Aku Yang Tersakiti

3.7K 149 0

Sudah sekitar enam bulan lebih Moza dan Dirga berpacaran. Sama seperti pasangan muda lainnya, mereka lebih suka pergi ke bioskop atau ke kafe menghabiskan week end.

Namun akhir-akhir ini Dirga mulai agak berbeda, sudah jarang menghubungi Moza. Bahkan Regas menanyakan keberadaan Dirga pada Moza.

Hari ini Moza tidak bertemu Dirga di kampus. Menurut teman sekelasnya Dirga tidak ke kampus hari ini.

Moza memakirkan mobilnya di rumah Dirga. Rumahnya pun sepi namun mobil Dirga terparkir rapi depan rumah. Moza memencet bel. Tak ada jawaban Moza memutuskan untuk pergi belum sempat melangkah terdengar pintu yang terbuka.

"Mau cari siapa?" tanya seorang wanita yang hanya memakai tanktop dan rok jeans yang pendek. Wajahnya pun terlihat tidak ramah menerima Moza.

"A..aku..mencari Dirga. Dia ada?"

"Kamu siapanya Dirga? Ada perlu apa nyari pacar ku?"

Moza terbelalak. Tidak salah dengar. Ya Moza tak mungkin salah. Apalagi ia tidak salah kalau ini rumah Dirga. Sedang apa Dirga bersama wanita itu di rumahnya yang sepi. Wanita yang diperkirakan usianya lebih tua dari Moza itu mengaku kekasihnya Dirga.

Help me God. I can be strong.

"Siapa sayang?" suara itu..suara Dirga. Dan ia memanggil wanita itu dengan kata sayang.

Moza buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah Dirga. Moza memacu kendaraannya dengan cepat. Ia tidak peduli dengan apapun di depannya.

Ia amat sakit. Lebih sakit dari sebelumnya. Laki-laki yang ia percaya akan memberikannya kebahagiaan justru menikamnya dari belakang.

Ia membelokkan mobilnya ke area pemakaman. Dia rindu dengan papanya

"Pa, kenapa papa tinggalin Moza? Moza masih rindu papa. Masih butuh papa. Apa lebih baik Moza menyusul papa kesana?" tanya Moza memeluk segundukan tanah yang belum mengering. Mencium nisan papanya.

Moza ingin bertemu Regas tapi saat ini ia sendiri.

❤❤❤❤❤

"Hay Moza apa kabar kamu?" seru Bembenk. Moza mendatangi arena balap lagi.

"Not good. Aku hanya suntuk. Nggak berniat untuk turun"

Moza hanya duduk di pinggir jalan sambil meminum cola miliknya.

Deru suara knalpot racing yang keras tidak membuat Moza beranjak dari sana. Dia benci Dirga. Benci.

Ia melihat cincin dari Dirga yang masih melingkar di jari manisnya. Kemudian ia melepaskan cincin itu dan membuangnya.

"Moza, darimana kamu sayang?" Lolita mendapati Moza yang pulang pukul 4 pagi.

"Dari.. hmm...dari..."

"Balap liar lagi? Kata Regas kamu berhenti balap liar karena pacarmu. Kenapa sekarang kamu kesana lagi?"

"Aku hanya merasa suntuk Ma. Maaf aku cape. Aku istirahat ya Ma"

Sesampainya di kamar, Moza menghempaskan tubuhnya ke kasur. Menenggelamkan kepalanya ke bantal.

Tok tok tok..

Mak Odah mengetuk pintu. Moza menghapus air matanya dan berjalan gontai menuju pintu.

"Non Moza, ini Mak bawakan susu. Pasti Non Moza nggak bisa tidur kalau belum minum susu"

"Terima kasih Mak"

Moza mengambil gelas berisi susu itu dari tangan mak Odah.

"Diminum ya non. Mak pamit ke kamar lagi"

Moza mengangguk. "Ya mak. Terima kasih sekali lagi"

**

Vomment please..

Lophe,
221092❤

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!