Rhythm 1: I Miss You

656 16 2

Waktu: Sekarang.

"Jadi, kalian masih saling diam?" Vari bertanya hati-hati. Aku tahu dia sebisa mungkin tidak ingin membuatku bersedih lagi. Tapi, walaupun frekwensi tersenyumku tidak berkurang, di dalam sana rasanya sakit. Orang bilang, 'Sakitnya tuh disini..!' sambil menunjuk dada dengan ekspresi memelas.

"Ralat Var, tepatnya Nikko yang mendiamkan gue. Sementara gue sudah berpuluh kali mencoba menghubungi lewat telepon, WhatsApp, SMS, email sampai tweet no mention bergaya alay. Well, ya belum dicoba sampai ratusan sih." kataku sambil mengaduk-aduk English Breakfast tea di depanku yang kuyakin seluruh gulanya sudah larut.

Vari tersenyum tipis, "Ya udah, just calm down, my dear. Mungkin Nikko butuh waktu untuk menenangkan diri.

"Dia tenang. Lha, gue? Bingung sendiri gak jelas. Makan gak enak, tidur apalagi. Gue tahu, gue salah. Tapi apa dia gak bisa kasih komentar sedikit, apa gitu. Memangnya kalau dia diam, gue tahu maunya dia apa? Atau mungkin lebih baik kalau dia marah-marah ke gue, adu argumen, saling koreksi, tapi setelah itu masalahnya selesai." Akhirnya aku menumpahkan semua kekesalan yang sudah terlalu lama kupendam.

"Come on! We're not children anymore. Dan gue bukannya niat selingkuh. Gue cuma gak sengaja diajak party sama temen, terus gak sengaja minum kelebihan. Fine, gue sempat setengah ga sadar. Cuma setengah, Var. So, I'm 100% sure that nothing happen that night. Jadi, reaksinya gak perlu berlebihan kayak sekarang kan." Oke, sekarang aku mulai benaran marah ke Nikko. Kesal dengan sikap diamnya yang seperti anak kecil.

"Sabar, Mar. Sabar. Masalahnya gak akan selesai kalau kalian berdua sama-sama emosi. At least, harus ada salah satu yang tetap tenang." Vari berusaha meredam kekesalanku dengan menepuk-nepuk pundakku.

Sembari mendengus, aku menyela, "Sampai kapan, Var? Ini sudah 1,5 minggu lho dia kayak gini. Apa iya gue harus jadi stalker, ngejar-ngejar dia di kantornya, atau nongkrongin depan rumahnya? Hell, No! Cuma orang gak punya kerjaan yang mau begitu. Sorry to say, gue sibuk."

"Jadi, sekarang elo maunya gimana? Elo mau gue yang tanya ke dia? Atau mau gue tanyain lewat sahabatnya? Siapa itu namanya, Danu ya?" Vari mencoba memberi solusi. Entah baik, entah tidak. Biasanya aku dan Nikko tidak suka kalau ada pihak lain yang mencampuri masalah kami. Tapi, yang ini sepertinya memang sudah berlebihan.

"Jangan dulu deh, Var. Biar gue coba sekali lagi. Kalau sampai minggu depan dia masih ngambek. Mungkin gue akan coba minta bantuan Danu. Thanks anyway. Sorry banget jadi bikin elo ikutan repot." Aku memutuskan untuk mencoba lagi sendiri.

"Iya, gak apa-apa. Tenang dulu ya, Mar. Elo diam-diam aja deh sekarang. Coba introspeksi diri lagi. Mudah-mudahan selalu ada jalan selama niatnya baik. Oke!" Vari menghiburku dengan kata-kata biasa yang amazingly bisa sedikit menenangkan.

****

Sesi curhatku dengan Vari sudah berakhir satu jam yang lalu. Tapi aku masih belum ingin kembali ke apartemen. Hei, ini Jumat malam, buat apa aku cepat-cepat kembali ke apartemen? Toh besok pagi aku tidak ada kewajiban masuk kantor.

Jumat malam. Biasanya, aku akan menghabiskan waktu bersama Nikko sampai hampir tengah malam. Tidak ada yang terlalu spesial. Kadang kami menonton di bioskop. Atau sekedar makan malam bersama di warung pinggir jalan favorit kami. Atau saling menemani menyelesaikan pekerjaan di salah satu kafe. Tak banyak bicara, hanya saling duduk berdampingan. Atau mampir ke salah satu coffee lounge yang menampilkan live band. Dalam edisi yang lebih santai lagi, bisa saja aku dan Nikko hanya bermalas-malasan menonton DVD di apartemenku. Tak peduli apa aktivitasnya, intinya adalah menghabiskan waktu bersama pacar tercinta.

