin bergetar saat mendengar teriakan Joy.

"Udah Joy!" Wendy memperingati Joy.

"Lo liat kan, Gi? dia bahkan ngga peduli sama sekali sama perasaan lo" Irene memeluku dari belakang.

"Dan prediksi gue tentang perempuan itu bener" ucap Joy lirih namun masih bisa ku dengar.

***

Aaaaaa miaaannnn chapter ini cuma dikit:"(
Mianhae juga ARMY, gue bikin Jimin jadi sejahat itu😭😭😭😭

Btw, chapter ini terinspirasi dari salah satu chapterny Mariposa😍


Vomment guys 😍
kalian terbaikkk

Can You Love Me Jimin? | SEULMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang