18: "I Won't Let You Go."

Mulai dari awal

Ingin rasanya menekan tombol interkom dan menunggu Andra keluar, tapi keraguan mendadak datang. Sekarang sudah terlalu sore. Mungkin sebaiknya aku pulang, dan mencoba besok. Aku tinggal melajukan mobil lurus dan kembali ke rumah.d

Aku memegang keranjang buah yang kubawa, menghela napas. Kurasa ide untuk kembali pulang tidak terlalu buruk.

Keputusan untuk mendadak menjenguk terasa bodoh jika dipikirkan lagi. Kakiku sudah siap untuk berbalik dan berjalan ke arah lift untuk turun, namun tiba-tiba pintu di depanku terbuka.

Butuh lebih dari sekadar usaha untuk tidak terlihat terkejut, tapi nyatanya aku memang terkejut. Seorang gadis muncul dari balik pintu, dengan rambut yang terkuncir dan seragam putih abu-abu.

Kelihatan tidak asing, sih. Tapi... siapa?

“Ah... halo.” Suara gadis itu terdengar. Nampaknya bukan hanya aku yang terkejut.

Canggung, aku sedikit menunduk dan tersenyum. “Ini benar apartemennya Andra Mahendra?”

“Benar, kok. Nyariin Mas Andra, ya? Tunggu ya, aku pang—”

“Nggak usah,” potongku buru-buru. “Kalau lagi istirahat, nggak usah dipanggil. Ini, saya hanya mau antar ini aja.”

“Kenapa nggak ngasih langsung aja ke saya, Ra?”

Suara itu jelas bukan suara gadis di depanku. Dia berbalik, menatap ke kanan, ke arah yang sama mataku memandang. Kali ini satu sosok yang lebih tinggi muncul, dengan sweater tebal dan hidung yang agak merah.

Andra.

Rambut abu-abunya ditata seadanya, dan ini pertama kali aku melihat Andra begini. Dengan tatanan rambut Andra yang biasa, dia terlihat seperti pada umurnya. Tapi dengan keadaan yang begini, kesan yang aku tangkap justru tidak jauh dengan mahasiswa yang baru bangun tidur—kecuali dengan wajah Andra yang merah dan kulitnya yang pucat.

“Halo, Dra,” sapaku, rasa canggung seketika bertambah.

Satu kekehan kecil terdengar dari Andra sementara dia melangkah, menyamakan posisi dengan gadis SMA di depanku. “Maaf saya berantakan gini. Nggak enak banget dilihat mata.”

“Maaf juga ngeganggu waktu istirahatnya. Saya cuman mau lihat keadaan kamu aja.”

“Cuman lihat doang nih?”

Butuh waktu untuk membuatku mengerti kekehan dan ucapan Andra sebelumnya. Yah, sebenarnya aku masih kebingungan sampai si gadis SMA di samping Andra menggeleng.

“Modus sih, Mas.” Dan kali ini Andra menyengir.

“Kalau gitu aku pulang dulu deh, Mas. Keburu Mama nelpon lagi nanti.” Kepala gadis itu teralih ke arahku. Kemudian, “Duluan, Mbak.”

Aku hanya merespon dengan anggukan kepala dan senyum sebelum gadis itu beranjak. Setelah beberapa detik, aku baru sadar. Pantas saja si gadis itu tidak asing. Dia yang aku lihat di foto keluarga Pak Wisnu.

“Adek kamu ya, Dra?” tanyaku.

“Yep,” balas Andra cepat. “Itu Ayu.”

Aku hanya menganggukkan kepala sebagai respon, masih memperhatikan gadis itu berjalan ke arah lift, hingga akhirnya lift terbuka dan membawanya turun. Kepalaku masih tertuju di sana sampai suara Andra kembali terdengar, “Jadi...” suaranya kedengaran menggantung, “Hanya mau lihat saya doang nih?”

Kutolehkan kepala ke arah Andra, kemudian menyodorkan keranjang buah padanya. “Saya pengen tahu kabar kamu aja, takut sakitnya yang gimana.”

Andra menerima keranjang buahnya, menggumamkan terima kasih yang cepat sebelum bertanya, “Gimana apanya?”

Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang