Chapter 6

107 13 0

“Kamu beli topi, Nduk?”

Aku bengong menatap Bapak, lalu kembali meneruskan menyuapkan sesendok nasi sayur yang keburu terangkat tanpa sempat masuk ke mulutku karena tersela pertanyaan Bapak. Setelah menghabiskannya, aku mendongak. “Nggak, kok, Pak. Ini pinjeman,” kataku sambil menepuk topi putih yang kutaruh di atas tas ranselku yang berwarna sama putihnya. “Nanti mau kukembaliin.”

“Ya udah, terusin makannya.”

Aku mengangguk. Ya, aku tidak lagi takut menghadapi Bapak. Terutama setelah kemarin dulu Bapak minta maaf. Ya mana mungkinlah aku terus-terusan menghindari Bapak. Tidak adil untuk Bapak.

Setelah kami selesai sarapan, Bapak hendak mengantarku ke sekolah, tapi kutolak. Bapak kan mengajar pagi hari ini. Akhirnya, negosiasi kami berakhir dengan diantarnya aku sampai pintu masuk dusun. Setelah kucium tangannya, Bapak segera melajukan motornya ke timur, menuju wilayah Demangan, tempatnya mengajar.

Hari ini, aku keluar rumah lebih pagi. Sejujurnya, jauh lebih pagi. Biasanya setengah tujuh lebih aku baru keluar rumah. Sekarang sih baru jam enam lima belas. Udaranya sangat enak. Duh, tahu begini, aku pasti akan sering berangkat pagi. Terutama dengan topi putih yang sudah bertengger mantap di kepalaku. Rasanya sangat teduh, apa ini ya, alasan cowok suka pakai topi?

Sembari nunggu angkot, aku memperhatikan jalan. Sudah ada beberapa anak sekolah berangkat naik sepeda. Ini hari Jum’at, jadi kami pakai seragam khusus. Sekolahku sendiri seragam khususnya berwarna biru dongker. Makanya langsung ketahuan kalau anak-anak sekolah berseragam khusus warna krem yang barusan lewat itu anak sekolah lain. Aku tidak tahu mereka anak SMP atau SMA, soalnya badge nama sekolah mereka tak kelihatan jelas.

Waktu aku mengarahkan pandanganku ke selatan, kulihat seseorang berkacamata dengan seragam biru dongkernya sedang mengebut naik sepeda BMX yang dipasangi boncengan di ban belakang. Aku langsung mendengus. Pantas saja aku tidak pernah melihat Mas Irul tiap berangkat sekolah. Lah, dia berangkatnya sepagi ini.

Waktu melewatiku, dia sempat melambat dan melirik tajam sebentar, lalu berpaling lagi untuk mempercepat lajunya. Dia bahkan tidak menyapa. Senior menyebalkan!

Sepuluh menit kemudian, datang angkot. Aku langsung menaikinya, dan seketika bersyukur karena berangkat lebih pagi. Tempatnya sangat luang, tidak seperti sehari-harinya aku berangkat siang, selalu penuh sampai-sampai aku terpaksa jongkok.

Setengah perjalanan, aku sempat melihat Mas Irul, ketahuan dari tas ransel hitamnya yang punya banyak resleting. Saat angkot melewatinya, aku melongokkan kepalaku di jendela—tentu saja sebelumnya kulepas dulu topi putih itu agar tidak terbang terbawa angin—lalu menjulurkan lidahku kepada Mas Irul. Alis menyatu dan kedua bibirnya yang samar-samar dimajukan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku puas. Akhirnya, setelah kembali duduk dengan benar, kupakai lagi topi putih itu.

Sebelum angkot belok ke tikungan, aku sempat melihat seniorku itu berbelok masuk ke jalan dusun. Aku langsung mengernyit, mau ke mana dia? Aku tak menyangka kalau dia suka keluyuran sebelum masuk sekolah. Aku langsung menggeleng cepat-cepat. Kurang kerjaan, itu bukan urusanku.

Angkot berhenti di dekat jembatan karena jalurnya menuju barat, sementara sekolahku menuju utara. Jadi, aku harus jalan kaki sebentar. Aku turun bersama beberapa anak yang satu sekolah denganku, yang tak satu pun kukenal.

Aku masuk ke area sekolah lewat jalan belakang, soalnya jauh lebih dekat daripada harus memutar jauh menuju gerbang depan. Terutama karena kelasku letaknya paling dekat dengan pintu belakang yang terhubung langsung dengan lapangan voli. Aku langsung menuruni tangga menuju kelas. Eh, aku tak lupa bilang bahwa kelas 1-D sampai 1-F letak tanahnya sangat turun, kan?

The White Hat [COMPLETED]Read this story for FREE!