Bab 14

546 33 2

Ustad in love

Bab 14

.
.
.

(Warning : Typo, absurd, segala hal yang kutulis di dalamnya tidak ada niat untuk menyinggung pihak manapun.)

.
.
.

~Percayalah, ini hanyalah kisah sederhana antara aku, kamu, dan juga waktu.~

.
.
.

Semua masa itu selalu berhubungan. Masa lalu, masa kini, serta masa depan. Dirimu di masa kini terbentuk oleh masa lalu. Begitupun masa kini yang akan membentuk masa depanmu. Ketiganya adalah satu kesatuan.

Setidaknya itulah yang Hasbi yakini. Sorot matanya begitu dingin seiring langkah ringannya di sepanjang kloridor kampus. Malam tadi seĺepas mengerjakan shalat tahajud, Ia setia terjaga hingga sang fajar menyapa, bersinar dengan terangnya. Juga berbanding terbalik dengan suasana hati pemuda adonis tersebut.

"Kya.... Kak Mh......"

Mata elangnya melirik sekumpulan mahasiswi yang tengah histeris tak jauh dari posisinya. Mendengus pelan dan memutuskan untuk berlalu. Terlalu malas meladeni orang-orang yang menurutnya tidak penting.
Senyum tipis kini terpatri di bibirnya saat manik arangnya menangkap sosok gadis yang kini mulai menggelitik hatinya. Khanabi khafiya, gadis bermata coklat meneduhkan yang tampak serius membolak-balikkan lembaran kertas di tangannya.

"Pagi." Sungguh, Hasbi mengutuk kata yang terlontar begitu saja dari bibirnya. Kenapa pula kakinya melangkah tanpa sadar mendekati gadis itu?

"Pa- pagi juga, Kak Hasbi." Balas Kenbi meski dengan senyum canggung.

"Hn."

"Kak?"

Hasbi mengernyitkan dahinya saat Kenbi kini mendongak, menatapnya penuh kebingungan dengan raut menggemaskan yang sungguh, membuat Hasbi ingin mencubit pipi cyuby itu. Dan tanpa sadar bibirnya melengkung, membentuk senyum tipis.

"Bantuin ngerjain ini."

Dan detik itu juga senyum Hasbi lenyap, terganti dengan wajah datar saat Kenbi melanjutkan kalimatnya, tak lupa menyodorkan kertas tadi dan juga dengan tatapan memelas.
Tanpa sepatah katapun, Hasbi berlalu.

"Kok Kenbi di tinggal?" Tanya gadis itu kesal namun tak urung segera menyusul Hasbi, bahkan berlari kecil hingga langkah mereka sejajar.

"Kak, kok kakak bisa kenal Kak Fandi sih?"

Hasbi berhenti dan menatap Kenbi bingung.

"Kado yang kemarin kakak kasih itu dari kak Fandi?"

"Hn."

"Beneran?"

"Hn."

"Kenapa bisa ada sama ka-"

"Dia yang menitipkannya padaku." Potong Hasbi seraya melirik jam di pergelangan tangannya. Gawat, sepuluh menit lagi kelasnya di mulai.

"Engg kakak beneran  kenal kak Fandi?"

"Hn."

Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!