2

4.2K 317 85
                                    

aku teringat akan apa yg lalu yg lalu. teringat akan kejadian aku sangat marah dengan riana, sampai aku kasar dengannya, menarik paksa dia keluar, menjambaknya, bahkan menamparnya.

Bi.. gue liat ralo sama perempuan di paulaner
*sent photo

thank you bebb infonya, tolong liatin dan kabarin gue yah bebb kalau mereka cabut

okey beb, gue ikutin juga sekalian apa yah? gelagatnya mereka mau cabut.

ga apa kalau lo mau ikutin mereka? lo ga sibuk?

ga sih, santai aja gue.. gue penasaran aja liat ralo mabok gitu.

hahh.. ralo mabok?

itu dirangkul sambil jalan sama tu perempuan

immposible, ralo kuat minum kalau berbotol botol murni mungkin iya bakal tepar.

ga ada botolan sih bi gue liat, cuma beberapa gelas.

shit!! gue minta tolong ikutin sampe mana mereka, gue kesana sekarang

bi, mereka masuk hotel kraton the plaza. Gue cabut yah bi, beresin deh masalahnya, gue masih ada urusan, sorry cuma bisa bantu sampe sini.

thank you banget yah bebb, maaf ngerepotin.

Aku langsung menghubungi diva dan beberapa kenalanku agar aku bisa mendapatkan akses masuk kesana tanpa perlu menginap, aku kawatir dengan kondisi ralo tidak mungkin semudah itu akan mabuk, pasti ada sesuatu dalam minuman ralo dan aku yakin itu.

Aku mendapatkan akses masuk kekamar yg ditempati oleh riana, aku sangat emosi melihat riana berada diatas badan ralo dengan kemeja ralo yg terbuka. Riana terkaget saat kita masuk menghentikan aksinya lebih lanjut, aku menariknya sampai terjatuh kelantai, diva dengan sigap langsung menghampiri ralo dan mengamankannya. Aku menarik keluar yg menurut aku gila, menjambak rambutnya ketika dia berusaha memberontak dan menamparnya cukup keras.

.

itu terakhir kalinya aku bertemu dengannya sampai dia datang lagi mengunjungi rumah ralo dan bertemu di club itu.

aku melihatnya yg kini tertidur letih sesudah menangis di bahuku, tanpa sadar tanganku sudah mengelus - mengelus kepalanya dan merapikan anak rambut yg menutupi wajahnya. Kini aku baru menyadari bahwa riana sungguh cantik, walapun masih ada sisa sisa air mata yg tertinggal di pipinya, itu malah membuat diriku merasa bersalah.

" kenapa sih lo kmaren itu bego banget, hahh?? kaya perempuan ga laku tau ga? ga bisa apa lo dapetin cowok cakep diluaran sana, cantik kok mau belok sih?! lagi kenapa naksir ralo coba?!! kenapa bebel banget udah kena amuk sama gue, sama gebetan ralo yg lain masih aja bebel, heran...!! " aku hanya berujar dalam hati, tidak ingin menggangu dia yg tertidur dipangkuanku dengan wajah polos seperti itu.

*tingtong tingtonggg...
riana terbangun mendengar suara bel yg berbunyi.

" itu mungkin makanan yg tadi kita pesen, kamu aja yg ambil yah aku males pake baju. " riana kembali memejamkan matanya, masih setia dengan posisinya.

" terus ?"

" terus apa hmm ?" riana masih tak bergerak.

" gimana mau bergerak trus jalan kedepan ambil makanan, kalau lo masih ngedusel dusel gitu gamau pindah!! "

" ohhh iya.. sorry abisnya bikin pw.. " riana mentapku, memberikan cengirannya dan tak lama mengecup leherku.

" jjiiiiizzzzz.... " aku membeku.

" kenapa? ga suka ? "

" hahh?" aku hanya terkaget dengan kecupan itu dan pertanyaanya.

" ya udah kalau ga suka aku ambil lagi kecupannya. " dan lagi 'ccuupp..' riana kembali mengecup leherku ditempat sebelumnya namun sedikit lebih lama dan sedikit menekannya, aku makin membeku, otakku membeku, aku tidak bisa bergerak merasakan kecupan itu menjadi sebuah hisapan.

*tiinggg toonggg tinggg toonngg
riana menghentikan aksinya, mengecup pipiku dan berbisik ditelingaku sangat pelan dan lirih
" saved by the bell "

aku berjalan kedepan, sambil berusaha menormalkan degup jantungku, tangan yg berkeringat.. whhatt the ffuucckk aku seperti remaja yg nervous. Aku berusaha menepuk - nepuk pipiku pelan agar tersadar.

" kamu ngapain nepuk - nepuk pipi kamu gitu, merahkan jadinya pipinya. " riana melihat pipiku yg memerah.

"ga apa kok " aku berusaha menjawab dengan sikap datar walapun jantungku sekarang ini detakannya sangat tidak datar.

" sini. " riana mengusap - ngusap pipiku, mendekatkan wajahnya ke pipiku, meniup niupnya, dan terakhir memberikan kecupan disana, cupp... " naahhh sembuh... masih sakit pipinya?"

aku yg terkaget hanya menjawab dengan gelengan. " whhaattt thheee fuck bianca jadi gagu.. " aku hanya bisa bersuara dalam hati.

" kamu taruh trolly makannya dideket meja yah, aku siapin makannya, kamu mau ke kamar mandi dulu ga ?" riana mulai sibuk dengan piring piring dan menatanya di meja.

" ohhh iya kamar mandi, need to wash my... ( brain )" rinso mana rinso.. sabun colek ke, pemutih ke, detergen ke... aku mondar mandir dalam kamar mandi, grasak grusuk tidak jelas, mengacak - ngacak rambutku, menggaruk tanganku yg bahkan tidak gatal, aku berusaha menenangkan diriku.. " take a breath bi.. ayoo nafas.. 1...2... hembuskan... ayoo ambil nafas.. 1...2... aku tersedak liurku sendiri huukkk..uhhuuukkk.. ketika menatap cermin menampakan leherku yg putih dan ada warna merahnya disana. " my lloorrrdd.... " aku mengusap - ngusap leherku berharap tanda itu akan hilang walapunku tau itu hanya akan sia sia.

*tookk..tookkk...
" hon.... r u okay ? mau minum? aku denger kamu batuk batuk tadi.. "

aku membuka pintu berusaha bersikap normal dan seperti biasa walapaun aku tidak tau cara bersikap biasa terhadap riana seperti apa, dulu bersikap biasanya adapah dengan memberikan tatapan sinis, dan raut wajah tidak suka namun sekarang bernafas dengan normal saja rasanya sulit.

" hon.. r u okay ? " riana berdiri dihadapanku menungguku didepan pintu kamar mandi.

" hon? who's hon ? "

" you.. hon.. honey.. i like to called you hon or honey.. " riana memberikan senyuman manisnya padaku.. " and i like that kissmark too.. " dan lagi riana mengecup leherku yg sudah dia berikan tanda. " yukk makan hon...

lagi lagi aku hanya diam membeku.. mengingat panggilan tadi yg terngiang ngiang olehku, hon.. hon... honey atau hannn..tuuu... ? seorang bianca mati kutu...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

maaf menunggu waktu lama hehehe
.
.
.
.
.

and i like too cupangg cuppaangg biniknya acchhuu... HerLove_ wkwkwkwkkwwk
.
.
.
.
.

BrianaWhere stories live. Discover now