"Joanne! Apa yang terjadi padanya?"

"Ma'am Alison, tolong! Cepat!"

          Kami langsung membaringkan ibu di ranjang di mana biasanya Ma'am Alison memeriksa ibu. Pintu ruangannya ditutup dan kami bertiga hanya menunggu dengan tegang di ruang tamunya.

Sang Raja menghela nafas dan berkata, "Pierre, ibumu selalu begini bukan?" Dari raut wajahnya beliau terlihat khawatir.

Perlahan aku mengangguk. Sang Raja pun ikut mengangguk, kemudian ia menghela nafas lagi dan menatapku.

"Kamu tahu sejak kapan dia seperti itu?" Tanya Sang Raja.

          Aku hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Sang Raja pun menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, kemudian bertanya, "Kamu sudah tahu bagaimana kehidupannya dulu?"

          Aku hanya menggangguk. Entah mengapa hari ini aku kehabisan kata-kata. Mungkin aku khawatir pada ibu. Tapi, aku tahu kalau Sang Raja lebih khawatir. Dari ekspresi wajahnya yang tegang aku sudah bisa mengetahuinya.

Pierre's PoV ends

○●○●

Wilhelm's PoV

"Pierre, Yang Mulia..." Ma'am Alison keluar dari ruangannya. Aku dan Pierre langsung berdiri.

"Ma'am, mama...mama kenapa?" Tanya Pierre dengan khawatir, tapi aku lebih khawatir.

Ma'am Alison menghela nafas. "Masuklah ke dalam. Tetap jaga ketenangan." Kata Ma'am Alison dengan wajah yang tidak kalah tegang.

          Aku, Pierre, dan Ma'am Hera masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tenang seperti kata Ma'am Alison. Di dalam, tampak Joanne sedang terbujur kaku di tempat tidur dengan wajah pucat, mulut kering, menggigil, dan nafas terengah-engah. Sepertinya penyakitnya tambah parah.

"Ma'am, mama kenapa?" Pierre mengulangi pertanyaan sebelumnya.

           Ma'am Alison menatap Ma'am Hera, kemudian Ma'am Hera mengangguk, kemudian Ma'am Alison keluar. Sambil berbisik kecil Ma'am Hera berkata, "Pierre, sebaiknya kita berikan waktu ibumu beristirahat sekarang". Ma'am Hera merangkul Pierre dan membawanya keluar ruangan dan meninggalkan aku berdua dengan Joanne.

"Joanne..." Perlahan aku duduk di samping Joanne dan menggenggam tangannya yang kurus.

"Wilhelm... Aku sudah tidak punya permata atau apapun itu. Aku...lupakan saja. Lupakan semuanya. Jangan buat Pierre khawatir." Kata Joanne dengan suara paraunya.

"Joanne, Pierre anak yang baik. Dia akan baik-baik saja." Aku mencoba menenangkan Joanne.

"Tidak! Tidak mungkin! Dia, Pierre tidak mungkin bisa tenang saat tahu bahwa ia seharusnya bisa mendapat hidup yang lebih baik! Dia tidak..." Joanne lansung berusaha bangun dari tempat tidurnya dan membanting tanganku yang masih menggenggam tangannya. Sekarang aku harus menenangkannya.

"Joanne, tenanglah." Aku berusaha kembali membaringkannya di tempat tidur. Sekarang nafasnya terengah-engah.

"Pierre... jangan... jangan buat dia khawatir. Dia masih sekolah." Kata Joanne saat ia sudah kembali berbaring di tempat tidurnya.

"Pasti, Joanne. Aku ayahnya." Aku terus mencoba menenangkannya.

          Nafas Joanne masih terengah-engah. Bibirnya juga tampak kering. Aku langsung berinisiatif mengambilkan air putih untuknya. Tapi, mungkin karena kondisinya, ia hanya bisa minum sedikit demi sedikit. Kurasa itu tak apa, selama ia masih bisa minum walau sedikit.

The Legend of the JewelBaca cerita ini secara GRATIS!