Biasanya, aku sering sekali menolak ajakan teman yang membuat acara di malam Sabtu. Aku lebih memilih bersama Nikko daripada hang out dengan teman-teman. Entah kenapa hari ini tidak ada satu pun teman yang mengajakku. Mungkin mereka bosan selalu kutolak berkali-kali. Padahal kalau ada satu saja yang mengajakku hari ini, pasti aku langsung mau. Kenyataan memang kadangkala berbanding terbalik dengan harapan. Ironis!

Aku masih bertahan di pojok Bittersweet cafe dengan segelas Chocolate Mint Milkshake. Berusaha menyibukkan diri dengan sisa pekerjaan yang kubawa dari kantor. Tak guna. Nyatanya sedari tadi aku hanya termenung. Meratapi nasib ditinggal pacar yang kuingat-ingat sepenuh rasa.

Kuraih ponselku yang tergeletak di atas meja. Mari kita coba keberuntunganku sekali lagi. Aku memencet nomor di speed dial nomor 2 setelah nomor ibuku. Tersambung. Lima kali nada dering dan masih tetap tidak diangkat. Sayang, kapan sih kamu berhenti ngambek?

Tak putus asa, aku mencoba keberuntunganku sekali lagi. Kali ini kukirimkan pesan WhatsApp padanya, 'Nik, masih marah? I'm really sorry. What do you want me to do? Can you please pick up the phone? We need to talk.'

Ajaibnya, aku mendapat balasan beberapa menit kemudian. Sumpah mati aku hampir terlonjak kegirangan. Tapi, hanya perlu beberapa detik untuk membuat wajahku bahkan menjadi lebih kelam daripada sebelumnya. This is not the answer that i want!

Aku tidak peduli dengan apa pun pesan balasan darinya tadi. Kubalas mengetik dengan cepat, 'I don't want to. I MISS YOU. We need to talk, please. Atau aku bakal mengejar-ngejar kamu di kantor atau di rumah sampai kamu mau ngomong sama aku.'

Sudah lewat setengah jam dan masih belum ada balasan. Aku putus asa. Mataku mulai panas. Jadi, sebelum airmataku tak terbendung, segera kubereskan barang-barangku. Pulang.

****

Di waktu yang sama, di tempat berbeda. Seorang pria menjadi orang terakhir yang masih bertahan di kantor. Dia tidak melulu sibuk. Sudah lebih dari 20 menit yang dilakukannya hanya memandangi warna-warni lampu kota yang menyorot gedung pencakar langit dari jendela lantai 15. Suasana malam meneriakkan riuh ibukota, mirip dengan riuh suasana hati yang dirasakannya. Ada rindu dan kesal yang menjadi satu.

Mara sudah menghubunginya puluhan kali. Tapi, dia hanya diam. Walaupun sebenarnya sudah puluhan kali juga dia berniat membalas telepon Mara. Dia kangen. Ya, dia kangen dengan suara lembut bernada ceria yang tidak pernah gagal menghiburnya. Sapaan yang selalu mampu mengembalikannya pada kenyataan bahwa dia adalah manusia. Bukan robot yang hanya mengerjakan aktivitas rutin seperti berangkat ke kantor, bekerja, makan, pulang, istirahat dan begitu terus berulang setiap hari.

Bersama Mara, dia terbawa menjadi orang yang lebih menyenangkan. Pembawaan Mara yang ramah dan murah senyum, selalu membuat nyaman orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia masih ingat bagaimana rekan-rekan kerjanya malah asyik mengerubungi Mara di acara family gathering, padahal dia baru kenal Mara saat itu.

Mara membuat hidupnya menjadi seimbang. Tanpa Mara, mungkin dia hanya akan jadi mahasiswa nerd yang tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Hanya Mara yang berhasil menyeretnya makan di restoran ini dan itu, mencoba kafe baru disini dan disana, mendatangi konser-konser musik, menonton film paling baru di bioskop, sampai memperkenalkannya pada sosial media. Hanya Mara yang bisa membuatnya melakukan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Tapi ternyata penting sebagai bahan obrolan apabila dia harus bersosialisasi dengan rekan-rekan kerjanya.

Dia bahkan baru sadar kemarin kalau kulkasnya penuh dengan makanan tak layak makan, saat dia kelaparan dan mulai mengais-ngais apa yang ada di rumahnya. Nihil. Lemari makanannya kosong. Dia lupa kalau selama ini Maralah yang selalu mengatur inventory isi kulkas dan lemari makanannya. Dia hanya tinggal menikmati.

Mara. I MISS YOU too.

Kalau dia rindu, kenapa tadi dia justru mengetikkan kata-kata itu. Berkebalikan dengan apa yang dia inginkan, dia justru membalas pesan Mara dengan 'Let's break!'.

Sungguh dia sedang tak bisa berpikir jernih. Dia perlu tidur.

****

MaKo RhythmBaca cerita ini secara GRATIS!