Tiga

47.1K 1.6K 82

EDITED

Happy reading ^^

-SW-

Seorang gadis bersurai hitam itu terdiam di bawah pancuran shower kamar mandi rumah barunya, rumah suaminya, Ferdinand. Ariana memandang kosong pantulan tubuh telanjangnya dari cermin, mengingat perkataan Ferdi sesaat setelah mereka tiba di penthouse Ferdi yang didominasi oleh warna gelap. Dingin, gelap, namun tidak mengurangi kesan elegannya. Tapi entah mengapa, Ariana merinding ketika melangkahkan kaki ke dalam penthouse pertama kali, AC baru dinyalakan, namun suhu sudah terasa lebih rendah daripada di lorong.

Ariana sedang mengangkat dua koper besar miliknya melintasi ruang ramu penthouse Ferdi yang luas dengan susah payah, gaun panjang dan riasan rambut begitu menyusahkannya. Ia berjalan tanpa suara mengikuti langkah panjang suaminya yang bahkan sejak pertama bertemu dengannya tadi pagi, tidak berbicara sama sekali, mengunci bibir rapat-rapat. Tatapannya dingin dan tajam, membuat Ariana mengalihkan pandangan, sesaat setelah mata mereka tanpa sengaja bertemu.

Suaminya pendiam, tapi sangat tampan, kesan pertama Ariana. Sebenarnya Ariana pun merasa geli saat mengingat bahwa pria yang berjalan tegap di depannya adalah prianya, suaminya. Tiba-tiba suara serak itu terdengar, membuyarkan semua bayangan Ariana. Suara suaminya, yang tajam dan menusuk.

"Ariana, sejak awal kukatakan, jangan berharap apapun dariku. Karena aku mencintai wanita lain. Tidak ada tempat untukmu di sini, Ariana. Tidak akan pernah." kata Ferdi yang berhenti berjalan sesaat, tanpa menoleh pada Ariana yang mematung.

Tanpa Ferdi sadari, kalimatnya sudah menorehkan satu lagi luka di hati lembut Ariana. Sekali lagi, gadis ini terluka.

Tidak ada tempat untuknya? Tidak apa, sedari kecil, Ariana sudah terbiasa menerima keadaan ini. Tidak diinginkan, tidak dicintai. Mungkin, memang hanya Nenek, Mama Matahari, dan Mami Indira yang mencintainya dengan tulus, namun naas, penyakit diabetes telah merenggut nyawa nenek Ariana satu tahun lalu. Sedangkan Mama Matahari, sudah meninggal saat Ariana masih kecil.

Ingatan Ariana kembali berputar pada tiga bulan lalu, saat setelah tiga belas tahun lamanya, Ariana tidak datang ke rumah Papanya di Jakarta.

Mami Indira, Istri kedua Gunawan, menyambutnya, memeluk tubuh rampingnya dengan erat, "Ariana, mengapa begitu lama? Datang juga tidak memberi kabar dulu? Mami kangen kamu, Nak. Papa, Nasya, dan Naomi juga. Ayo masuk." katanya sambil membelai wajah anak tirinya dengan mata berkaca-kaca. Ariana memandang mama tirinya dengan sendu, lima belas tahun berlalu, gurat halus di sekitar mata Indira dan helaian rambut putih Indira tidak dapat membohongi usianya. Meskipun Ariana adalah anak suaminya dengan istrinya terdahulu, Matahari, yang juga sahabatnya, Indira menyayangi Ariana seperti anaknya sendiri, bahkan lebih. Indira juga beberapa kali mengunjungi Ariana yang tinggal bersama neneknya di Jawa Tengah, sendiri, tanpa suami dan kedua putrinya.

Ariana dan Indira masuk beriringan ke dalam rumah mewah dengan suasana putih dan emas yang kental, "Mami! Buat apa bawa anak itu kemari lagi?" seru seorang gadis cantik dari puncak anak tangga. Gadis itu, Naomi. Adik tirinya yang berbeda tujuh tahun darinya. Tampak cantik meskipun hanya mengenakan celana pendek dan kaos kebesarannya. "Naomi sudah besar. Cantik, mirip sekali dengan Mami." batin Ariana senang.

Indira, tampak terusik dengan perkataan anak bungsunya, "Naomi! Tolong sopan kalau bicara, Mami gak pernah ajari kamu berteriak seperti itu." hardik Indira.

Naomi memicingkan mata sebal, tanda tidak suka, namun memilih tidak membalas perkataan Indira. Tentu saja, Ia masih sayang pada uang sakunya.

"Turun Naomi, sambut kakakmu. Lagipula waktu itu kamu masih kecil, lupakan saja masalah yang sudah lalu," kata Indira, Ia tersenyum sungkan pada Ariana, merasa bersalah karena sikap kurang sopan Naomi.

Second WifeBaca cerita ini secara GRATIS!