Prolog

157 2 0

Gadis itu medongkak, menatap kearah langit yang bertabur bintang di tengah gelapnya malam. Hari itu, di atas sebuah bukit yang tak jauh dari tempatnya tinggal, di atas kursi roda dan sebuah topi kupluk yang menutupi kepalanya, gadis itu menatap kearah langit dengan tatapan yang sulit di artikan.

            Gadis itu terdiam, cukup lama. Memikirkan sudah berapa banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya yang singkat itu. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya, terlalu banyak hingga gadis itu rasanya ingin tersenyum dan menangis dalam waktu yang bersamaan.

            Bahkan sekalipun langit itu berwarna hitam kelam dan gelap, tapi cahaya bintang dan bulan akan mengimbanginya. Sekalipun hati gadis itu akan selalu mengenang si pria itu, tapi gadis itu hanya bisa berharap bahwa pagi akan datang dan matahari akan menggantikan posisi bintang dan bulan di hatinya.

            Aa… Kinan, kau selalu menjadi gadis yang lemah. Seorang gadis yang tidak bisa menolak keinginan seseorang dan seorang gadis yang lebih senang pasrah dengan keadaan. Bahkan sekalipun kedua kakinya kini tak bisa ia gunakan untuk berlari kencang seperti dulu, tapi di dalam hati dan pikirannya, gadis itu masih bisa berlari kencang menuju ke sebuah pintu di dalam hatinya.

            Pintu yang akan membuka masa lalunya.

*

Holla...!!! ^^

Jujur, ide cerita ini hanya sepintas. Entah seperti apa jadinya nanti tapi ya... Selamat membaca! Vote & komen jangan lupa ya! Saya menerima kritik dan saran dengan lapang dada kok! Hahaha...

Thank You!

Bintang, Bulan dan MatahariBaca cerita ini secara GRATIS!