Chapter 2: Bosse Hotel

54.3K 2.7K 11

Setelah sampai di studio, akupun bersiap-siap untuk pergi ke hotel Bosse. Aku juga sudah melihat crew foto yang sibuk menyiapkan peralatan dan memasukannya ke dalam mobil Van. Aku melihat jadwal di komputerku dan memastikan bahwa tidak ada lagi yang harus aku lakukan hari ini. Aku mengirim beberapa video yang harus dikirim karena hasil edit-an video memakan waktu lebih lama karena jadwalku yang padat. Setelah selesai, aku menyetir mobilku ke Hotel Bosse. Saat dalam perjalanan, perutku mulai bunyi. Aku baru sadar bahwa aku belum makan apapun dari pagi tadi karena terlalu sibuk. Aku bertekad untuk menyelesaikan pemotretan lebih awal hari ini.

 

Sesampainya di Hotel, kami-pun segera menuju tempat yang dimaksud. Dengan bantuan seorang pegawai hotel, kami akhirnya sampai di rooftop hotel. Tempat ini memang benar-benar mewah dan bagus. Kolam renang yang ada di lantai paling atas dan mengarah ke laut ini benar-benar memberi suasana yang berbeda dari image Jakarta yang padat.

 

“Bu, ini blueprint kolamnya.” Salah satu asistenku memberikan kertas berukuran besar yang digulung.

 

Sebenarnya aku sudah menerima copy blueprint tempat ini kemarin tapi karena sibuk, aku belum sempat untuk menata-nata lighting dan peralatan lainnya. Ini adalah salah satu proses sebelum pemotretan dimulai. Aku harus menentukan dimana tiang lampu dan peralatan dipasang agar hasil fotonya terlihat lebih sempurna. Setelah selesai menggambar posisi peralatan, anak buahku-pun segera sibuk berlari untuk menata alat di tempat seharusnya.

 

Sejujurnya, aku tidak suka melakukan photoshoot di tempat-tempat yang berbau air. Aku akan selalu menghindar dan menawarkan client ke fotografer lainnya. Bukannya aku phobia air, tetapi aku dan air memang tidak bisa cocok. Aku tidak bisa bernafas lewat mulut, dan mungkin juga karena itu aku tidak bisa berenang walaupun sudah berkali-kali belajar. Walaupun aku tidak suka, aku tidak bisa menolak jika client bersikeras ingin melakukan photoshoot di kolam renang. Alhasil, disinilah aku menunggu kedua calon pengantin untuk melakukan foto prewedding mereka. Concept yang sudah aku buat ini mirip dengan concept kolam yang ada di ‘Dreamland’ yang ada di Bali. Lokasi itu adalah lokasi dimana Valencia dan Randy, si bride and groom, bertemu untuk pertama kalinya. Ceritanya, saat itu masing-masing pihak sedang berlibur bersama teman-teman mereka, dan Randy tanpa sengaja melihat Valencia. Melihat kecantikan Valencia, tentu saja Randy tak kuat menahan diri untuk mengajak cewek cantik itu berkenalan.

 

Sebetulnya, jarang sekali ada yang ingin foto prewedding-nya dilakukan di kolam renang. Biasanya tidak ada calon pengantin yang mau rambut dan makeup-nya rusak karena terkena air kolam renang. Ditambah lagi, mereka harus memamerkan bentuk tubuh jauh sebelum hari pernikahan mereka, disaat mereka belum berdiet dan berolahraga untuk membentuk tubuh. Mereka lebih suka terlihat secantik mungkin dengan dandanan yang sudah diset dan gaun cantik yang menutupi kelemahan yang ada di badan mereka. Apalagi, photoshoot kali ini dibuat se-natural mungkin dan Valencia hanya akan mengenakan baju renang. Aku-pun sempat kaget saat Valencia menyetujui concept yang sudah kubuat itu.

 

“Bu, alatnya sudah ditata.” Anak buahku melapor.

 

“Oke. Valencia sama Randy udah dateng?” Aku bertanya karena sedari tadi aku tidak melihat sosok mereka sama sekali. Seperti yang sudah diduga, anak buahku itu menggelengkan kepalanya. Jam menunjukkan bahwa mereka berdua sudah telat selama setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Dasar anak mentri. Dia kira hanya dia yang sibuk? Seenak-enaknya telat dari waktu yang dijanjikan. Kalau begini caranya, acara photoshoot tidak akan selesai lebih cepat. Perutku benar-benar tidak bisa diajak bersahabat karena sudah bunyi berkali-kali.

Possessive LoveBaca cerita ini secara GRATIS!