Epilogue

18.1K 2K 187

Biar kalian semangat, nih nih~

---

“Jas udah dibawa?”

“Ada di dalam mobil.”

Laptop?”

“Aman.”

“Ada yang kelupaan lagi nggak?”

“Iya, Sayang. Udah.”

“Yakin?”

Sambil membenarkan dasi, gue mengganggukkan kepala. Dagu gue sedikit naik untuk memastikan apakah posisi dasinya sudah pas atau belum, tapi tiba-tiba badan gue ditarik untuk menghadap ke kanan.

“Kamu sih ditawarin, malah sok nolak,” ledeknya, tapi satu senyum terukir jelas di bibirnya sementara dua tangan sibuk membenarkan dasi gue.

“Gini-gini usaha tahu, Ra.”

“Udah lumayan rapi sih, Mas, tapi tetap nggak sebagus aku.”

So, can I get my present?

Adira mentap gue dengan alis yang sedikit naik, tangan menepuk dada gue, tapi dia menggeleng. “No.”

“Kan aku udah usaha, masa iya nggak dapat apa-apa?”

Sebenarnya, mau gue mengomel pun, itu tidak akan berpengaruh pada Adira. Tapi paling tidak dia tersenyum, dan itu sudah cukup buat gue.

Happiness isn’t about getting something big and special, but it’s about what you can do, even in the simplest way, to make your special one happy.

Melihat Adira yanng tersenyum membuat gue ikut melakukan hal yang sama. Adira menjauhkan tangannya setelah meninggalkan satu tepukan di pundak gue. “Sukses buat presentasinya, Mas Andra. I know you’ve done your best.”

“Doain aku, ya, Ra? Semoga kerjasama bareng studio itu diterima.”

“Selalu, Mas. Selalu.”

Tidak banyak yang terjadi dalam hidup gue, tapi satu hal sederhana membawa banyak perubahan. Dengan adanya Adira di samping gue, gue tahu yang gue miliki bukan hanya seorang istri, tapi seseorang yang akan selalu mendukung gue, bagaimanapun hasilnya. Seseorang yang selalu bisa gue jadikan rumah.

Adira Sastradinata.

“Kalau gitu aku berangkat dulu, ya?” kata gue pamit.

Adira mencium tangan gue, mengangguk pelan, dan gue balas dengan kecupan di keningnya. “Hati-hati, Mas.”

“Siang nanti aku ke kantor, ya? Kita makan siang bareng.”

“Oke.”

Gue mengelus rambut Adira, kemudian melangkah keluar dari pintu rumah. Tapi baru saja beberapa langkah, Adira tiba-tiba memanggil, membuat gue memutar tubuh dan berbalik ke arahnya.

“Mas Andra.”

“Iya?”

Dia melangkah mendekat, merogoh sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya ke arah gue. Ada kotak persegi panjang kecil berwarna cokelat yang dia tunjukkan pada gue. “Hadiah.”

Anniversary masih minggu depan padahal,” kata gue, dan anggukkan kepala Adira menyetujui ucapan gue.

“Tadinya mau aku simpan sampai minggu depan, tapi sekarang aja deh,” balasnya. Gue membuka kotak itu, menatap apa yang ada di dalamnya.

“Adira...”

“Biar kamu semangat.”

Adira justru tersenyum lebar, sementara gue masih belum bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Yang Adira berikan ini bukan hanya sekadar hadiah. Tapi lebih dari itu.

“Gimanapun hasilnya hari ini, kamu tetap seseorang yang membanggakan, Mas.” Satu langkah dia ambil untuk mendekat, masih dengan senyum yang sama, dan suara yang nyaris berbisik. “Congrats, Mas.”

Langsung gue peluk dia, seerat yang gue bisa, berusaha untuk tidak berteriak karena kebahagiaan yang Adira berikan pada gue pagi ini, tanpa gue duga-duga. “Serius kan ini, Ra? Aku benar-benar jadi Ayah sekarang?”

You are.” Adira ikut memeluk gue, bisa gue rasakan kepalanya mendarat dalam rangkulan gue. “Congrats for being a father.

“Bisa nggak sih hari ini aku nggak ngantor? Pengen sama kamu aja.”

“Ih, nggak. Harus kerja.”

Gue tertawa begitu aku menepuk punggung belakang gue. Kalau sudah begini sih, jelas tidak boleh. Tapi gue juga tahu, gue harus bekerja. Sekarang gue punya tanggung jawab baru yang harus gue emban.

“Kayaknya aku lupa sesuatu deh,” kata gue, melonggarkan pelukan dan menatap Adira.

Dia balik menatap gue. “Apa, Mas? Mau aku ambilin?”

Gue menggeleng, tersenyum. “Nggak perlu kok, Ra.”

And then, I kiss her. []

🔐

PYUHHH. Akhirnya kelar manteman. Betul-betul kelar. Terima kasih buat semua support kalian. Manis-manisnya Andra Adira aku keep dulu ya, gimana keluarga mereka nanti, bakal ada di versi cetak, plus sedikit sisi khusus dari orang-orang di sekeliling mereka.

Selama perjalanan dari awal sampai akhir, gimana nih? Coba dong kasih penilaian buat cerita ini, dan apa yang kalian harapin di versi bukunya?

Nggak bisa berhenti buat bilang terima kasih banyak sama kalian. Pengalaman baru banget bisa selesaiin ini dan bisa kenal kalian-kalian.

Selanjutnya aku bakal fokus di akun pribadiku dan selesaiin spin-off buat Reza sama Izza dan cerita lainnya. Silakan main ke akun ArataKim dan rusuh rame-rame, aku ada buat beberapa cerita yang semoga bisa menghibur kalian.

Ketemu lagi di tempat lain, gaes. Salam cinta buat kalian yang jadi mak comblangnya Andra dan Adira.😚😚

P.s: bonusnya bakal apa aja sih? Nih aku kasih satu bocoran hasil obrolan aku ama dua kang rusuh penginspirasi

s: bonusnya bakal apa aja sih? Nih aku kasih satu bocoran hasil obrolan aku ama dua kang rusuh penginspirasi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang