Bab 1a

88 1 0

Senja sore itu tampak begitu indah.Aku duduk memeluk tubuhku menatap senja yang hampir tenggelam.Bunga-bunga dandelion bertaburan menerpa wajahku.Dress selutut berwarna pink tosca yang ku kenakan sudah tampak berantakan.Bagian ujungnya sobek terkena gesekan aspal dan juga tanah menempel menghiasi dress yang ku kenakan.Aku menatap sendu hamparan danau didepan mataku.Dulu aku sering menghabiskan waktu berdua dengan seorang yang sampai saat ini masih mengisi hatiku.Dan disini juga kami berpisah.Aku juga tidak tahu apa salah ku terhadap tuhan.Disaat aku menerima lamaran darinya,Tuhan memberikannya bidadari lain.

ªªª

            Hari ini aku sedang disibukkan dengan acara kemas-kemas ku.Malam nanti aku akan flight ke Indonesia.Kemaren aku baru saja mendapat gelar sebagai master Managamen Perusahaan disalah satu universitas Singapore.Aku melirik sebentar kearah handphone ku,bibirku menyunggingkan senyum,dengan cepat aku mengangkat telephone dari seseorang yang memang sangat aku tunggu-tunggu.Sudah hampir seminggu ini dia tak memberi kabar dari ku.Aku sedikit berharap bahwa itu trik untuk membuat surpise kedatangannya saat aku wisuda kemaren,ternyata semua harapanku pupus.

                        “Halo.”

            Aku sedikit mengubah nada bicaraku dan berbicara seadanya agar dia tahu betapa kecewanya dan juga kesalnya aku.

                        “Halo sayang,kenapa nada bicaramu berubah?hey,kenapa kau tak secerewet sperti biasanya jika ku telephone?.”

            Aku bergeming,aku mendengar baik yang dia ucapkan.Aku terkekeh dalam hati,aku mampu menangkap kekhawatiran darinya.Dia pria yang berbeda,berbicara dengan kekasihnya sama saja dia berbicara dengan orang lain.Nada bicara yang dingin itu seolah-olah dia tak membedakan dengan siapa dia berbicara.

                        “Ayolah,kamu denger aku ngomongkan?.Kenapa diam saja?.Aku tahu aku salah,seharusnya aku tepatin janji aku untuk datang kemaren.Aku minta maaf,jangan diam terus dong,aku bisa jelasi…”

                        “Aku flight nanti malam jam 7,aku tunggu kamu di bandara.”

            Setelah berucap seperti itu aku langsung memutuskan sambungan telephone,aku tak peduli seberapa banyak dia memakiku disana.

Senja Sore Itu Tampak Begitu IndahBaca cerita ini secara GRATIS!