Tetes Air 3 : Sandiwara (Selesai)

28 1 0

"Apakah aku terlihat cantik, Bu?"

"Tentu saja, nduk. Kebaya putih yang kau pakai sangat pas di tubuh indahmu. Rambut hitam legam itu mengingatkan pada almarhum ayah," jawab ibu sembari merapikan hiasan yang ada di rambutku, "bibirmu merah seperti apel, calon suamimu pasti sangat terpesona, kau benar-benar seperti putri hari ini, nduk." Pipiku terasa hangat. Sepertinya tak hanya bibirku, pipiku sekarang pasti semerah apel juga. Ah, tentu saja bukan karena blush on yang disapukan mbak Minah saat meriasku tadi. Aku sangat senang ibu memujiku. Apakah aku benar-benar secantik itu? Tapi, ada yang membuatku lebih penasaran. Bagaimanakah ekspresi suamiku nanti saat melihatku seperti ini? Andai saja aku bisa mengetahuinya.

Aku merasakan kedua tangan ibu di pundakku. Mengelus perlahan. Beberapa detik kemudian berhenti. Ibu berkata dengan sedikit menurunkan suaranya, "Sayang sekali, adikmu Dimas tidak bisa datang di hari bahagiamu ini. Ia tak melihat senyummu yang terus tersungging sejak tadi." Aku semakin tersipu malu. Senyum ini benar-benar sulit aku kendalikan. Begitu juga detak jantungku yang semakin tak karuan.

"Tidak apa-apa, Bu. Naning sangat paham betapa setianya Dimas seperti anggota Banser lain," aku menjawab seraya mengelus tangan ibu yang masih berada di pundakku. Mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.

"Keributan-keributan masih saja terjadi di mana-mana. Apalagi baru sebulan lalu, orang-orang PKI itu dengan kejamnya menculik enam jendral dan membuangnya ke dalam sumur. Beberapa kali ibu mendengar Dimas membicarakan tentang PKI bersama Joko anak pak Sofyan yang sesama anggota Banser itu. Ibu harap adikmu selalu diberikan perlindungan oleh Allah." Suara ibu terdengar cemas.

"Setidaknya negara kita sudah merdeka, Bu. Walaupun tetap saja kerusuhan politik ini membuat suasana menjadi tak ada bedanya dengan kedatangan Belanda dulu." Aku beranjak dari tempat dudukku. Aku ingin berada di dekat ruang tamu. Mendengarkan dengan telingaku sendiri saat calon suamiku mengucapkan janji sucinya.

"Ibu bisa mengantarkanku mendekat ke ruang tamu?"

"Baiklah, nduk. Ibu tahu perasaanmu saat ini, pasti tak berbeda jauh seperti ibu dulu. Campur aduk antara bahagia, sedih dan cemas." Ibu menggandeng tanganku lembut. Berjalan perlahan mendekat ke ruang tamu.

Aku berdiri di balik kelambu pembatas antar ruangan. Sedikit saja terlambat, aku tak akan mendengar kalimat sakral itu diucapkan dengan sempurna. Suara Mas Suryo terdengar tegas dan tanpa ragu sama sekali, "Saya terima nikahnya Naning Kumalasari binti Jalaluddin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Seketika hadirin mengucapkan hamdalah hampir bersamaan. Beberapa terdengar menangis haru. Tak kuat menahan betapa bahagianya saat-saat seperti ini. Kurasakan mataku mulai memanas. Hampir saja bulir-bulir air mata ini menerobos keluar. Namun, ibu terlebih dahulu memeluk pundakku.

"Ayo, nduk. Kita ke sana." Ibu menuntun jalanku. Jantungku benar-benar berdetak keras sekali. Mungkin ibu juga bisa mendengarnya.

***

Sudah sebulan sejak hari pernikahanku dengan Mas Suryo. Aku tak lagi tinggal di desa bersama ibu. Mas Suryo membawaku ke kota Surabaya tempatnya bekerja. Sebenarnya, aku sedikit tak nyaman tinggal di kota besar. Sampai sekarang pun ketakutan akan kembalinya para penjajah masih menghantui. Teringat almarhum ayah yang meninggalkan kami karena keberingasan para penjajah itu. Namun, aku sangat bersyukur karena Mas Suryo selalu menjagaku.

Kami tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana di bantaran sungai Brantas. Aku sangat bahagia walaupun tak bisa setiap hari bertemu dengan ibu. Mas Suryo sangat baik kepadaku. Semuanya ia yang mengerjakan. Mulai dari mencari nafkah sampai menyiapkan makanan. Bahkan, terkadang ia menyuapiku saat makan. Sebenarnya, aku merasa sangat tak pantas berada di posisi ini. Aku tak bisa melakukan apa-apa sebagai isteri—karena keterbatasanku.

Tetes Air Hujan (Kumpulan Cerpen)Read this story for FREE!