Bencana Kembali Datang

3.5K 176 0

Moza POV

Aku ingin keluargaku kembali utuh. Tapi itu tak mungkin terjadi. Mama sudah menikah dengan Om Jerry selama 8 bulan ini. Tapi paling tidak mama mau menerima papa sebagai temannya.

Aku pernah membawa mama bertemu dengan papa tapi setelah itu mama melarang keras aku atau Regas menemui papa lagi.

"Mama akan mengurungmu selama sebulan. Nggak ada motor, nggak ada mobil, uang jajan apalagi kencan kalau kamu masih bertemu dengan papamu Moza!" ancaman mama sangat membuatku takut. Aku mesti berbuat apa?

"Apa yang mesti aku lakukan Regas? Mana mungkin aku dijauhkan dari papa kandung ku sendiri?" aku menangis di pelukan Regas. Entah mengapa aku lebih senang curhat dengan Regas daripada dengan Dirga.

Dia lebih mementingkan bandnya daripada aku.

"Kamu yang sabar Moza, aku akan tetap membantumu"

Diam-diam sepulang dari kampus aku mendatangi rumah papa. Membawakannya pakaian baru dan spagetti kesukaannya. Aku mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Menurut tetangga sebelah rumah, papa pergi setengah jam yang lalu. Terpaksa aku pulang.

"Moza!" panggil papa saat melihatku hendak menyebrang. Aku dicegah papa agar tak menyebrang. Papa yang akan mendatangiku.

Siang itu suasana jalan raya lagi padat. Suara klakson berderu dimana-dimana.

Papa agak kesusahan untuk menyebrang. Aku khawatir.

Di sebuah gang, keluarlah mobil minibus hendak berbelok ke kiri. Papa tak menyadari itu. Mobil tersebut memacu kecepatan tinggi.

Bruuukkkk.... naas papaku tertabrak. Aku yang berada diseberang menjerit histeris. Belanjaan yang kubawa tadi ku buang ke sembarang arah.

Aku segera menghampiri tubuh papaku yang bersimbah darah di kepala bagian belakang.

"Papa, bertahanlah!" aku memeluk tubuh papaku. Tak peduli darah papa membasahi dress pemberian papa minggu lalu.

Di ruang tunggu depan UGD.

Hanya ada Regas dan Mak Odah yang menemani aku saat ini. Mama dan om Jerry sudah dua hari ini berada di Denpasar untuk mengurusi bisnis resort milik om Jerry. Sekarang mama sudah berhenti bekerja sebagai customer service dan lebih sibuk mengurusi resort milik suaminya.

Regas mencoba menenangkanku. Tak nampak sosok Dirga di tengah-tengah mereka.

"Mak sudah menelepon daddy atau mommy?" tanya Regas

"Sudah mas. Besok Nyonya dan Tuan baru pulang" jawab Mak Odah

Sejam kemudian dokter keluar. Moza langsung menghampiri dokter tersebut.

"Bagaimana keadaan papa saya dokter?" tanya Moza bergetar.

"Kamu yang sabar Nak, saya sudah berusaha dengan semaksimal mungkin tapi rencana Tuhan lebih indah.."

"Maksud dokter?"

"Papa kamu tidak bisa saya selamatkan. Pendarahan di otaknya terlalu banyak. Makanya pasien banyak kehilangan darah"

Aku terkulai lemas untuk dengan sigap Regas menopang tubuhku agar tidak ambruk . Setelah itu dua orang suster keluar mendorong sosok tubuh yang sudah kaku dan tertutup kain putih. Aku menghentikan langkah kedua suster itu. Perlahan ia mendekat dan membuk kain putih itu.

Papa terbujur kaku. Wajahnya agak memar dan pucat pasi. Aku memeluk tubuh papa untuk yang terakhir. Regas menarik tubuhku agar menjauh.

"Papaku cuma tidur. Cuma tidur kan Regas? Iya kan?"

"Moza sabar. Papa kamu sudah nggak ada. Dia sudah meninggal"

"Nggak! Papaku belum meninggal! Nggaaakk mungkiiinn!!" teriakan Moza membuat orang-orang yang kebetulan lewat menoleh ke arahnya

Plak..tamparan keras dari Regas membuatku berhenti menjerit. Regas menenangkan.

❤❤❤❤❤

Moza tak keluar kamar seharian. Ia mengurung diri. Lolita mencoba menghibur Moza namun Moza enggan bertemu dengan mamanya. Moza duduk di balkon atas kamarnya. Masih memakai baju serba hitam pertanda berduka.

"Moza.." suara lembut milik Regas memanggil namanya. Moza tak menghiraukan. Ia masih terpaku menatap ke depan.

"Aku turut berrduka cita atas kepergian papamu. Dia orang baik Moz. Aku senang mengenalnya. Aku yakin pasti Tuhan akan menempatkannya di tempat yang indah" Regas mencoba menghibur.

"Apa aku nggak pantas bahagia?" suara Moza terdengar bergetar. Dari sudut matanya menetes air mata yang hangat. Regas mengusap air mata Moza dengan ibu jarinya.

"Aku nggak pantas bahagiakah? Dulu papa dan mama berantem kemudian bercerai lalu papaku dipenjara dan mama menikah lagi. Sekarang...dan sekarang..."

Regas menarik Moza ke dalam pelukannya. Membiarkan Moza menangis.

"Hey..kamu nggak sendiri. Masih ada aku, Mak Odah, mamamu dan daddy ku. We are family, Moz. Selamanya"

"Jangan lupakan Dirga juga" kata Moza di sela tangisnya. Regas tersenyum.

"Oh ya Dirga nggak kesini memberikan ucapan duka cita?" tanya Regas.

"Dia sibuk dengan bandnya. Tapi dia sudah mengirim pesan kok"

Aku terlalu sakit melihat Moza seperti ini. Kehilangan papanya untuk selama-lamanya. Aku berjanji tak akan meninggalkan Moza. I'm promise.

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!