#2

25.4K 2K 115
                                              

"Pak Erlan, aku padamu!"

"Duh, gemes, deh, sama Bapak!"

"Bapak, kapan nikahin Saya?!"

"Pak, masih jomlo, 'kan?!"

Langkah Erlan terhenti mendengar seruan terakhir. Ia mundur beberapa langkah ke belakang, membuat siswi yang berseru tadi membuka mulutnya tak percaya. Erlan mengusap keningnya sebentar, lalu menunjuk siswi tersebut.

"Saya bukan jomlo, tapi single." Lalu tersenyum mempesona, hingga siswi tersebut jatuh ke bawah.

Sandrina berada beberapa meter di belakang rasanya mau muntah. Buku paket kimia yang ia genggam hampir saja dilayangkannya kepada Erlan, jika tak lihat situasi sekarang. Bisa-bisa dirinya menjadi bullyan massa, kalau ia nekat melakukannya.

Erlan melanjutkan langkahnya yang tertunda, namun ia mengurungkan niatnya dan berbalik ke belakang. Sandrina merasakan firasat buruk saat manik mata mereka bertemu, tatapan Erlan seperti sebuah mulut mengejek.

"Tenang saja, Sandrina, kamu akan Saya jadikan kandidat terakhir untuk jadi istri Saya," ujar Erlan sambil menaruh kedua tangannya di sisi pinggang dan tertawa beberapa detik.

Sandrina merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia sadar bahwa semua tatapan membunuh kini tertuju  pada dirinya. Dengan kekehan terpaksa, Sandrina membalasnya. "Saya gak minat, Pak, makasih."

Erlan memajukan bibirnya beberapa senti, tangannya ia tangkup di depan. Para siswi yang melihatnya spontan menjerit, Erlan sangat imut saat merajuk.

Hoek!

Sandrina menutup mulutnya sebelah tangan, ingin rasanya ia muntah sekarang. Melihat wajah yang diimut-imutkan gurunya tersebut.

"Kamu nolak Saya, Sandrina?" tanya Erlan dengan kepala yang dimiringkan. Tatapannya seakan berlinang, air matanya ingin terjatuh.

Bler!

Bulu kuduk Sandrina kembali berdiri, diikuti hawa dingin. Sandrina mau tak mau melirik ke sekitarnya, dan mendapati banyak pandangan dingin yang ingin membunuhnya sekarang juga. Oh, Tuhan. Apa salahnya?!

"Pak, sepuluh me-nit lagi waktu mengajar, na-nanti Bapak tidak jadi lagi memberikan Sa-ya bi-bimbingan." Sandrina merasakan tangan seseorang menyentuhnya dari belakang. Terasa dingin di lehernya, lalu mulai turun ke bawah. Dengan cepat Sandrina berlari kecil mendekati Erlan.

"Oh, iya. Yasudah, kita jalan lagi. Makanya kamu jangan lelet, Sandrina!" raut wajah Erlan berubah kembali menjadi datar. Ia berbalik dan berjalan dengan cepat menggunakan kaki-kaki panjangnya.

Sandrina spontan menggeram tertahan. Ia ingin beradegan mencakar di balik punggung gurunya tersebut, namun tatapan membunuh di sekelilingnya membuat ia mengurungkan niatnya.

***

"Soal segampang ini, kamu gak bisa?!" Erlan menggebrak meja. Tatapan matanya berubah tajam.

Sandrina memutar bola matanya malas. Siapa kemarin yang tak jadi mengajarkannya rumus Kemolaran/Molaritas pada bab Laju Reaksi?

Sudah pasti jawabannya adalah ERLAN WIRATAMA.

"Pak, kemarin Saya beres-beres rumah Bapak." Sandrina mencoba menyangkal.

Erlan berkedip. Ia teringat sesuatu. Jari jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan cemas, tatapannya kepada Sandrina tidak setajam tadi.

"Kamu ... liat Saya tidur sambil jalan?" tanya pria itu.

Sandrina tersenyum miring. Dikeluarkannya ponsel bermerk Samsung Galaxy J2 Prime dari kantungnya, ia membuka galeri dan menunjukkan foto Erlan yang tertidur sehabis menabrak sofa di ruang tamu. Gadis itu tak sabar melihat reaksi gurunya tersebut. Akan ia gunakan foto ini sebagai sebuah anca―

Crazy TeacherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang