Bab 15

8.6K 452 0

Dion POV

DAMN!

Gila aja, masa gue kalah sama Miranda?!

Miranda tersenyum puas dengan kemenangannya. Dia bahkan mengulangi lari-lari kemenangannya mengelilingi ruang keluarga sambil bersorak-sorak menang.

"Dulu sih, ada seorang cowok yang pernah bilang ke aku kalau dia ga pernah menarik kata-katanya." Kata Miranda saat selesai berlari dan berdiri tepat di depan gue.

Iya gue tau! Cowok itu gue!

"Oke! Taruhan tetep taruhan! Sekarang kamu kasih tau kenapa kamu mau pisah sama aku sampai lima tahun?" kata gue kesal.

Masa gue kalah?

"Mir, Daddy ga pernah mengajari kamu seperti itu ya!" tegas om Heru.

"Dad! Tapi Daddy mengajarkan Miranda untuk tidak pernah bermain-main dengan ucapan, dan itu sekarang yang Miranda lakukan!" kata Miranda ga kalah tegas.

"Kamu baru menikah kemarin. Masa kamu mau pisah sekarang?" tanya om Heru.

Benar sekali!

"Karena, Miranda dan Dion masih muda, Daddy! Sekarang aja umur kami baru dua puluh satu! It means, kita masih punya banyak waktu buat mengejar cita-cita, meraih semua mimpi, melakukan semua yang belum kami lakukan! Perlu Daddy inget, kami belum cukup mandiri buat lepas dari orang tua! Jadi mana mungkin kami bisa menjalani pernikahan dengan baik? Kita butuh waktu, Daddy." jelas Miranda panjang lebar.

Ooooo...

"Fine. Aku terima alasan kamu. Lima tahun aja kan? Seorang cowok tidak akan pernah menarik kata-katanya." Kata gue tegas.

Miranda tersenyum dan langsung memeluk gue. Mencium pipi gue dan berteriak puluhan terima kasih. Gue ikut tersenyum dan larut dalam kesenangan Miranda.

Gue sedih, tapi juga senang dengan taruhan ini. Benar kata Miranda, kami masih terlalu muda. Kami kan bukan seperti di film-film yang mau menikah muda dan punya banyak anak. Kami masih mau mengejar mimpi kami masing-masing.

Gue aja baru menjabat jadi CEO. Pekerjaan saja belum bisa gue urus, bagaimana nantinya gue mengurus keluarga baru gue? Miranda benar, kita butuh waktu.

"Terserah kalian saja!" kata om Heru kesal.

"Om, aku rasa Miranda benar. Kami masih terlalu muda. Apalagi, kami masih menggunakan uang orang tua dalam membeli segala sesuatu. Aku rasa, lima tahun itu waktu yang cukup untuk kami berdua mengejar apa yang pernah kami cita-citakan dan impi-impikan." Kata gue membela.

"Tadi kamu bilang apa? 'Om'?" tanya Miranda bingung. Om Heru juga bingung.

Alex terkekeh geli.

Loh, memangnya kenapa?

Miranda langsung berkacak pinggang dan berdiri kesal di hadapan gue.

"Daddy tuh sekarang mertua kamu! Masa kamu panggil Daddy itu 'om'?!" kata Miranda kesal.

Oooooo! Gue jadi salah tingkah. Gimana mungkin gue sampai lupa kalau om Heru sekarang kan statusnya ayah gue juga!

"Maaf, Yang Mulia Daddy!" kata gue sambil membungkuk ala orang-orang di zaman kerajaan dahulu kala.

Om Heru.... maksud gue Dad, tertawa geli dengan sikap gue. Diikuti oleh tawa Alex dan Miranda. Gue jadi ikut tertawa.

Setelah itu, Miranda kembali menyusun bidak catur. Duduk dan mempersilahkan Dad duduk di hadapannya.

"Mungkin kamu bisa mengalahkan kedua lelaki kekar itu, tapi kamu belum pernah sekalipun mengalahkan Daddy." Kata Dad dengan keyakinan luar biasa.

Miranda malah terkekeh geli.

"Jadi, apa yang mau kamu pertaruhkan? Semua yang kamu punya itu kan milik Daddy, dan lagipula kamu kan pasti kalah." Kata Dad meremehkan Miranda.

"Pertaruhan ini yang paling besar Daddy! Makanya, kita adakan tiga permainan. Biar adil." Kata Miranda yakin.

"Jadi, sebutkan taruhan kamu." Kata Dad.

"Ada tiga, Daddy!" kata Miranda semangat.

"Yaitu?"

"Satu, berikan Alex setengah dari apa yang akan Dad kasih ke aku. Aku kan udah mendapatkan kekayaan keluarga Mahreza. Jadi, biar Alex yang mengurus perusahaan untuk bagian aku. Mike udah setuju kok!" kata Miranda dengan keyakinan penuh.

Bisa gue lihat, Alex kaget setengah mati.

"Ta-tapi?" kata Alex terbata-bata.

"Lalu, kedua?" Tanya Dad.

"Kedua, aku mau Daddy bangun rumah di samping rumah kita ini. Di sebelah rumah ini lahan kosong kan? Nah, aku mau Daddy bangun rumah itu buat aku. Aku tau, Daddy dulu pernah masuk jurusan arsitektur, tapi Cuma sampai tahun ketiga, Daddy keluar karena pindah jurusan. Jadi.... buatkan aku sebuah rumah, Dad!" kata Miranda.

Dad tersenyum.

"Ketiga?" tanya Dad.

"Ini yang paling sulit!" kata Miranda sambil mengerutkan dahinya.

Apa?

"Sebutkan!" kata Dad.

"Miranda mau bekerja di tempat yang jauh dari sini. Miranda mau mendapatkan uang hasil jerih payah Miranda, dengan kemampuan Miranda sendiri! Karena itu, Miranda mau Dad selalu sehat! Berhenti bekerja di perusahaan, dan konsentrasi pada pembangunan rumah Miranda aja. Miranda mau Dad tunggu Miranda balik." kata Miranda dengan air mata yang mulai menetes.

Gue tersenyum pahit.

Itu namanya melampaui kehendak Tuhan.

"Kalau Dad yang menang, Dad mau mengajukan tiga permintaan. Kamu sanggup?" tanya Dad.

Miranda menghapus air matanya dan langsung mengangguk.

Permainan di mulai.

Babak pertama, Dad menang.

Babak kedua, Miranda menang.

"Dad, aku menang! Ini pertama kalinya aku menang!" kata Miranda.

"Kamu Cuma beruntung aja menang!" kata Dad.

"No, it is not!" kata Miranda.

Babak ketiga berjalan sangaaatttt menegangkan. Gue dan Alex sampai sulit berkedip! Sampai akhirnyaaaa......

"SKAK MAT!"

Marry Me!Baca cerita ini secara GRATIS!