4

73 18 2
                                                  

Aku menghela nafas panjang dan sesekali melirik Jimin yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya menuju sekolah.

"Chim..." panggilku lirih.

"Hm?" Jimin masih fokus ke depan.

"Kemarin kamu kemana?" aku menggigit bibir bawahku. Sebenarnya aku ragu mengatakanya.

"Ngga jelas omonganku kemarin?" ucapnya datar.

"Bukan, maksudku kamu kemarin kemana? sama siapa?"

"Jenguk nenek di Daegu sama Papa" aku lega mendengar jawabannya. Ternyata aku hanya salah paham, jadi yang kemarin aku lihat di wahana itu bukan Jimin. Mungkin aku terlalu mengwatirkanya sampai-sampai berhalusinasi melihatnya.

Setelah tigapuluh menit lamanya, akhirnya kami sampai di sekolah. Kami berjalan menyusuri koridor dengan tanganku yang menggandeng erat lengan kiri Jimin, seolah tidak boleh hilang. Menghiraukan tatapan murid yang memandang kami iri. Setelah di ujung koridor yang bercabang kamipun berhenti. Namun, tanganku masih setia di lengannya.

"Aku duluan ya, Chim" aku tersenyum menatap Jimin. Dia hanya mengangguk menjawab.

"Nanti istirahat, aku ke kelas mu ya" dia mengangguk lagi.

Akupun melepaskan peganganku dan berjalan ke arah kiri dan sesekali menengok kebelakang berharap Jimin masih berdiri disana dan menatapku. Tapi, kenyataanya Jimin berjalan menjauh ke arah yang berlawanan. Aku rasa ekspetasiku terlalu berlebihan.

Aku sampai di kelasku. Melihat tiga sahabat lucnutku yang sibuk tertawa.

"Woy, pagi-pagi udah pada nggosip aja" kataku sontak membuat mereka menatapku. Aku duduk di kursiku.

"Eh Gi, lo tahu ngga Wendy abis di tembak sama Suga lho~" ucap Joy dengan senyum tengilnya. Wendy menatap sahabatnya itu jengah.

"Masa sih? yey temen gue ngga jomblo lagi" ucapku girang. Membuat tangan Wendy menjitak kepalaku. Aku hanya meringis sedikit tapi tak menghilangkan girangku.

"Apaan sih, lagian ngga gue trima" Wendy bersandar pada kursinya.

"Lha kenapa? dia lumayan kok"

"Dia kan seleranya tinggi contohnya kaya Chanyeol exo gitu" ucap Irene dengan nada menyindir.

"Bukan gitu, tapi lho tahu kan dia itu player" acap Wendy.

"Alah, lo nya aja yang sok jual mahal" ejek Joy.

"Dari pada lho murahan" ejek Wendy tak mau kalah.

"Eh, gue murahan juga barang-barang gue branded semua" jawab Joy.

"Terserah lo konglomerat" ucap Wendy yang sudah jengah.

"Tapi gue rasa Suga serius sama lo, Wen" Irene bersuara.

"Bener, dia juga sering nganterin lo pulang kan?" aku menambahkan.

"Udah ah, mendingan kita ke perpus, ada buku yang mau gue pinjem" Wendy beranjak dari duduknya.

"Najis, alibi sih alibi tapi yang berkelas sedikit kali, ke kantin kek mana kek" ucap Joy yang ikut berdiri.

"Diem lu babi" Wendy memukul lengan Joy yang di balas dengan jitakan di kepala. Aku dan Irene hanya menggelengkan kepala melihat mereka yang hampir setiap hari seperti itu.

Kamipun akhirnya keperpus bersama. Wendy sedang sibuk dengan buku yang dicarinya, Irene asik berkutat pada buku yang tak sengaja ia temukan. Sedangkan aku dan Joy duduk di bangku yang tersedia di perpustakaan.

"Gi," suara Joy membuyarkan lamunanku.

"Kenapa?" aku menatapnya.

"Gue kemarin liat Jimin" aku mengerutkan dahiku.

Can You Love Me Jimin? | SEULMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang