--anak baru

94 8 3

Jakarta,
10 Januari 2019

"bun liat tuh si devi, udah telat bangunnya, mandinya lama, pake acara salah seragam lagi" kata steve avery alexander, kakak laki laki devi yang sedang memakan roti coklatnya

"aduuh vii, kamu itu kan udah gak sekolah di SMA Medan lagi naakk" bundanya devi yang bernama dinda geleng geleng melihat anaknya turun dengan baju seragam lamanya

"hah apaan? Oh iya ya, lupa bun, bentar ya" devi bergegas naik ke atas untuk mengganti seragamnya "cepetan devv" teriak steve dari bawah "iyaa sabar" kesal devi

"yaudah bun, devi duluan ya" pamit devi "iya, ati ati ilang" kata dinda "iya buu" sahut devi malas "ayo bang buru, nanti telat" devi menarik steve yang masih asik makan potongan roti coklat buatan dinda

"iya iya" steve mengambil kunci mobilnya dan langsung berjalan keluar setelah berpamitan dengan dinda

"mogok bang?" tanya devi takut telat

"iya nih"

"jehh gimana sih?"

"ya maap, lu cari ojek aja lah dev"

"kuno amat, pesenin dong qaqa"

"jijik dek" kata steve tapi ia tetap memesankan ojek online untuk devi "bentar lagi nyampe tuh ojeknya" kata steve "ohh yodah" devi siap siap untuk keluar

"bilang apa?" tanya steve "bilang apa?" bingung devi, steve baru ingat kalau adiknya memang menyebalkan seperti itu, pura pura polos dan bego walaupun polos dan bego hanya beda tipis, untung sayang pikir steve

"gatau ah, keluar tuh, kasian abang ojeknya nungguin" steve menunjuk driver ojek online yang ia pesan dengan dagunya

"yaudah daah bang" devi melambaikan tangannya sebelum keluar "ati ati jatoh" pesan steve, devi mengacungkan jempolnya malas "kalo ada yang apa apain lapor ke gw ya" kata steve perhatian

Setelah sampai di depan gerbang sekolahnya, devi langsung turun dan memberi uang kepada abang ojeknya "makasi bang" kata devi lalu berjalan masuk

Saat ia berjalan memasuki sekolahnya, hampir semua murid melihat kearahnya, devi merasa risi dengan hal itu, apakah memang anak baru selalu disambut dengan tatapan dari murid murid lainnya? itulah isi pikiran devi sekarang

"aduh" kata devi saat ada orang yang menabraknya, ia melihat siapa yang menabraknya, seorang lelaki, tinggi, tampan, tapi menyebalkan

iya menyebalkan, karena lelaki itu sama sekali tidak membantunya padahal jelas jelas lelaki itulah yang menabraknya, lelaki itu hanya berjalan melewati devi, devi yang ingin meneriaki lelaki itu mengurungkan niatnya karena ia tidak ingin mencoreng nama baiknya

"percuma ganteng tapi sifatnya kayak gitu, iihh!" kesal devi, ia berdiri lalu berjalan mencari ruang kepsek, karena ia tidak tau dimana ruang kepsek berada, ia mencari anak lain untuk membantunya, tapi yang sedang sendirian disana hanyalah lelaki yang tadi menabraknya, ia langsung menghampiri lelaki tersebut

"misi, tau ruang kepsek dimana ga?" tanya devi to the point "menurut lu?" ketus lelaki itu

"lu tau dimana ruang kepsek?"

"hmmm"

"tolong anterin dong?"

"gamau, gw gakenal lu, ngapain gw bantuin lu?"

"tolong, gw gatau dimana ruang kepsek dan gw harus cepet cepet kesana sebelum bel bunyi, plis." mohon devi sedikit kesal

"GW-GA-MAU" jawab lelaki itu dengan penekanan di setiap kata katanya "pliss bantu gww" mohon devi, lelaki itu hanya berdiri dan berjalan, devi mengikutinya

DevianaRead this story for FREE!