--marah

25 3 0

SAAT sedang jam istirahat, tiba tiba raynand masuk ke kelas devi dengan wajahnya yang terlihat sedang menahan amarah, dengan cepat raynand menahan lengan devi yang hendak keluar kelas bersama dengan kedua sahabatnya, jocelyn dan rani

"ka?" kaget devi karena raynand yang tiba tiba datang dan menahan lengannya "gue mau ngomong" raynand menatap devi tajam "tapi aku mau ke ruang-"

"diem!"

"ta-tapi ka, pak budi-"

"DEVIANA!" sentakan raynand barusan berhasil membuat mulut devi bungkam "gue bilang gue mau ngomong sama lu!" tambah raynand kesal, ia menatap devi tajam, membuat devi menelan ludahnya pelan

"ada apa ka?" tanya devi bingung, kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadap ke kedua sahabatnya "lu pada duluan aja" lalu setelahnya devi kembali menatap raynand

"gue udah bilang, gue gamau ada yang bocorin tentang satu pun hal yang terjadi di LDKS! Tapi kenapa belakangan ini gue denger banyak orang yang ngomongin tentang LDKS haa?!" marah raynand, mukanya memerah, rahangnya mengeras membuat uratnya terlihat

"maaf ka, aku ga ngomong apa apa tentang LDKS lagi semenjak kejadian di ruang osis" devi menundukkan kepalanya

"Tapi kenapa yang lain masih ada yang bohong dan bocorin?!" kesal raynand "aku gatau ka, pokoknya aku beneran gapernah bocorin LDKS lagi ka" kata devi berusaha membuat raynand percaya akan dirinya

"Gue ga peduli, karena gimanapun juga lu pada semua itu keluarga, mau lu bocorin apa kagak, itu tetep kesalahan lu, kalian keluarga soalnyaa!!" raynand meninggikan suaranya

"iya ka, aku ngerti, tapi bagi aku kaka gaperlu marahin aku kayak gini, aku tau aku sama yang lain itu keluarga, tapi bukan berarti kaka bisa marahin aku kalo aku ga salah, mungkin ini salah aku sama yang lain, tapi kaka ga seharusnya selalu marahin aku

"aku kan ga salah, tapi jujur, aku berharap ga ada satu pun dari keluarga ku yang bohong dan ngebocorin hal yang seharusnya ada didalam osis saja, aku mau minta maaf atas kejadian itu, maaf ka raynand" devi menundukkan kepalanya

"seharusnya ka raynand marahin orang yang salah bukan aku" tambah devi, ia sudah sangat kesal, bagaimana tidak, ia tidak salah namun raynand malah memarahinya

gue tau gue udah jadi penanggung jawab osis 10, tapi bukan berarti gue yang harus selalu dimarahin kann? pikir devi

"KAMU PENANGGUNG JAWAB DEVII!!" marah raynand, ia menghembuskan nafasnya kasar dan mengusap wajahnya menahan emosi "ta-tapi ka, dengan aku menjadi penanggung jawab, bukan berarti aku yang selalu dimarahin kan?" tanya devi memasang senyumnya

"gue marahin siapa aja itu terserah gue! Satu dimarahin semua dimarahin, satu kerja semua kerja, bukannya itu yang lu pada pelajarin di LDKS?!!" raynand menunjuk wajah devi dengan telunjuknya, wajahnya benar benar merah sekarang

"ya, aku sama yang lain di LDKS memang belajar hal itu, kata ka raynand, satu dimarahin semua dimarahin kan? Tapi kenapa disini, aku doang yang dimarahin??" bingung devi sambil menatap tepat di mata raynand "kata ka keenan sama arhan, aku jadi penanggung jawab bukan berarti aku yang dimarahin" tambah devi lagi

"lu ga terima gue marahin? EMANGNYA LU SIAPA?! GUE INI MASIH SENIOR! LU JUGA BELOM RESMI JADI PENGURUS OSIS!" teriak raynand tepat di depan wajah devi, membuat devi menutup matanya terkejut

"maaf ka, tapi dengan kaka itu senior bukan berarti kaka bisa dengan seenaknya marahin aku" kata devi "aku bukannya nyolot, tapi aku gamau kaka dengan seenaknya marahin aku yang gak salah walaupun kaka adalah senior aku" tambah devi lagi masih setia memasang senyumnya, raynand diam lalu ia pergi keluar dari kelas devi

-Deviana-

"maksud lu, tadi lu itu dimarahin raynand jadinya lu gaterima terus lu ngomong baik baik ke dia terus tiba tiba dia keluar dari kelas lu tanpa ngomong apa apa gitu?" tanya devano yang tidak sengaja melihat kejadian devi dan raynand yang baru saja tadi pagi menjadi pusat perhatian semua murid, devi menganggukan kepalanya

"iya nih, kayaknya dia marah" kata devi ragu "mungkin" devano mengangkat bahunya "devii!" tiba tiba suara seorang lelaki masuk ke dalam indra pendengaran devi dan devano "pak budii?" kaget devi, ia baru ingat kalau dirinya harus bertemu dengan pak budi pagi tadi

"kamu ya! Sudah saya suruh ketemu saya malah tidak datang datang! Padahal kamu sudah janji tadi sama saya!" marah pak budi sambil mengangkat ngangkat jari telunjuknya ke atas

"maaf pak, tadi aku ada sedikit urusan mendadak pak" devi menjelaskan "urusan apa? janji tetaplah janji devi!!" sahut pak budi sambil berkacak pinggang "tadi, aku ada urusan yang harus aku lakuin dulu" jawab devi berusaha meredam emosi pak budi, guru bp yang terkenal disekolah devi karena kedisiplinan dan ketegasannya

"kamu itu udah sering banget nunda buat ketemu sama saya! Mulai dari alesan kamu yang ada latihan upacara lah, ada ulangan lah, kamu sakit lah, sekarang apa lagi haa?" tanya pak budi menahan emosinya

"tadi aku ada urusan sama ka raynand, tentang osis" jawab devi berharap agar pak budi paham dan memaafkannya kali ini, ia pun juga berharap agar devano membantunya "urusan apa?" tanya pak budi lagi "eumm, i-itu, tentang pem-"

"bapak kalau mau marah, marahin saya aja pak" sela raynand "devi ga salah pak, saya yang ambil waktunya" raynand menatap pak budi lalu melirikkan matanya kearah devi, ia pun memutar bola matanya malas

kalau saja rangga tidak menyuruhnya membantu devi karena sudah membuat devi mengingkari janjinya dengan pak budi, ia pasti tidak akan berada disini sekarang

"kak raynand kok bisa tiba tiba dateng sih?" tanya devi setelah pak budi dan raynand selesai berbicara "bisa bilang makasi ga?" ketus raynand "makasi" jawab devi "tapi kok kak raynand tumben tumbennya bantuin aku? Padahal barusan ka raynand marahin aku" devi mengernyitkan dahinya bingung

"seenggaknya gue udah bantuin lu, anggep aja ini sebagai permintaan maaf gue karena uda bikin lu gabisa ketemu sama pak budi tadi pagi" jawab raynand "tapi-"

"gue anter lu pulang kalo bagi lu permintaan maaf gue yang tadi ga cukup" potong raynand "ha? Gausah kaa" jawab devi "ini perintah, pokoknya ntar pulang gue tunggu di parkiran!" tegas raynand "dia bilang dia gamau" sela devano tiba tiba "emang lu siapanya dia?" tanya raynand ketus

"gue udah ada janji sama dia, kita mau nge-date pulang sekolah nanti" mata devi membulat sempurna "yaudah" raynand membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan devi dan devano "ka raynand, ng-"

'kring kring'
devi mendesah pelan merasa kesal, ia mencubit lengan devano "apaan sih? Kalo ngomong jangan ngawur dongg" kata devi memelas "kalo ka raynand mikir yang ngga ngga gimnaa?" tanya devi histeris sendiri

"tenang aja, dia ga akan buang waktunya buat mikiran hal kek gitu" kata devano menenangkan "yauda gue duluan ya, byee!" devano melambaikan tangannya dan pergi setelah devi membalas lambaian tangannya

FOLLOW :
clarissaaalika_ (ig)

tengkiuu gais buat yang udah baca!!

DevianaRead this story for FREE!