26: Better Off

10.7K 2.1K 238

Firstly, aku mau minta maaf karena sempat nggak update. Lagi sibuk banget karena jadi delegasi fakultas untuk acara kampus, and lot of things happened. Masih ada yang nunggu nggak nih? ;)

Aku usahakan selesaiin cerita ini minggu ini (harusnya minggu kemarin, tapi kehambat dan ada beberapa bagian dari sini yang butuh perbaikan). Sebelum baca lanjutannya, sampe sini gimana perjalanan kalian sama cerita ini? :)

🔓

play the multimedia for better reading experience

🔓

Adira

“Kamu kurang tidur, Ra?”

Aku menoleh ke belakang, mendapati Mama yang sepertinya memandangiku sejak tadi aku bercermin.

Aku menggeleng sebagai jawaban. “Nggak juga kok. Aku malah tidur lebih cepat belakangan ini.”

“Tapi itu...” Mama menunjuk kacamata yang kupakai. “Tumben.”

“Belakangan ini jadi agak susah baca. Biasanya nggak pakai kacamata bisa.”

“Kamu sih, dikit-dikit laptop terus. Makin rusak nanti tuh mata.”

Kalau sudah begini sih, Mama pasti akan mengomel. Tapi aku rasa itu lebih baik. Karena aku lebih suka melihat Mama yang begini daripada Mama yang diam hanya karena aku bercerita, terlebih jika aku bilang semalam aku menangis.

Sorry, Ma. But I will keep the secret to myself.

Lagi pula, aku tidak bisa jawab jika aku bilang pada Mama apa yang terjadi semalam. Tentang kenapa aku memilih untuk memakai kacamataku dari rumah—bahkan sejak aku keluar kamar—yang rencananya ingin kupakai seharian penuh. Aku tidak ingin menunjukkan mata bengkak yang menyisakan sedikit merah ini.

Lebih baik tidak ada yang tahu. Karena aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus menangis. Atau mungkin, aku tahu. Tapi aku tidak ingin membenarkannya. Rasa sakit hanya terasa jika kita percaya bahwa itu menyakitkan.

Hanya saja, seberapa keraspun aku berusaha, rasanya tetap menyakitkan.
Semalam, Andra sempat meneleponku, tapi aku memilih untuk memandangi namanya terpampang di layarku ketimbang bertukar suara dengannya. Aku tidak bisa.

Di sisi lain, aku tahu Andra terluka, dan dia benar-benar terbuka soal itu. Tapi dengan semua fakta yang terbuka, aku merasa bingung. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi semuanya teredam dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa berteriak dalam hati karena mulut menolak untuk terbuka.

Am I some kind of substitute to you, Andra?

Apa semua yang kamu lakukan, kebaikan kamu yang entah apa alasannya itu hanya karena rasa bersalah kamu? Atau kamu mengasihani aku?

Atau... keduanya?

Rasanya sesak.

Aku ingin tetap berpikir positif, berfokus pada sisi baiknya. But there is none. Dan lagi, aku sudah mengatakannya pada Andra.

Padahal aku percaya sama kamu, Dra. I really do.

Apa aku salah?

Memikirkan semua yang sudah Andra lakukan, bagaimana Andra selalu membantuku, membuatku berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk mulai percaya lagi, dan bagaimana dia menciumku dan mengatakan perasaannya...

It hurts.

“Adira, kamu kok...”

Aku merapatkan bibir, buru-buru menyeka mata yang terhalang air. Mama mendekat, tangannya memegang kedua pundakku. “Ra, kenapa?”

Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang