Empat

40K 1.3K 71

EDITED

Happy reading ^^

-SW-

"Hi, Le! Ya, gue sudah sampai di London. Dingin, di sini. Tapi untung saja, gue jadi gak salah kostum!" cerita Naomi dengan ceria lalu terkekeh pada Lea melalui video call. Tangan kirinya bergerak merapatkan mantel cokelat mudanya, berpura-pura kedinginan.

Naomi dapat melihat Leana tersenyum di seberang sana, ah, baru saja Ia menapakkan kaki di negeri orang, tapi Ia sudah merasa rindu pada Lea, "Bagus deh, lo udah sampai di sana. BTW, siapa yang jemput lo?" tanya Lea penasaran.

Naomi mengedikkan bahu, sambil terus mendorong troli kopernya, "Gak tau, mungkin orang suruhan Papa. Gue udah kabarin kok," jawab Naomi.

Leana mengangguk mengerti sebelum tiba-tiba raut wajahnya berubah, "Kelvin!" serunya.

Naomi memandang aneh Leana lalu spontan menoleh dan mendapati  Kelvin sudah berdiri di belakangnya, bajunya masih sama dengan tadi, "Kel! Kok lo bisa ada di sini?" tanyanya.

Kelvin tersenyum tipis, "Sedang ada perlu di sini," jawabnya misterius.

Naomi mengerutkan alisnya, tidak mengerti, namun memilih untuk menoleh pada Leana terlebih dahulu, "Bentar, Le. Ntar gue call balik, okay? See you," putusnya tanpa mau mendengar jawaban Lea, lalu menekan tanda end call di layar smartphonenya.

Gadis itu menghadap Kelvin sambil berkacak pinggang, "Jadi? Apa maksudnya ini? Kenapa lo bisa ada di sini? Jelasin," tuntutnya.

Kelvin hanya tersenyum, memilih untuk merangkul Naomi dan mengambil alih troli, "Gue punya alasan, Naomi. London sedang musim dingin, ayo duduk bercerita sambil minum kopi," ajaknya.

Naomi tentu tidak puas dengan jawaban Kelvin. Keduanya berjalan menjauhi pintu kedatangan sambil terus beradu mulut. Tidak, sebenarnya, hanya Naomi yang terus mencerca Kelvin. Pria itu, yang memang dasarnya tidak banyak bicara, tentu hanya menjawab seadanya.

--

"Gu-gue.." kalimat Leana tidak terselesaikan karena Naomi sudah terlebih dahulu memutuskan panggilan mereka.

Leana memandang kosong layar smartphonenya, "Gue masih mau lihat Kelvin, Na. Dia.. baik-baik aja, kan?" ucapnya pelan, tidak ada yang mendengar dua kalimat itu selain dirinya sendiri. Pertanyaan yang seakan, tidak akan mendapat jawaban.

Tanpa sadar, tangan Lea sudah bergerak meremas selimutnya. Kenapa harus selalu Naomi?

--

Seorang anak laki-laki kecil, berusia delapan tahun duduk termenung di halaman rumahnya. Ia baru saja pindah tadi pagi. Kelvin, nama anak itu. Kelvin, adalah anak yang pendiam, karena sebelumnya Ia adalah seorang autis. Gejala autis Kelvin segera dikenali oleh Brianna di saat Kelvin menginjak usia satu tahun lebih, Mama Kelvin pun segera mengambil tindakan, berkonsultasi dengan banyak dokter, membaca banyak buku, melakukan terapi dan perawatan terbaik untuk Kelvin.

Sekarang Kelvin sudah tidak autis, tapi masih pendiam. Orang tuanya berpikir Kelvin perlu bersosialisasi, sehingga keluarga mereka pindah dari penthouse, ke sebuah rumah berlantai dua di kawasan elit. Yang Brianna tau, kompleks ini dihuni oleh banyak pasangan baru menikah, sehingga banyak pula anak kecilnya.

Kelvin termenung, memandangi anak perempuan seusianya yang tinggal di seberang rumah barunya. Anak perempuan itu memakai terusan merah muda penuh corak yang tampak cocok di kulit putih susunya. Rambut cokelat kemerahannya yang dikuncir dua itu tampak menggemaskan, bergerak mengikuti langkah kakinya. Ia sedang asik membuat gelembung sabun. Berputar mengejar gelembung yang berterbangan. "Tawanya sangat indah," batin Kelvin

"Kelvin! Bantu Papa sini!" seruan David, Papa Kelvin membuyarkan lamunan Kelvin sekaligus menyadarkan anak perempuan itu, bahwa ada tetangga baru yang menghuni rumah kosong seberang rumahnya.

Kelvin berjalan mendekati David yang sedang menurunkan barangnya, bersamaan dengan gadis kecil itu. Kelvin tidak akan pernah lupa dengan mata cokelat penuh semangat milik gadis itu. Dengan cara gadis itu berlari kecil mendekatinya. Wajahnya cantik, senyumnya manis, namanya pun bagus, "Halo, kamu barusan pindah ya? Kenalkan, namaku Naomi," katanya dengan penuh percaya diri, Ia mengulurkan tangan mungilnya bersahabat. Bunyi lonceng kecil terdengar saat tangan itu terangkat. Naomi memakai gelang berlonceng kecil yang cantik.

Kelvin terdiam untuk beberapa saat, David sudah khawatir, takut Kelvin tidak tau bagaimana harus bersikap. Namun sebelum David bertindak mengarahkan, Kelvin sudah menyambut tangan itu, "Namaku Kelvin," katanya.

Naomi tersenyum lebar, menampakkan lesung pipinya yang dalam. Kelvin kecil terpesona, dan tidak akan bisa melupakan hari itu sampai selamanya. Naomi, teman pertamanya.

-TBC-

Hai! Chapter empat sudah terbit! Jangan lupa untuk berikan vote dan komentar kamu ya! See you soon 😊

Second WifeBaca cerita ini secara GRATIS!