--bohong, maaf

23 4 0

HARI senin kembali tiba, devi bangun kesiangan, mungkin karena pengaruh kegiatan LDKS yang baru selesai pelaksanaannya kemarin

Devi berlari, bulir bulir keringat turun membasahi pelipisnya, ia menghembuskan nafasnya saat ia sudah sampai di depan gebang sekolahnya yang sudah ditutup beberapa menit yang lalu, ia sama sekali tidak melihat tanda tanda keberadaan pak udin, satpam sekolahnya

Saat devi sedang menunggu, ia melihat kearah siswa siswi sekolahnya yang sedang melaksanakan upacara bendera dengan hikmat, tapi tiba tiba saat devi sedang asik menyenandungkan lagu 'Indonesia Raya' ia melihat devano datang bersama dengan rangga, devano merangkul rangga

"hai dev!" sapa dua lelaki tersebut "hai" sapa devi balik sambil tersenyum, namun ia merasa bingung, karena setau devi, rangga dan devano tidak sedekat itu "oh lu bingung ya kenapa kita bareng? Gini nih, kita kan anak osis, anak osis itu?" tanya rangga seolah ia tau apa yang ada dipikiran devi

"keluarga" jawab devano, mereka saling bertatapan, hal tersebut membuat devi merasa aneh dengan situasi ini "yoi, hahaha, woi sumpah najis banget dah, udah ah" rangga mendorong devano menjauh

"hei sans men, jangan push push aku" sahut devano dengan tawanya, devi yang menyaksikan hal tersebut pun ikut tertawa, ia merasa devano tidak seperti devano yang ia kenal, dan ia ingin devano selalu seceria ini dan tidak terus terusan menatapnya dengan tatapan tajam

"eh eh, baydewey nih ya, emangnya lu pada masih mau sekolah? gue sih no ya, gue udah kayak males banget buat nungguin ni gerbang di open sama pak udin, lagian juga kemaren tuh kita baru selesai LDKS, aku tuh so tired" kata devano seperti cewe cewe alay  di sekolah mereka

"woi dev, udah ah, lu kayak cabe tau ga si? Jijik gue dengernya" rangga menatap devano jijik "iya deh, jadi gimana?" tanya devano kembali menggunakan suaranya aslinya

"aku mau" jawab devi tanpa ragu "sumpah ni cewe, berani juga lu! Padahal baru jadi osis lohh" kagum rangga "tau ih, kenapa? Tumben amat dah, biasanya lu kan selalu rajin, dateng juga pagi pagi terus" lanjut devano "eumm, ya aku males aja, abisnya aku belom kerjain tugas padahal gurunya killer, udah gitu aku males juga, eh jangan deh, gajadi" ralat devi sambil tersenyum kikuk

"yeileh, bocah labil" devano menoyor kepala rangga "lah napa jadi gue dahh?" kesal rangga tidak terima "dia cewe, kasian gue, jadi lu aja dah" devano terus tertawa tidak henti, hal tersebut membuat devi dan rangga ikutan tertawa

"eh, ada kalian toh" pak udin datang dan membukakan gerbang sekolah untuk ketiga orang yang sedari tadi mengobrol "iya nih pak" jawab rangga "masuk masuk" pak udin mempersilahkan devi, devano, dan rangga masuk "makasih pak" kata ketiga remaja tersebut bersamaan

-Deviana-

Devi berjalan malas, ia berhenti di depan sebuah ruangan lalu menatap papan diatas ruangan tersebut yang bertuliskan 'ruang osis', perlahan devi membuka kenop pintu tersebut setelah mengetuk pintunya

Di dalam, sudah ada senior dan anak anak osis yang lain "wiii, devi dateng jugaa!!" seru rangga yang berdiri di sebelah raynand, raynand menatap rangga tajam "dev, nanti abis dari sini jangan pergi dulu ya, ada yang mau diomongin" bisik rangga, devi hendak bertanya namun ia urungkan niatnya saat melihat raynand melangkahkan kakinya ke tengah ruangan, hendak membuka rapat perdana osis

"jujur, siapa yang membocorkan kegiatan LDKS kita seperti apa?!" tanya raynand dengan nada sarkastik setelah rapat selesai dilaksanakan "kami sudah bilang sebelumnya, jangan pernah ada yang bocorin hal ini!!" kesal raynand

DevianaRead this story for FREE!