Pasal 5: Jangan Berhenti Menyerah

448 80 21

Lebih dari 50 pesan Mean, Perth, dan Mark kuabaikan. Tidak mungkin aku membalasnya dengan mengatakan bahwa aku baru saja dihajar habis-habisan oleh ayah, 'kan? Meski aku tidak menaruh harapan banyak bila Mean tahu kondisiku lantas ia akan datang secara mengejutkan ke rumah, aku tetap tidak ingin membuat sahabatku cemas. Ingat, aku tidak mengharap Mean menaruh kecemasan padaku.

Ini sudah hari ketiga aku absen dari kelas tanpa memberi kabar pada Mean, Perth, maupun Mark. Mereka bertiga tidak akan bisa datang ke rumah. Selama 3 tahun pertemanan kami, tidak ada satupun dari mereka yang kuizinkan masuk ke rumah, bahkan mungkin mereka akan membenciku begitu tahu selama ini mereka mengantarku di depan kedai milik Paman Nook dan Bibi Pha yang dengan senang hati mengaku menjadi orangtuaku.

Aku hanya tidak siap menerima respon mereka begitu tahu bahwa salah satu dari gang ini adalah seorang gay dan lebih jauhnya merupakan anak dari seorang pemabuk dan pemukul. Lagipula jauh dalam hati, aku merasa sangat minder berada di area mereka ketika kami berjalan bersama.

Meski Mean tidak akan pernah mengizinkanku menundukkan kepala karena merasa rendah diri berada di sampingnya. Mean terlalu baik dan aku tidak ingin ia tahu latar belakangku, perasaanku, segalanya.

Ayah sudah pergi dan belum kembali sejak hari pemukulan terakhir. Mungkin ia baru saja mendapat uang sehingga lupa jalan pulang. Setidaknya ibu aman berada di dalam kamar kala itu.

Pintu kamar terbuka, menampilkan wajah ibu dengan mata sembap. Ibu pasti menangis lagi. "Makan malam sudah siap, Plan. Mau ibu suapi?"

Kepalaku masih sakit. Luka akibat vas kemarin belum kering dan ibu baru saja mengganti perban. Susah payah aku bangkit dari tempat tidur dan berkata, "Tidak, Bu. Aku temani makan malam."

Kami makan dalam diam. Ibu yang semula cemas apakah aku mengalami demam atau mual pascacedera beberapa hari lalu kini tampak murung.

"Bu, aku sudah tidak apa-apa, percayalah." Ketika hendak memasukkan makanan, aku berhenti. "Bu, besok aku akan berangkat ke kampus. Bisa bantu aku?"

Sebelah alis ibu terangkat, ada gurat cemas yang tampak jelas di sana. "Kau yakin?"

Aku mengangguk. "Apa perban di kepalaku bisa lebih kecil? Maksudku, akan kelihatan konyol kan?"

"Tidak akan konyol, Plan! Kau itu terluka!"

Well, ibu bisa sangat mengerikan ketika sudah marah. Aku hanya bisa menelan liur.


***


"Aku marah!"

"Jangan marah, Mean. Kamu udah jelek kalau marah gitu," kataku bercanda.

Mean hanya diam. Bahkan ia enggan menunjukkan wajahnya, hei! Siapa yang menghubungiku? Dia dulu!

"Kututup nih videonya!"

"Heh! Aku langsung datengin rumahmu kalau berani tutup!" teriak Mean, sontak panik. "Aku kangen tahu, Sayang."

Aku melempar senyum canggung ketika Mean selalu saja menyebut panggilan yang aneh-aneh.

"Sayang, kepalamu!" balasku. "Pacar-pacarmu bakal marah kalau tahu kamu punya sayang lagi."

"Siapa bilang aku punya pacar?"

Si Mean bangsat, memang. Lah kemarin Jean itu apa? Pembantu? Selir?

"Plan, ke mana tiga hari ini enggak masuk? Chat juga enggak dibales? Kamu sakit? Kamu jahat banget sih," Mean mulai merajuk.

Persis kayak bayi, kan jadinya?

Garis-garis Besar Gebetan PlanWhere stories live. Discover now