18: "I Won't Let You Go."

11.9K 2K 344

Halo. Maaf sebelumnya aku update telat nih ya, biasanya sisng atau sore udah update. Tapi lagi sibuk banget nih sama urusan kampus *cie mahasiswa*

Untuk kali ini aku update satu chap dulu ya, tapi ada taburan gula kok, semoga cukup manis.

Minggu depan aku coba update lebih banyak, tapi tolong bantu ramein dong hehe. Spam comment gitu, aku seneng deh bacanya~

Anyway, selamat menikmati!

Regards, ArataKim

---

Adira

Aku ingat dulu pernah punya keinginan memelihara anjing Husky super besar yang kalau bisa lebih besar dariku. Sayangnya, sampai sekarang itu hanya mimpi. Meski begitu, mimpi punya efek tersendiri jika dikenang. Dan itulah yang kurasakan ketika Devina sempat menceritakan sedikit soal Sagan, anjing Husky yang cukup merepotkannya hari ini saat memindahkan barnag-barang ke apartemen baru.

Memang agak mengherankan bagaimana bisa aku dan Devina bisa mengobrol ringan begini, tapi aku tidak bisa memungkiri, dia cukup asik dijadikan teman bicara. Caranya bercerita kadang terlalu ekspresif, dan itu mengingatkanku pada Papa.

Seharusnya aku tidak perlu memikirkan hal itu.

Interaksi antara kami berdua meningkat, mungkin sejak empat hari yang lalu. Dan, yah, ini juga berkat Andra. Dan bicara soal Andra, ini sudah hari hari kedua sejak surat sakit Andra kuterima. Di rentang waktu yang sama juga aku tidak ada komunikasi apapun dengan Andra, dan rasanya ada yang kurang dari keseharianku.

Aku ingin menghubungi Andra dan bertanya bagaimana kabarnya, tapi tidak enak juga kalau jadinya justru mengganggu waktu istirahatnya. Andra juga tidak mengabariku saat selesai mengantarku ke rumah.

Tiga hari yang lalu, aku memang melihat Andra bekerja, tapi tidak bicara banyak karena sorenya Andra pergi ke rumah sakit—setidaknya begitu kata Jason. Dan setelahnya, Jason kembali dan memberikan surat dokter soal Andra.

Mungkin aku harus menjenguknya.

Tapi kalau dia sedang dalam proses pemulihan dan tengah beristirahat, bagaimana?

Pikiran-pikiran soal Andra masih berputar dalam otakku sepanjang makan siang. Aku ingin melihat Andra sendiri, tapi tidak ingin mengganggu. Dua pikiran bertolak belakang itu membuatku gila sendiri. Aku mengembuskan napas, mengeluarkannya, dan mengulangi proses itu selama beberapa kali sampai aku ingat sesuatu.

Mama. Mungkin Mama bisa membantu.

Sebelum jam makan siang selesai, aku mencoba menghubungi Mama. Sebagai atasannya, aku ingin tahu keadaan Andra. Dan sebagai temannya, aku ingin melihat langsung. Alasanku sesederhana itu, meski rasanya ada alasan lain yang muncul, entah apa namanya perasaan ini. Paling tidak, aku bisa bertemu dengan Andra. Jika memang dia tengah beristirahat, aku tidak keberatan untuk langsung pulang. Setidaknya aku bisa mendengar keadaan Andra secara langsung.

Aku bisa menjenguk Andra.

Begitu menemukan kontak Mama, aku langsung menghubunginya, mendekatkan ponsel ke telinga. Nada sambung terdengar beberapa detik, sebelum suara Mama menyusul.

“Halo, Ra? Kenapa?”

“Ma, kalau buat orang yang lagi demam gitu enak dibawain apa, ya?”

🔑🔓

Sekarang sudah jam 5. Aku masih berdiri di depan pintu apartemen, Graha Indah, nomor 307. Ini apartemen Andra. Setidaknya, itu yang dicantumkan di alamatnya.

Insecurities Principle (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang