Bab 14

8.6K 462 0

Miranda POV

“Lex, mending kamu kenalan ulang sama Dion deh. Pake nama lengkap!” kata gue duduk di sofa sambil melipat dada.

Gue bisa lihat Alex garuk-garuk kepalanya dan merasa bersalah. Dad sudah tersenyum-senyum tidak jelas. Ck!

“Maaf atas kesalahpahaman barusan. Perkenalkan, nama saya Alexander Prawijaya. Saya anak angkat di keluarga ini. Tentu saja yang mengetahui hal ini hanya tuan besar, tapi ternyata nona muda juga tahu hal tersebut.” Jelas Alex.

Dion yang duduk di sebelah gue kaget setengah mati.

“Dad, Mike juga tau tentang Alex loh!” kata gue yang sukses membuat Dad dan Alex kaget.

Semua orang kaget terkecuali gue. Wow!

“Bagaimana mungkin?” Tanya Dad ga percaya.

“Yaaaahhh, walau Mike nyebelin dan jarang di rumah, tapi Mike kan sayang sama Miranda! Jadi, Mike yang sebenarnya ngasih tau Miranda kalau ada bodyguard yang selalu jagain Miranda.” Jelas gue sambil menyesap teh melati yang telah tersedia.

Ketiga lelaki di hadapan gue ber-oh ria.

“Main catur yuk!” ajak gue yang sudah berdiri dari sofa dan membuka laci di pojok ruangan.

Gue ambil papan catur dari sana, lalu mengeluarkan semua bidak-bidak catur dan segera menyusun semuanya.

“Ayo kita bertaruh dalam permainan ini!” seru gue yang mendapat perhatian luar biasa dari ketiga lelaki kekar yang mengelilingi meja ruangan tamu tersebut.

“Kamu mau bertaruh?” Tanya Daddy.

Gue langsung mengangguk cepat!

“Lalu siapa yang mau kamu lawan? Semua?” Tanya Daddy lagi.

“Iya! Satu kali permainan aja ya. Jadi, pertama lawan Alex. Terus Dion. Dan terakhir, Daddy. Gimana?” kata gue dengan tatapan berbinar-binar.

Gue sangat suka bermain catur. Walaupun kalau bermain sama Daddy, gue pasti kalah!

“Boleh. Taruhannya apa?” Tanya Daddy semangat.

Gue langsung berpikir cepat. Hm… apa ya?

“Pertama kan Alex. Nah, kalau Alex menang, Alex boleh memiliki setengah dari apa yang Dad akan kasih ke aku. Tapi kalau aku menang, turutin permintaan aku. Gimana, Lex?” Tanya gue.

“Permintaan apa, nona?” Tanya Alex sopan.

“Makanya main dulu! Dan harus serius!” kata gue semangat.

“Mir,” panggil Dion.

Gue langsung menatap Dion dengan tatapan membunuh. Gue tau Dion pasti mau suruh gue berhenti main-main seperti ini. Huh!

Dion ngalah dan membiarkan gue bermain.

Selama permainan berlangsung, bisa gue perhatikan semua orang terfokus dengan papan catur itu. Apalagi Dad, yang luar biasa tercengang dengan taruhan yang gue buat. Maaf Dad, tapi Miranda ga main-main!

“SKAK MAT!!!” teriak gue dengan penuh kemenangan.

Gue langsung bangun berdiri dan berlari mengelilingi ruang keluarga dan berteriak senang! Wohooooo! Gue menang loh melawan lelaki kekar dengan sabuk hitam beladiri!!!

“Sorry Alex. Tapi, aku ini anak seorang HERU PRAWIJAYA yang tak terkalahkan!” kata gue sambil tertawa keras.

Daddy sampai geleng-geleng kepala.

“Jadi, apa permintaan Anda, nona muda?” tanya Alex.

“Ada tiga. Satu, panggil aku dengan nama Miranda! Bukan ‘nona-nona’! Dua, kamu harus jadi kakak aku! Kamu kan juga anak Daddy!!! Dan tigaaaa….” Kata gue memberi jeda.

Mata ketiga lelaki kekar di hadapan gue sudah terlihat kaget dan penasaran.

“Kamu dipecat!”

Mata ketiga lelaki di hadapan gue langsung melotot kaget.

“Sa-saya di-pecat, nona?” Tanya Alex ga percaya.

Gue langsung geleng-geleng kepala.

“Alex, lu sekarang ga boleh manggil gue ‘nona’ lagi! Lu itu kakak gue! Lu sama kayak Mike buat gue! Oke?” kata gue tegas.

Yes! Alex mengangguk. Dad juga mengangguk. Cuma Dion yang bingung mau mengangguk ato enggak.

“Ayoooo kita lanjut! Dion, prepare yourself.” Kata gue mengintimidasi sambil merapikan papan catur dan bidak-bidaknya.

“Jangan nangis kalau kamu kalah, sweetheart!” kata Dion sombong.

“Ga akan! Sekarang taruhannya. Kamu mau apa kalau menang?” tanya gue dengan kesombongan luar biasa.

Dion berpikir keras sampai mengerutkan dahinya. Dia mau apa ya?

“Kalau aku menang, kita pergi honeymoon dan sepuluh hal yang kamu ajuin sebelum kita menikah itu dibatalin. Gimana?” kata Dion penuh keyakinan.

Wow. Berat banget!

“Oke!” kata gue setuju.

Dion tersenyum puas. Dad juga. Ck! Cuma Alex yang tersenyum penuh kebingungan.

“Karena taruhannya besar, aku juga mau mengajukan taruhan yang setimpal kalau aku menang.” Kata gue ga mau kalah.

Dion mengangguk.

“Kalau aku menang, aku minta kita pisah rumah dan kehidupan kita selama lima tahun. Bagaimana?” Tanya gue ga segan-segan.

“KENAPA?!” kata Dion kaget.

“Kita main dulu, baru kamu tau nanti kenapa kalau aku menang. Gimana?”

Dion kelihatan kaget sekali. Tapi, gue punya alasan. Ga Cuma main-main aja bilang hal seperti ini.

“Kamu takut kalah?” Tanya gue meremehkan.

Gue tau Dion ga suka diremehin, dan terbukti. Sekarang Dion sudah tersulut semangatnya untuk mengalahkan gue.

“I won’t lose, sweetheart!”

Marry Me!Baca cerita ini secara GRATIS!