E

93.4K 8K 971
                                                  

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Hampir semua murid mengutuki hari ini, tapi tidak bagi Agni.

Ia cinta sekolah!

Astaga. Sekolah; gedungnya, gurunya, mata pelajarannya, ujian-ujiannya yang gampang, semangat kompetisinya, sinar matahari yang menembus masuk kaca jendela kelas, bau rumput lapangan sehabis disiram—

"Morning, evribadeeeeeeee~"

Lamunan Agni terputus, kedua matanya terpejam kesal. Ia sungguh merindukan sekolah dari segala sisi edukasinya, tapi jelas ia tidak merindukan manusia-manusia di dalamnya.

Apalagi dua makhluk ini.

"Selamat pagiiiii, Ayahanda tercinta yang telah mewarisi ketampanannya kepadaku," Zane, adik laki-lakinya, datang ke meja makan sambil menunduk mengecup pipi kiri Papa.

Dan makhluk satu ini lagi.

"Selamat pagi, Om. Eh, mmm ... selamat pagi, Agni."

Agni membuka mata dan memberi tatapan tak bersahabat pada sang perusak mood. Wawan Setiawan, si Kacamata 'teman' masa kecilnya yang culun dan lemot bagai Nobita itu, menyambutnya dengan senyuman lima jari yang tulus.

Kalau kacamata tebalnya dilepas dan rambut cepaknya diganti rambut mangkok, jadilah dia Kobo Chan.

Kalau kacamata tebalnya dilepas dan rambut cepaknya diganti rambut mangkok, jadilah dia Kobo Chan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Agni menatap mangkuk isi serealnya sambil mencoba merayu hatinya untuk bersabar. Sabar ... sabar ... ini tahun terakhirnya sekolah dengan dedemit-dedemit ini, setelah itu? Setelah itu ia akan lulus dan melenggang penuh kemenangan menuju Harvard sebagai calon pemimpin masa depan yang sukses. Seperti Mama.

Agni menghirup napas dalam-dalam. Teringat sosok Mama membuat semangatnya membumbung tinggi lagi. SIAP!

"Nape lo? Belom boker?"

Agni melirik tajam pada Zane. "Kita lagi sarapan!"

"Gue, Papa, sama Wawan yang lagi sarapan. Elo dari tadi merem melek nggak jelas, tarik napas - buang napas kayak emak-emak kebelet mau lahiran."

"Sekali-kali, Zane, gue mau lihat apa mulut lo itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih bermutu dari sekedar pelecehan perempuan."

"Lah? Pelecehan perempuan dari mana? Gue orangnya hormat sama perempuan! Ya kan, Pa?"

Papa meneguk kopi pahitnya dan memilih tidak menjawab. Sementara Wawan buru-buru menyendoki nasi uduk dari rumah dan melahapnya dengan wajah menunduk. Tidak ada yang mau terlibat dalam perang saudara ini.

Ngomong-ngomong soal Wawan ....

Si Nobita satu ini selalu menghabiskan pagi di rumah mereka—sarapan bareng, berangkat sekolah bareng—tapi lucunya, dia selalu membawa sarapan masakan ibunya sendiri dari rumah. Si Culun itu mungkin merasa tidak enak hati dengan keluarga Agni, mengingat betapa besarnya jasa mereka pada keluarga Setiawan.

EverythingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang