Papa

4.2K 192 1

Moza belakangan ini sering duduk di depan rumah papanya. Tapi tak pernah bertemu dengan Regas.

Hari ini dewi fortuna berpihak pada Moza. Ia melihat Regas sampai di rumah papanya. Regas membawa banyak bungkusan. Entah berisi apa.

"Regas!" panggil Moza dari balik sebuah pohon yang terdapat di seberang. Regas tertegun.

"Kau berada di rumah siapa? Boleh aku masuk?" Tanpa dijawab Regas,  Moza duluan yang masuk ke halaman rumah itu.

"Kau pasti..."Sekarang Toro sudah di depan pintu. Omongannya terhenti saat yang ia lihat bukan Regas melainkan Moza - anak kandungnya.

"Kau..kau.." Moza menghambur ke pelukan papanya. Ia menangis sejadinya. Toro membiarkan putri kesayangannya membasahi bajunya dengan air mata.

"Papa, Moza kangen sama papa" Moza sesegukan. Regas tersenyum melihat Moza yang sudah bertemu dengan papanya. Dibalik sikapnya yang cuek dan galak ternyata Moza hanya seorang gadia manis yang sensitif.

"Papa juga kangen sama Moza. Sekarang Moza sudah besar ya. Papa senang Moza masih ingat sama papa. Oh ya Regas banyak cerita kalau Moza pintar di kampus. Benerkah?"

"Ah papa Regas hanya sedikit berlebihan. Papa sejak kapan tinggal disini? Kenapa papa tidak menemui ku di rumah?"

"Papa masih belum berani bertemu dengan mama mu. Pasti mama mu sekarang sudah bahagia maka dari itu papa tidak akan  mengganggunya lagi"

Langit sudah berwarna jingga sekarang. Namun Moza enggan untuk beranjak dari rumah papanya. Mereka bertiga larut dalam suasana ceria. Regas telah menemukan tawanya Moza lagi.

"Makasih Regas. Aku tidak tau harus bicara apa. Aku salah menilaimu. Ku pikir kau.."

"Hei aku saudara mu meski bukan kandung. Aku hanya ingin kau tersenyum. Bosan aku melihatmu yang suka menyendiri"

"Aku minta maaf kalau aku menyebalkan" Moza dan Regas duduk berdua di ayunan yang berada di halaman belakang sambil menikmati angin malam.

Hari Moza berganti. Lebih berwarna. Sekarang Moza lebih terbuka dengan sekitar. Mulai bersosialisasi meninggalkan masa lalunya yang kelam.

Moza kembali ceria.

"Hay Moza"sapa Dirga saat di perpustakaan. Moza sibuk membaca buku dan hanya sekali melirik ke arah Dirga. Tak lupa tersenyum. "Aku senang melihat senyummu. Aku lebih senang melihatmu tersenyum daripada harus melihatmu seperti serigala"ledek Dirga.

"Kau kesini ingin membaca buku atau merayuku?"

"Dua -duanya.  Bolehkan?"

Moza tetap fokus dengan buku yang ia baca. Sedangkan Dirga terus saja berbicara.

"Boleh aku mengajakmu ke konser musik minggu depan?" Moza menatap ke bola mata Dirga. "Hmm tidak mau juga tidak apa-apa. Aku tidak memaksa"

"Aku mau. Tunggu aku di tempat konser"

"Serius? Aku bisa menjemputmu di rumah kalau kau mau"

"Tidak usah. Kita bertemu disana saja. Kalau begitu aku duluan. Permisi"

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!