03 - Freak, Fear.

52 3 1

Happy reading.

"Net!" ucap Elsa heboh menuju bangku Annet.

"Hmm...," balas Annet yang sedang mengerjakan tugas fisikanya.

"Lo kenal sama Kafka?"

Annet meletakkan pensilnya di atas meja lalu melihat wajah Elsa teman sekelasnya yang sedang terlihat bahagia. "Enggak Sa, ada apa sih emangnya?" tanya Annet.

"Lo beneran nggak kenal? Kafka!  Adrian Kafka Pratama, Net!" ucap Elsa bersikeras.

Annet diam untuk berfikir, Adrian Kafka Pratama? Rasanya nama itu nggak asing di telinga Annet.

"Oh iya gue inget. Nggak kenal sih, tapi tau kok, kenapa Sa? Dia jadian sama lo? Wah wah Sa, pajak jadiannya gue tunggu yaw." ucap Annet tersenyum lebar pada Elsa. 

"Ya kali Net, si Aldi mau gue kemanain kalau gitu."

"Terus?"

"Semalam Kafka nanyain nama lo ke gue, nih chatnya. Gila lo Net, lo pelet ya tu anak orang?" ucap Elsa tertawa, ia bercanda di kalimat terakhirnya.

Annet mengerutkan keningnya. Kenapa cowok itu menanyakannya pada Elsa. Ah, pantesan saja Kafka sudah tahu namanya, padahal ia tidak memberi tahu cowok itu.

"Dia nanyain tentang gue, atau nama gue?" tanya Annet tidak berminat melanjutkan perbincangan ini dengan Elsa.

Elsa menaik-naikan kedua matanya menggoda Annet. "Cie-cie Annet. Barudakkkk, Annet keur beger yeuh!!!" teriak Elsa memberitahu satu kelas.

Satu kelas langsung berisik dengan sorak-sorai anak-anak yang menggoda Annet. Cewek itu menatap Elsa tajam dan hanya di balas dengan cengengesan dari Elsa.

Beger? HAH! Ia saja tidak pernah tahu arti sebenarnya dari cinta terhadap lawan jenis, yang ia tahu hanyalah cinta sang Bunda kepadanya dan sebaliknya, jadi bagaimana ia sedang mengalami soal percintaan dengan cowok.

Annet menggeleng-gelengkan kepalanya dan membiarkan teman-temanya tetap menggodanya. Ia kembali mengerjakan tugasnya.

Annet menutup bukunya dan kembali memasukan ke dalam tas. Ia melihat ke depan dengan kening berkerut.

"Unga," panggil Annet pada Bunga yang duduk di depannya.

"Apa Net?" balas Bunga menengok kebelakang.

"Bapak kok belum dateng ya?"

"Nggak masuk kayaknya, kalau nggak telat." ucap Bunga.

Annet mengangguk dan tersenyum pada Bunga. "Nggak biasanya Pak Ari telat,"

"Nga, gue mau ke ruangan guru dulu ya, liat bapak, siapa tau bapak nggak masuk, pasti ada tugas." ucap Anet pada Bunga.

"Mau gue anterin?"

"Nggak perlu, gue sendiri aja." ucap Annet lalu berjalan keluar dari bangkunya.

Ketika Annet keluar pintu kelas ia tidak sengaja bertubrukan dengan seseorang.

"Sori-sori, lo nggak apa-apa?" panik Annet.

Namun saat melihat siapa orangnya, kepanikan Annet lenyap begitu saja.

"Kenapa sih ya Allah? Setiap ketemu sama ini orang pasti ada aja kejadian!" cerocos Annet.

"Mau apa lo?" tanya Annet saat melihat orang itu hanya memberikan senyum lebar padanya.

"Tadi malam gue lupa untuk kasih lo uang yang gue janjikan kemarin, nih." Kafka menyodorkan sebuah amplop putih kepada Annet.

Tanpa basa-basi Annet mengambilnya dan langsung membuka amplop tersebut tanpa menghiraukan perkataan Kafka.

Remains Of The DayBaca cerita ini secara GRATIS!