Satu

237 9 0

Suasana Truth or dare meliputi kelas tujuh-dua. Awalnya aku merasa kasihan karena Cika c.s selalu kalah dalam ToD itu, aku memang jago dalam hal suit dan gambling sih. Lebih baik ngalah, mungkin terjadi hal yang seru.

Oh ya, Cika c.s itu geng  yang ber-isikan 5 orang. Cika, Ratna, Tasya, Lini, dan aku. Setelah berkenalan dengan Legna, mereka merkrutku secara paksa karena geng sebelah juga menginginkanku.

"apa bagusnya seorang Eve? diperebutkan seperti ini" - batinku

----

"Hayo Ve, Truth or Dare?"

"euh.. Dare deh"

aku memilih Dare karena privasi sangat penting bagiku. Toh, palingan yang biasa saja seperti traktiran atau melakukan hal yang aneh.

"kalau begitu.. Tembak Aldo kelas tujuh-dua. bilang kalau lu sayang sama dia"

gulp...

ini sih bener-bener keterlaluan. sayangnya di ToD sekarang gak ada rules yang berlaku. Jadi sah-sah aja.

"o..oke."

dengan langkah gontai aku dan cika c.s menuju kelas tujuh-dua.

"Aldo, aku mau ngomong sama kamu. boleh minta waktunya sebentar?"

"Boleh. Siapa ya?"

"Aku Eve, dari kelas tujuh-satu"

cieeeee....cieeee..

"brengsek, mereka berisik sekali. tau begini aku tak akan mengalah," kataku pelan.

"Aku suka sama kamu"

ehciyeee priwit wiiiwww prikitiewww

mukaku pasti merah padam, ini pertama kalinya aku berinteraksi sama cowok. yaa terkesan culun, tapi sungguh.. sensasinya aneh.

Aldo bersikap cool saja mendengar perkataanku.

"Ja.. Jangan salah sangka ya! aku cuma disuruh dare sama cika c.s"

"hoo.. iya gak apa-apa" - jawab Aldo sambil merekahkan senyumnya.

"Jadi diterima gak nih?"

"ciee Aldo punya fans"

"Jadian.. Jadian.."

"suit suitttt.."

cemoohan itu membuatku kesal dan berjalan ke arah pintu keluar. Tidak lupa aku membanting pintunya dengan keras.

Aku berlari ke arah toilet, bilik ujung kanan. Disitulah spot nyaman yang biasa kutempati untuk sekedar menenangkan pikiran.

Kalau dipikir-pikir, sudah enam bulan ya, aku berteman dengan mereka.

Di sisi asyik, mereka seru kok. Membagi rahasia, tertawa, jalan-jalan, dan lain-lain.

Tapi di sisi pertemanan, semua fake.

Aku sebagai sie. curhat mereka, karena aku sering disebut kubu netral. Tidak memihak siapa pun.

Semua punya keluh kesah pada masing-masing kelompok yang hanya dibagikan kepadaku.

dengan kata lain, aku punya semua kartu As nya.

Tentang Legna? oh, dia masih menjadi temanku, lebih tepatnya tempat curhat sih. Orangnya kalem, bijaksana, dan lembut. Tipe keibuan banget deh. Kadang dikala suntuk dengan obrolan fake cika c.s, aku kabur ke rumahnya untuk sekedar santai dan bergossip. yaah, lebih tepatnya aku saja yg berbicara dia yang mendengarkan dan memberi solusi.

----

Tapi ini sudah keterlaluan, sudah beberapa hari ini aku merasa diperalat dan dihina secara perlahan.

Sejak saat insiden penembakan itu,

mereka minta traktiran yang alasannya gak masuk akal. seperti "nembak Aldo tapi digantungin," mereka menggosip tanpa mengajakku ikutan berceloteh, lalu saat ada kerja kelompok anggotanya harus berkurang satu, aku yang disuruh keluar. Biasanya mereka selalu membelaku untuk tetap ikut. akhirnya aku pasrah ikut kelompok lain.

akhir-akhir ini mereka juga selfie tanpaku, jalan-jalan juga gak ngajak, group blackberry messegner pun ga ada yang chat.

-----

Apa aku melakukan kesalahan?

FaiveBaca cerita ini secara GRATIS!