The Last Letter

233 16 5

Matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka, Dy tidak bisa berkata apa-apa, yang terucap hanyalah,

“Kenapa…?”

Sambil terisak, melihat lelaki yang wajahnya tidak asing lagi baginya, menatapnya sambil tersenyum sedih. Lelaki itu mengusap air mata Dy yang mulai menetes.

“Kenapa…?” Tanya Dy lagi

“Aku hanya khawatir padamu. Maaf kalau kau membenciku,”

Dy semakin terisak, sejak tadi hanya bisa bertanya ‘Kenapa?’. Tidak ada pertanyaan lain yang keluar.

“Disini ramai sekali, bagaimana kalau kita duduk disana?”. Ia meraih tangan Dy, lalu menuntunnya menuju bangku dari batu yang dipahat yang ada di ujung pintu masuk stasiun.

Hening.

“Kenapa… kenapa kau melakukannya?”

“Aku khawatir padamu,”

“Tapi…”

Dy  menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Mau ku antar pulang?”

Dy mengangguk.

Mereka kemudian pulang dengan bus. Dy meminta untuk tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke taman yang ada di sekitar Park’s Road. Hanya ada beberapa orang yang lewat, mungkin karena hari Senin. Dy meluruskan kakinya yang lelah karena terlalu lama duduk di bus, mengelilingi dari peron ke peron membuatnya benar-benar lelah.

“Terima kasih,” kata Dy,

“Tidak perlu berterima kasih.”

“Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa, aku…”

Hening.

“Terkadang hidup itu seperti bunga dandelion. Angin akan menerbangkanmu kemanapun ia mau, bukan kehendakmu, dan mau tidak mau, kau harus bertahan hidup kemanapun kau terdampar.”

Dy terdiam, terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, “Kau benar,”

“Terkadang juga, kita seperti Bumi dan Bulan, ada di saat kita harus aphelium (jauh), ada di saat kita perihelium (dekat). Dan itu sudah menjadi hukum alam, kan?”

“Aku tidak percaya kau akan mengatakan itu,” kata Dy antusias, ia tersenyum.

“Jangan sedih lagi, ya. Aku tidak bisa kalau melihat perempuan sedih, benar-benar tidak bisa.”

“Bagaimana aku tidak sedih, kalau temanku pergi? Aku tidak sejahat itu.”

“Hanya teman?”

“Sebenarnya, aku menganggapnya lebih dari teman.”

“Lalu?”

“Aku juga sayang padanya, dan ia juga pasti sayang padaku.”

“Dan kau berpikir hanya dia yang sayang padamu?”

Dy terdiam, “Iya,”

“Maaf kalau aku lancang, tapi kau salah.”

“Maksudnya?”

“Aku akan benar-benar membencinya, jika ia yang membuatmu lupa, kalau kau masih punya ibu, adik, keluargamu yang lain, bahkan teman-teman sekolahmu, yang juga menyayangimu.”

Dy kaget. Ia mengerti apa yang baru saja didengarnya. Ia sadar saat itu juga,

“Maafkan aku. Aku bahkan melupakan hal terbesar dan terbaik yang pernah aku miliki.”

Scarlet Letter (Not Greyson's Love Story)Baca cerita ini secara GRATIS!