Candy Boy (Chapter 16)

1.3K 243 91
                                                  

Maafkan keterlambatan saya..

.

.

.

     Langit kamar itu masih sangat gelap. Ia menduga saat itu masih dini hari dan ternyata benar. Layar ponselnya telah membenarkan dugaannya. Padahal tadinya ia tidur sangat telat-karena merasa sulit melangkah masuk kedalam kamar-mengingat Yoona juga berada didalam kamar itu.

     Sehun tepikan selimut dari tubuhnya. Bagaimanapun juga dirinya tidak akan bisa kembali tertidur meskipun ia memaksa matanya untuk terus terpejam. Ia duduk sejenak disudut tempat tidur. Mata sayunya mengamati kamar itu yang tiba-tiba saja fokus pada satu titik. Tampak Yoona dari sela gorden yang terbuka lebar-sedang berdiri di balkon kamar dengan posisi membelakanginya.

     Sejak kapan dia berdiri disana?

     Entah sadar atau tidak, Sehun terus mengamati isterinya itu. Tentu ia menyadarinya. Yoona tampak kedinginan. Bagaimana tidak, wanita itu hanya mengenakan daster sutra panjang berlengan sebatas siku yang ia lapisi lagi dengan sweater. Walau kakinya sudah memakai kaos kaki tebal beserta sandal bulu milik hotel, tetap saja salju yang tengah turun diluar sana akan menembus semua yang ia kenakan.

     Lama mengamati Yoona, ia menyadari bahwa tangannya sedang mencengkram ujung selimut tebal miliknya. Sorot matanya teralihkan ke selimut sejenak. Gerak ragu matanya menunjukan bahwa saat itu ia sedang berpikir keras. Tidak jelas apa yang sedang ia renungkan yang pada akhirnya malah meninggalkan tempat tidurnya begitu saja.

     Sehun masuk kedalam kamar mandi dan keluar 5 menit kemudian. Ia tampak lebih segar dari yang sebelumnya. Masih mengenakan pakaian tidurnya yang berupa kemeja hitam polos dan celana katun berwarna senada. Sebelum benar-benar keluar dari kamar itu, matanya kembali menoleh kearah balkon kamar itu. Yoona masih berada disana. Sikap tak pedulinya kembali muncul. Ya, Sehun sudah keluar dari kamar.

--

     Giginya bergemeretak. Kakinya membeku. Ia bahkan merasa otaknya ikut membeku dikarenakan angin dingin yang membawa salju kepadanya. Tapi walau begitu Yoona tak juga pergi dari sana. Mengapa? Karena ia merasa kesal. Hingga kini ia belum merasa nyaman dengan keberadaan salju. Meskipun mungkin ketidaknyamanan itu tak terlihat jelas diwajahnya, tetapi didalam hatinya perasaan gusar terus mengganggunya.

     Apa yang sebenarnya harus aku lakukan?

     Sungguh frustasi dengan itu, Yoona pun menyerah. Tak lagi memaksakan dirinya untuk tetap berdiri disana, kini kakinya mulai melangkah masuk kedalam kamar. Tak ada Sehun disana. Ia memandangi pintu kamar itu sesaat. Sorot mata kelamnya perlahan terlihat rileks. Yoona langkahkan kakinya mendekati tempat tidur suaminya. Ia raih selimut milik Sehun lalu melipatnya. Merapikan tempat tidur itu hingga sama rapinya dengan tempat tidur miliknya.

     Tercium aroma sedap dari balik pintu kamar. Tentu Yoona penasaran akan itu. Langkah tenangnya membawanya melangkah keluar dari kamar dan mendadak dikagetkan dengan apa yang sedang Sehun lakukan. Suaminya itu sedang memasak didapur.

     Ada apa dengan ekspresinya?

     Sehun tampak tidak puas dengan masakannya. Apa yang sebenarnya sedang ia masak? French Toast. Namun gagal.
     "French toast?" tegur Yoona yang sudah berjalan menuju dapur. Dilihatnya Sehun sedang mengunyah roti panggang buatannya. Alis lelaki itu bergerak naik dengan raut datarnya yang malah tampak menggemaskan. Oh tidak. Yoona nyaris saja tersenyum. Cepat-cepat ia berdehem pelan dan kembali memasang raut tenang diwajahnya.
     "Kenapa? Ada yang kurang?" tidak tahu mengapa dan sepertinya Yoona juga tidak menyadarinya. Pagi itu Yoona belaku sangat santai tidak setegang seperti biasanya-kepada suaminya itu tentunya.

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now