True love

14 3 0
                                    

Episode 9

Selamat membaca...

WAJAHKU sepertinya masih merah, detak jantungku juga tidak teratur. Perasaan apa ini? Dan entah dari kapan bibirku ini tersenyum.

Aku bahagia, malu sekaligus khawatir.

Kak Tiara itu pembina asrama dan dia adalah mantan kekasih kak Angga. Bagaimana jika dia tahu tentang hal ini?

Aku mencoba menenangkan diriku dan meminta penjelasan kak Angga lewat media sosial.

Apa yang aku lakukan pada kak Zalfa ku ulangi lagi pada kak Angga. Aku benar-benar jujur tidak belum ada rasa pada kak Angga.

Aku mengatakan pada kak Angga aku tidak bisa, aku masih belum bisa melupakan kak Zalfa meski sekuat apapun ku mencoba, tapi aku dan kak Angga menjalaninya saja tanpa disertai status apapun.

Mungkin aku menggantung lagi hubungan ini.

Tapi semuanya berjalan baik-baik saja, kak Angga pun jujur tidak ada masalah, dia selalu curhat tentang masalah-masalahnya padaku dan aku pun sebaliknya.

Rasa itu pun muncul dan aku merasa senang, kak Angga sukses membuatku lupa pada kak Zalfa, dengan kata-katanya yang bijak dan pengertiapengertianya padaku membuat rasa itu semakin kuat.

Hingga desas-desusku dengan kak Angga tersebar, entah siapa yang membocorkannya.

Setiap hari kak Tiara membicarakan keburukan kak Angga dengan yang lainnya, dia tak pernah bertanya padaku tentang kak Angga tapi ya, dia membuatku panas dengan kata-katanya yang cenderung menjelek-jelekan kak Angga.

Kadang-kadang kak Tiara juga membicarakan masa-masanya ketika bersama kak Angga, dan itu membuatku cemburu.

Aku jadi tidak nafsu makan atau melakukan aktivitas, semuanya terganggu karena kata-kata kak Tiara terus mengiang-ngiang di kepalaku.

Karena hal itu aku jadi suka melewatkan sarapan, hingga akhirnya maag ku kambuh.

Terpaksa aku pun pulang ke asrama saat jam istirahat dengan diantar Isti dan Alma.

Suasana asrama sangat sepi, rasanya nyaman sekali, setelah sekian lama akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang.

Kreek..

Aku kaget mendengar suara pintu di buka.

"Rasti?" Suara kak Tiara jadi terdengar menggema.

Aku pun memaksakan diri untuk duduk, tapi lambungku ini tidak bisa di ajak berkompromi.

Aku tersenyum melihat kak Tiara memberikan air hangat padaku, dia duduk di depanku sambil menatapku dengan tatapan cemas.

Kak Tiara menjalankan tugasnya sebagai pembina asrama dengan baik.

"Rasti! Kakak mau curhat," katanya.

Aku terdiam sejenak, bukannya aku tidak mau tapi lambungku perih rasanya. Tapi aku juga tidak bisa mengecewakan kak Tiara.

Aku pun mengangguk sambil memaksakan tersenyum.

"Bantu ana balikan sama Angga!" Katanya memelas.

T R U E  L O V ETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang