13. Perjuangan

286 26 3


"Fighting for something is difficult, but still fight to get the best results."

🌞🌞🌞

"Oh iya, gue baru ingat loh kalau gue pernah ketemu sama Fatur dan Nino di kafe waktu itu, dan cowok yang lagi bareng mereka pasti lo kan?!" seru Ariana dari seberang sana tampak semangat, tanpa mengetahui jika Kevan terdiam setelah mendengarnya.

"Kok pas gue bilang sama mereka tentang itu, mereka malah kayak gugup trus ngelarang gue ngasih tahu ke orang lain tentang kalian sering main band di kafe?"

Mereka itu tolol atau gimana sih?! batin Kevan kesal kepada kedua temannya yang terlalu ceroboh.

"Halllooooo, ada orang nggak sih? Van? Gue kayak ngomong sendiri deh," kata Ariana dengan menaikkan sedikit tingkat suaranya karena merasa sedari tadi dirinya berbicara sendiri saja, tanpa ada sahutan dari Kevan.

Kevan menaikkan bola matanya ke atas pertanda ia malas, walaupun ia tahu bahwa Ariana tidak bisa melihatnya. "Gue tutup dan jangan pernah nelpon gue lagi!"

Setelah mengatakan itu, Kevan lebih dulu mematikan sambungan telepon, lalu cowok itu menaruh ponselnya di nakas dan merebahkan badannya di tempat tidur. Ia memejamkan mata mencoba membawa dirinya ke alam mimpi.

♡♡♡

Seorang cowok lagi-lagi membuat ramai parkiran karena kedatangannya yang lumayan cepat. Tampak cewek-cewek murid SMA Pramuditha memandang cowok itu dengan binar dan terkagum-kagum, sedangkan para cowok berdecih melihatnya

Cowok dengan kemeja dikeluarkan itu melepaskan helmnya sehingga menampakkan rambutnya yang terlihat berantakan. Setelah itu, dia turun dari ninja hitam miliknya membuat cewek-cewek yang tadinya berkumpul memperhatikannya kini berjalan menjauh tapi mereka tetap mencuri-curi pandang kepadanya. Mereka bukan di usir oleh Kevan karena memperhatikan cowok itu. Sama sekali bukan, tetapi tatapan cowok itu yang setajam elang dapat membuat mereka meleleh sekaligus membuat mereka ketakutan dalam waktu sekejap.

"Hai Kevan!" sapa seorang cewek dengan rambut sepunggung berwarna cokelat yang kini sedang berlari-lari kecil agar bisa menyamakan langkahnya dengan Kevan. Kevan menoleh, setelah mengetahui bahwa cewek itu adalah Ariana ia lagi-lagi memutar bola matanya searah jam dua belas, ia mulai jengah karena akhir-akhir ini cewek yang bernama Ariana itu suka sekali mengganggunya, mengikutinya setiap langkah kemana pun ia pergi seperti anak ayam yang sedang mengekori induknya, bahkan sampai di toilet cowok pun diikuti, cewek itu akan menunggunya di depan pintu sampai dia keluar. Memang sinting dasar, entah jin, setan atau makhluk apa yang telah memasuki cewek-cewek yang melihatnya sehingga membuat mereka begitu menyukainya dan tergila-gila kepadanya.

"Kok kemarin teleponnya dimatiin gitu ajah sih?" tanya Ariana sambil mengerucutkan bibirnya. Kevan tidak menanggapi cewek itu dan hanya terus berjalan dengan langkah yang dua kali lebih besar membuat Ariana susah mengejar cowok itu karena kakinya yang pendek.

"Tungguin Van," teriak Ariana berupaya menyamakan langkahnya dengan Kevan. Tapi, cowok itu tambah mempercepat langkahnya membuat Ariana kewalahan.

Ariana berhenti memilih tidak mengikuti Kevan lagi. Dia hanya bisa menatap sendu punggung Kevan yang pelahan menjauh hingga menghilang masuk ke dalam kelas.

♡♡♡

Baru kali ini Ariana merasa pelajaran olahraga sangat menyenangkan daripada hari sebelum-sebelumnya, karena hari ini Pak Abdullah tidak masuk sehingga pelajaran olahraga mereka akan digabung dengan kelas XII. 1 yang berarti kelasnya akan bergabung di kelas Kevan.

Memory Of The PastRead this story for FREE!