Part 3

8K 117 6
                                    

#Ijinkan_Aku_Selingkuh
Part 3

"Aku sudah tidak tahan lagi dengamu, Mas!"
Bentakku.
"Kamu kenapa, sih? Baru pulang kok udah marah-marah?" Mas Didi melepaskan sepatu dinasnya.
"Aku capek, Mas! Harus arisan lah ketemu sama ibu-ibu itu, belum lagi kamu mau naik pangkat jadi Danramil. Ih, aku mumet!" Aku duduk di kasur lantai sambil memeluk bantal.
"Ya sudah. Yuk kita jalan dulu cari makan." Mas Didi sudah berganti pakaian.

Setiap berdebat, Mas Didi selalu bisa meluluhkan hatiku. Entah dengan caranya mengajakku pergi cari makan, memberiku uang belanja lebih bahkan dulu Mas Didi pernah membelikanku kalung emas tapi tidak pernah ku pakai karena tidak suka modelnya.

"Kita kemana?" Ucap Mas Didi sambil mengendarai motor dan aku membonceng di belakang.
"Terserah." Hatiku masih dongkol teringat debat tadi.
"Makan bakso, yuk?"
"Terserah."
Aku pun tidak pegangan ke badannya.

"Kamu mau mie ayam apa bakso?"
"Terserah."
Aku mendahuluinya masuk dan duduk di warung bakso.
"Oh, ya sudah di samakan aja sama aku, ya. Baksonya dua mangkok, pak."

Dia duduk di sampingku sambil memainkan gawainya. Akupun sibuk dengan gawaiku meskipun hanya 'scroll' menu-menu saja.

****

Bakso pun datang. Mas Didi terlihat lahap memakannya mungkin karena seharian ini aku tidak memasak, anak-anak pun sudah pada makan di luar bersama teman-temannya.
Aku hanya memutar-mutar sendok di mangkok bakso ku. Menyeruput es teh manisku.

"Loh, kok gak dimakan, Yan? Gak laper kah?"
"Gak!"
Mas Didi melanjutkan makannya.
"Sini aku aja yang makan."
Mas Didi menggeser mangkok bakso ku ke hadapannya.
Rakus sekali! Pikirku.

Selesai di warung bakso, Mas Didi mengajakku ke pasar malam. Padahal aku sangat malas jalan-jalan, tapi apa boleh buat daripada bosan di rumah.

Teeeeettt.... Teeeeetttt....
Telepon dari Atna.

"Ya, Na?"
"Mah, mamah dimana?"
"Mamah di pasar tungging sama papah. Ada apa?"
"Oh, Atna nitip belikan cat hitam, Mah. Merk apa aja yang penting hitam. Cat tembok, ukuran yang sedang aja buat besok praktik di sekolah."
"Oke."

"Siapa?"
"Atna. Nitip cat hitam ukuran yang sedang aja."
"Cat apa?"
"Tembok."
Mas Didi memilah-milih celana pendek. Dia memang suka memakai celana pendek, itu menjadikan kakinya yang kekar di penuhi rambut-rambut halus jadi terlihat.

Ah, suamiku. Sebenarnya kamu tampan, tapi aku tidak cinta. Gumamku dalam hati.

****

Sesampainya di rumah.

"Nih Na, cat temboknya."
"Yes, Mah. Thanks."
Atna dan Firman sedang asyik bermain game di kamarnya. Ari sedang duduk di teras sambil merokok dan bermain game di handphone nya.
Mas Didi menyakan kran air ingin mencuci motornya.

Aku memanjakan diri di kamar mandi setelah seharian ini aku tidak mandi. Sengaja aku berlama-lama di kamar mandi, bernyanyi lagu nostalgia dan memainkan gayung seperti 'shower'.

Terhitung setengah jam lamanya aku mandi. Terasa segar dan ringan badan ini, sejenak melupakan rasa jengkelku tadi sore pada Mas Didi. Ku lihat Mas Didi masih mencuci motornya dan motor Firman.
Ari masih tetap di teras.

"Ari sudah makan?" Ucapku seraya mengosok-gosok rambutku dengan handuk.
"Sudah, mah. Tadi makan sama Yulia."
"Mamah gak terlalu suka loh sama Yulia. Dia kurang 'sreg' aja di hati mamah."
Aku duduk di samping Ari sambil menyalakan rokok.

"Ah, mamah. Aku sama Yulia loh udah lama pacaran. Masa iya aku putusin?" Ari meletakkan handphonenya dan mulai menatapku.
"Ya ga gitu juga. Mungkin kalau dia bisa ambil hati mamah ya kan siapa tau nanti mamah jadi suka sama dia." Sambil ku hisap batang nikotin itu.

"Sudahlah, mah. Restuin aja. Toh, Ari sudah besar juga. Sudah waktunya menikah." Mas Didi menimpali sambil menyemprotkan air ke motornya.
"Ah, papah ini tau apa? Aku mamahnya. Aku tau yang terbaik buat anak-anakku." Rasa sebalku muncul lagi. Aku matikan rokok ku yang masih panjang dan masuk ke dalam kamar.
Aku menyalakan speaker dan memutar lagu-lagu barat.

***

Ijinkan Aku SelingkuhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang