Rasa yang tersembunyi

1 0 0

"Riska, lo kenapa? Tanya zara
Riska melihat mata Dan wajah zara, ya disana ada ketulusan nya, terlihat jelas, zara benar benar khawatir padanya

" A ku  gak apa apa kok " ucap riska

"ini apa? " tanya zara sembari menghapus Air mata riska yang membasahi pipinya yang lembut itu.

"Iiituu, aku hanya kelilipan za " ucap riska, sekarang dia takut menatap manik mata milik sahabatnya

"Apa kamu tidak menganggap ku riska "

"Apa maksud mu? "

"Kalau lo menganngapku Sahabat mu Bahkan lebih dari Sahabat tidak mungkin lo akan bohong sama gue, gue udah kenal lo Lama riska, lo udah gue anggap kakak gue sendiri. " ucap Zara, entah kenapa ea merasa kecewa ketika riska tidak mau berbagi cerita dengannya, tapi apa yang bisa  Dia buat. 
"kalau lo gak mau cerita, gak apa apa " ucap zara dan beranjak meninggalkan riska  yang masih terdiam di tempat duduknya

"Maafin aku Za,!" ucao Riska pelan mungkin hanya Dia sendiri yang bisa dengar

   Esok harinya, Zara bangun lebih pagi, karena dia berniat untuk olahraga sambil melihat lihat pesantren. Tiba tiba  Dia menabrak seseorang, dia bangun dan melihat siapa yang dia tabrak, ternyata orang yang dulu menabraknya. Hati Zara sekarang sudah tak karuan.

"kamu gak apa apa kan? " tanya Arka
"Eee Aa-aku  gak apa apa kok, udah ya aku pergi dulu.  Assakamualaikum " Zara berlari  meninggalkan Arka disana

"Aduh ada apa dengan hati gue " ucap zara

Arka (POV)

Disana Arka hanya melihat kepergia Zara, entah kenapa setiap bertemu dengan Zara Arka selalu merasa nyaman, senang dan bahagia.

"Astagfirullah, Apaan sih aku, kenapa harus mikirin dia, Ya Allah maaf kan hamba mu ini yang memikirkan orang yang belum sah menjadi istri hamba " ucap Arka
     
         Arka pergi ke kamar sahabatnya sekaligus kakak baginya, siapa lagi kalau bukan Raihan. Raihan dan Arka sudah bersama-sama dari masih dalam perut, eh maksudnya dari mereka kecil. Sama halnya dengan Raihan, Raihan juga sudah menganggap Arka sebagai adik nya setelah Humaira.

" Assalamualaikum Bang. " Arka menghampiri Raihan yang sedang duduk di meja kerja milik nya
"Waalaikumussalam, Wihh tumben kamu kesini Ar, Ada apa?" Raihan mengahampiri Arka yang baru saja datang
"Emang Ar gak boleh kesini ya bang? " Arka bertanya kembali
"Boleh lah Ar, tapi Abang tumben aja kesini biasanya duduk di sofa, kamu kan males ke kamar abang Ar. " Raihan malah curhat, Hadehh. Heheh
"Gini lo bang, hmm anu bang, " Arka merasa malu untuk mengatakannya
"Anu Anu apa? gak ada Anu disini Ar. " Raihan terkekeh melihat ekspresi Sahabat sekaligus adiknya ini
"Hmm, Ar mau pinjem Buku Abang, boleh? " Mendengar itu Raihan tertawa, tumben sekali Arka meminjami nya Buku biasanya dia anti sekali sama membaca
"Tumben kamu cari  buku  Ar, Tapi buku Abang yang mana, buku abang banyak. " Arka tidak merasa terkejut, memang benar di kamar Raihan banyak buku berbagai macam Genre bahkan buku yang tebal tebal pun ada, itu salah satu yang membuat Arka malas sekali masuk ke kamar Raihan ini.
"Buku Apa ya bang? " Raihan terkejut kok malah bertanya balik kepadanya
"Kamu ini, kok malah nanyak abang sih" ujar Raihan
"Arka pengen minjam buku kesukaan Abang, yang sering Abang baca" Arka memang penasaran sama buku yang selalu dibaca Raihan
" ohh, buku itu.  Tunggu Abang ambilin. " Raihan beranjak dari tempat duduknya, dan beralih ke perpustakaan kecil miliknya pribadi. "
Raihan kembali dan memberika buku tersebut ke Arka.
"Makasih lo bang. " Arka tersenyum melihat buku itu, Yang mendapat lirikan dari Raihan, Raihan curiga apa maksud dari sahabatnya ini tersenyum apa dia udah gila, eh heheh sadis amatt y Raihann hhh..
"Oke, emang buat apa sih, kok tiba-tiba berubah gini."
"Gak kok Bang, cuma pengen aja, soalnya bosen di rumah kalau gak ngapa-ngapain. "
"Bukan karena cewek kan Ar " mendengar itu Arka kelagapan, Apa Raihan tau.
"Mm Maksud Abang? " Raihan tertawa, melihat ekspresi Sahabatnya yang celongo kayak orang bego, hhhh
"Bukan apa-apa, yang perlu kamu ingat jangan sampai pacaran, oke" Raihan menepuk bahu Arka lalu kembali ke meja kerja miliknya
"Siap bang, Arka pulang dulu ya bang, makasih bukunya.  Assalamualaikum " Setelah mendengar jawaban dari Raihan, Arka keluar dari kamar raihan.  Dia menuruni tangga untuk kembali ke bawah. Arka melihat Humaira sedang menonton tv, dia berinisiatif untuk mengangetkan Adik dari Sahabatnya sekaligus Adik kecilnya itu.  Arka menganggap Humaira yang berumur 14 tahun itu sebagai Adik kecilnya yang lucu.
"Ehh bang Arka, kenapa berdiri disitu?  Humaira mengangkat sebelah alisnya bingung
"Lahhh ketahuan deh, tadi niatnya buat Ira kaget" ucap Arka sambil mengacak kepala humaira yang terbalut Hijab berwarna Pink  nya
"Ihhh Abang suka gini sih ,gak abang gak abang raihan sama aja." Humaira memajukan bibirnya 2 cm pertanda dia lagi marah
"Hahahha, Ira bibir kamu kayak Itik yang mau minum Air " Tawa Arka pecah melihat ekspresi Adiknya ini
"Ihh, Ira marah sama Abang" Humaira beranjak pergi ke kamarnya, Sedangkan Arka tidak bisa menahan tawanya.

Zara (POV)

"Za??" Riska Mencoel coel pipi Zara yang gembul, Bagi Riska Zara adalah adik kecilnya yang Imut yang masih polos
"Apaan Ris?  Zara yang sedang Asik tiduran merasa terganggu.
"  Temenin Aku yuk. " Riska menarik tangan zara agar terbangun dari tempat tidurnya
"Kemana sih? "
"ke supermarket "
"ngapain?"
"Mau beli bahan-bahan untuk masak"
"Males ah, kamu aja sana"
"Ayolah Za, Mau ya" riska memasang wajah sok imutnya, eh bukan sok imut sih, emang imuttt. Zara yang melihatnys bergidik ngeri, tapi dia tidak bisa menolak permintaan sahabat tersayang nya
"Ya udah Ayok " Riska tersenyum sumringah ,dia menarik tangan Zara dan mereka keluar .
   Mereka pergi ke supermarket. Riska langsung masuk kedalam dan mencari bahan-bahan yang diperlukan. Zara yang memutuskan untuk menunggu Riska pun merasa bosan, dia merasa lapar dan pergi ke tempat bakso di sebrang jalan.  Lama Riska Membeli bahan masak akhirnya keluar dari supermarket, dia menengok ke kiri dan kanan, mencari Zara yang gak kelihatan. Zara yang melihat Riska yang kebingungan pun,dia memanggil Riska dan melambai lambaikan tangan nya agar terlihat oleh Riska. Riska yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.

AKHIR YANG BAHAGIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang