CHAPTER 12 : HARDSHIPS

375 48 2
                                                  

Jinhwan menutup mulut dengan kedua tangannya, sangat terkejut mendengar lamaran tiba-tiba dari kekasihnya itu.

"Hanbin-ah..tunggu..aku..aku..apa tidak seharusnya kita memikirkannya lagi? Bukankah ini terlalu cepat?" Jinhwan menjawab dengan gugup.

"Kau masih perlu waktu untuk berpikir? Baiklah..aku akan menunggu jawabanmu, Nuna..tapi kumohon jangan terlalu lama" wajah Hanbin terlihat sedih mendengar jawaban Jinhwan, membuat gadis itu seketika merasa bersalah.

"Ayo pulang..aku tidak ingin kau sakit karena udara dingin, Nuna.." Hanbin meraih tangan Jinhwan dan menggandengnya sambil berjalan menuju tempat mereka akan bermalam.

"Tunggu..kita bicara sebentar.."Jinhwan menarik lengan Hanbin.

"Di rumah saja bicaranya, disini dingin.." jawab Hanbin sambil tersenyum lalu memakaikan penutup kepala hoodie yang dipakai Jinhwan.

"Disini saja, kumohon..aku akan menjawabnya sekarang.."

Hanbin menghentikan langkahnya lalu berdiri menghadap Jinhwan sambil menunggu dengan cemas jawaban apa yang akan diberikan gadis itu.

"Sebelumnya, aku ingin memperjelas sesuatu dulu.." Damn..ini seperti dejavu bagi Hanbin, dulu juga dia menghadapi situasi semacam ini saat meminta Jinhwan menjadi kekasihnya.

"Hanbin-ah..kau memintaku menikah denganmu, lalu apakah kita juga akan menyembunyikan pernikahan kita seperti kita menyembunyikan bahwa kita adalah pasangan kekasih? Kau terikat kontrak dengan YG untuk tidak berkencan lalu sekarang kau malah ingin menikah? Kalau kau melamarku karena mengkhawatirkan perasaanku, aku katakan padamu bahwa aku sungguh baik-baik saja dengan hubungan diam-diam kita yang seperti ini, aku tidak akan menuntut lebih karena aku tahu sejak awal inilah resiko yang harus aku terima jika aku berpacaran denganmu..aku bisa menunggu hingga beberapa tahun ke depan sampai larangan berkencanmu dicabut, tidak masalah bagiku.."

"Kita tidak akan menikah sekarang, Nuna.."

"Maksudmu? Lalu kenapa tadi melamarku?" Jinhwan bertambah bingung dengan kata-kata Hanbin barusan.

"Bertunangan..3 tahun dari sekarang baru kita menikah..bagaimana jika begitu, calon istriku?" Hanbin tersenyum begitu tampan.

Jinhwan tampak berpikir sebentar, lalu menjawab dengan senyum malu-malu menghiasi wajahnya, "Kalau begitu..jawabanku adalah..iya, aku mau menikah denganmu, Hanbin-ah.."

Hanbin memeluk tubuh mungil Jinhwan dan sedikit mengangkatnya ke udara lalu memutarnya sekali, membuat gadis itu memekik kaget.

Setelah menurunkan Jinhwan, Hanbin meraih tengkuk Jinhwan dan meyatukan bibir ranumnya ke bibir tipis Jinhwan, melumatnya dengan penuh cinta, meluapkan perasaan bahagianya karena Jinhwan menerima lamarannya.

"Terima kasih..Aku mencintaimu, Jinanie..sangat.." bisik Hanbin sesaat setelah melepas ciuman mereka karena Jinhwan mulai kehabisan napas.

Dengan sedikit terengah, Jinhwan menjawab Hanbin, "Aku mencintaimu, Hanbinnie..sangat mencintaimu.."

.

.

.

.

Keesokan harinya, mereka kembali menyusuri pantai sambil bergandengan tangan, menghabiskan waktu bersama sebelum kembali ke Seoul. Jinhwan menatap cincin di jari manis sebelah kirinya yang semalam dipakaikan Hanbin untuknya. Rasanya tak percaya dia kini sudah bertunangan dengan kekasihnya, benar-benar seperti mimpi. Dia mengambil ponselnya lalu meraih tangan Hanbin yang terpasang cincin seperti miliknya, mengambil beberapa foto yang memamerkan tangan mereka dengan cincin yang melingkar indah di jari manis keduanya. Hanbin hanya pasrah dan tertawa geli melihat tingkah Jinhwan.

BINHWAN -LOVE OF MY LIFE-🔚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang