Sepuluh

14 8 0

Langit dikamar nya remang. Tidak begitu jelas tetapi Mutiara masih dapat melihat seperti apa bentuk plafon apartemennya ini.

Setelah bepergian tadi, Mutiara memutuskan kali ini untuk bermalam di apartnya. Padahal baru semalam dia pindah ke rumah Dirga. Tidak sopan, tapi kali ini Mutiara betul-betul ingin sendiri sekarang juga. Entah apapun itu, tapi Mutiara sudah memutuskan --- hanya untuk hari ini saja.

Tes

* * *

"Kenapa harus ke gunung pa? Gak biasanya? Terus kenapa harus di hari kuliah gini, emangnya gak bisa di hari libur aja?" Tanya Mutiara bertubi-tubi sembari memasukkan koper terakhir mereka ke dalam mobil.

"Emang kenapa? Papa takut pas kamu libur malah papa yang gak ada waktu" jawab Riyanto dengan senyuman. Mutiara ikut tersenyum, dia tahu ayahnya selalu menyisihkan sedikit waktunya demi keluarga.

"Sayang, ayo naik" ucap ibunya, Mutiara mengangguk sembari memasuki mobil hitam tersebut.

* * *

Mutiara terbangun dari tidurnya, matanya mencari cari keberadaan waktu saat ini, jam 01.00 AM.

Selalu seperti ini, entah kenapa gadis itu hanya bisa mengingat bagian ingatan tersebut, tetapi saat kejadian itu terjadi, jalankan mengingatnya --- seperti apa gambarannya saja dia tidak tahu.

Yang di ingatanya hanya saat dirinya terbangun dari tidur dan mendapati leher dan kepalanya terasa sakit. Saat itu waktu berjalan begitu cepat, dan pamannya datang memberitahukan Mutiara kalau kedua orangtuanya telah meninggal.

Sulit di percaya memang, tapi itulah kenyataan. Mutiara berdiri dari tidurnya dan melangkah menuju dapur hingga pengelihatannya menangkap Morgan sedang duduk melipat kaki.

Mutiara tidak peduli, dan melewati Morgan begitu saja.

"Aku tidak percaya seseorang menyuruhku untuk menjemput kakak begitu sampai di rumah" curhat Morgan sembari memasukkan kentang goreng yang entah sejak kapan ada disitu. Mungkin Morgan membelinya dalam perjalanan ke apart.

Mutiara ikut mendudukkan dirinya di hadapan Morgan, tampaknya wajah pria tampan itu sangat kusut. Mungkin tidak tidur malam? Atau apapun itu.

"Kak Dirga emang suka gitu, tapi aku memang benar-benar ingin sendiri sekarang. Tanpa ada yang mengganggu"  jawab mutiara seadanya.

Morgan mendengus. Kalau dipikir-pikir dia tidak tahu banyak dan tidak terlalu mengenal Mutiara, karena pada dasarnya Morgan sendiri baru tahu sang ayah punya saudara. Setidaknya itu saat  Mutiara bermain ke Bogor, kalau Morgan tidak salah saat dia baru duduk di kelas SMP. Saat itu Mutiara sudah hampir lulus dari SMP.

"Jadi? Misiku kali ini membawa mu pulang. Ayo nona, kita pulang dan biarkan aku tidur nyenyak di kasur empukku" ucap Morgan tanpa menerima penolakan sedikitpun dari gadis tembaga itu.

Mau tidak mau Mutiara menggangguk dan melangkah ke kamarnya berniat mengambil tas kecilnya.

Morgan berdiri dari duduknya, merenggangkan badannya. Punggungnya sudah amat sakit sedari tadi menunggu Mutiara bangun dari tidur.

Berapa jam dia duduk?

Wah, hebat dia duduk di kursi itu selama 4 jam. Dalam hati, pria itu memuji dirinya sendiri bisa tahan duduk selama itu ditemani kentang goreng. Tidak mungkin Morgan salah, buktinya punggung pria itu terasa sakit.

LonelyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang