7. An Accident

160 38 22
                                    

Setengah jam setelah azan subuh berkumandang, Marjo sudah siap untuk pergi memulung. Mirna yang masih mengenakan mukenanya, tersenyum lebar di bibir pintu rumah kecil mereka.

"Semoga Allah memberkahi langkah kita hari ini ya, Mas," ucap Mirna penuh harap.

Marjo membalas senyuman istrinya. "Aamiin, Mir."

Setelah mencium tangan suaminya, Marni tetap berdiri di bibir pintu. Ketika Marjo sudah tidak terlihat pandangannya, ia memasuki rumah.

Laki-laki itu berjalan meningalkan lingkungan tempat tinggalnya. Menyusuri tiap-tiap gang yang mungkin menyimpan harta karun untuknya. Sesekali Marjo menggumamkan selawat Nabi. Memang tidak merdu, tapi cukup untuk mengobati rindunya pada Sang Nabi akhir zaman.

Marjo berhenti di salah satu gang yang dijadikan tempat pembuangan sampah sementara. Ada beberapa box sampah di sana. Saat tengah mengorek-ngorek sampah, ia mendengar suara gemeletukan gigi.

Mulanya, Marjo mengira itu hanya perasaannya saja, tetapi semakin lama suara itu semakin terdengar jelas seiring langkah kakinya mendekati dua kotak sampah. Ia melongokkan kepala mencari asal suara. Alangkah terkejutnya ia, ketika mendapati seorang gadis kecil tengah meringkuk kedinginan di sana, di sela-sela kotak sampah itu.

"Nak!" panggilnya lembut.

Gadis itu mendongakkan kepala lantas memasang wajah ketakutan. Ia semakin meringkuk. Marjo tidak kehabisan akal. Ia mengulurkan tangannya dengan hati-hati.

"Jangan takut, saya bukan orang jahat." Marjo mencoba menjelaskan.

Gadis itu berangsur bebas dari ringkukannya, namun ia masih menggigil. Gadis itu kedinginan.

"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Marjo.

Gadis kecil itu hanya diam. Berkali-kali Marjo mencoba bertanya siapa nama anak perempuan itu, namun ia hanya bungkam. Tidak ada sedikit pun suara yang dikeluarkannya.

Saat Marjo bertanya di mana orang tua anak itu, anak itu hanya menggeleng. Marjo semakin dibuat kebingungan. Bagaimana mungkin ia bisa menolong sementara tidak ada informasi apa pun yang didapatkannya?

"Kalau begitu, kamu ikut Bapak pulang saja, ya? Jangan takut, Bapak bukan orang jahat," bujuk Marjo.

Gadis kecil itu hanya membalas perkataan Marjo dengan anggukan ragu. Mereka berdua pergi dari sana dengan anak kecil itu berada di punggung Marjo.

Sesampainya di rumah, Mirna dibuat bertanya-tanya tentang siapa anak kecil yang dibawa suaminya. Ia sudah mengumpulkan berbagai asumsi di pikirannya, tetapi tidak ada satu pun yang berani ia suarakan. Mirna hanya menunggu penjelasan dari Marjo, agar tidak terjadi salah paham.

"Mir, tolong kamu bersihkan tubuh anak ini, ya!" pinta Marjo. Mirna hanya mengangguk lantas mengambil alih anak itu.

Beberapa menit berada dalam kendali Mirna, gadis kecil itu sudah bertransformasi menjadi anak perempuan yang cantik dan manis, meski dengan pakaian kaos seadanya. Wajahnya yang kotor sudah bersih, menampilkan kulitnya yang putih cerah.

"Mas, siapa anak ini sebenarnya?" tanya Mirna setelah mendudukkan anak itu di sampingnya.

"Dia hanya diam waktu aku tanya," lanjutnya.

ForegoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang