0 : LITTLE PRINCE[O]

1.3K 263 99

Characters :

Jeffrey Aaric

Rosie Damara

Wendi Clairene

Yuka Damara

Rehan Abimanyu

Juna Sagala

.

.

.

"All children, except one, grow up."
J.M. Barrie, Peter Pan

.

Jeffrey mengetuk-ketukkan jemarinya tidak tenang di meja kerjanya. Ia sedari tadi melihat jam yang terlihat dimonitor komputernya. Matanya berbinar saat melihat jam menunjukkan pukul 11.59 siang. Dengan segera ia mencopot dasinya dan berdiri dari meja kerjanya.

Jeffrey berjalan cepat menuju pintu keluarnya namun seketika memanyunkan bibirnya saat dihadang oleh sekretarisnya.

" Mbak, aku mau makan siang di luar. Kemarin kan udah di sini. Lagipula kerjaan udah aku kerjain semua" Ujar Jeffrey. Ia sangat kesal saat sekretarisnya yang pendek itu mengulurkan kotak bekal pada Jaehyun.

" Gak bisa, Pak. Ibu anda meminta saya untuk selalu memberi anda bekal daripada makan siang di luar dan berakhir kabur dari pekerjaan untuk ngegame di warnet sampai malam. Kalau mau main komputer kan sudah ada di sini" Jelas sekretarisnya.

" Tapi komputer di sini disetting gak bisa buat game berat sama ngeblokir game online, mbak. Aku kan bosen tiap gak boleh keluar ruangan terpaksa main feeding frenzy sama candy crush terus"

Jeffrey kesal mengingat ia tidak bisa mendownload game atau memainkan game favoritenya saat hari pertama ia bekerja di perusahaan ini.

" Lagian Mama aku jahat banget beliin aku ponsel masa jadul banget. Itu mah cuma bisa buat whatsapp sama pou. Aku kalau mau main game PUBG di ponsel aja harus pinjam punya Rehan" Curhat Jeffrey mengingat ibunya hanya memberinya ponsel dengan kapasitas RAM 500 mb. Itupun layarnya kecil dan versi androidnya tidak mendukung game yang cocok dengan seleranya.

Dulu sebelum bekerja Jeffrey selalu membeli Iphone keluaran terbaru. Namun semenjak bekerja ibunya memaksa untuk mengganti ponselnya agar ia tidak terus-terusan main game.

Jeffrey sudah berusaha menabung namun tetap saja uangnya selalu habis untuk membayar warnet dan membeli gem.

Jeffrey memang tidak boleh memegang kartu kredit ataupun ATM untuk saat ini, karena bagaimanapun dulu ia pernah membelikan ketujuh teman-temannya sepeda gunung mahal. Setelah itu ibunya murka dan hanya memberi Jeffrey uang bulanan.

Kalau ada daftar CEO paling miskin di dunia, mungkin Jeffrey akan masuk ke dalam daftar tersebut.

" Ya berarti anda harus kerjakan hal lain dong. Memeriksa laporan yang nanti sore akan masuk, salah satunya. Kan ada itu CEO, jangan main game terus sama teman-teman kamu yang masih SMP itu. Nanti kalau publik tahu kan jadi bahan omongan"

Jeffrey melipat kedua tangannya di depan perut dan menatap sekretarisnya dengan mata yang menyipit.

" Mbak Wendi kok jahat sama aku? Nanti aku pecat loh? Kan aku bosnya" Ancam Jeffrey dengan nada menakutkan. Namun tentu saja Wendi sama sekali tidak takut dengan ancaman bosnya itu.

Wendi Clairene tersenyum dan memaksa Jeffrey menerima kotak bekalnya. Jeffrey mendengus dan mau tak mau menerima kotak bekalnya itu.

" Gak bisa dong, Pak. Ini pekerjaan dari ibu anda. Lagi pula kalau Bapak gak nurut dan malah memecat saya, ibu anda nanti tidak akan membelikan komputer game"

Jeffrey tampak khawatir setelah mendengar ucapan Wendi. Ibunya memang menjanjikan membelikannya komputer dengan spek yang bagus karena komputer lamanya sudah lama rusak.

'Terpaksa deh main game nanti malem abis pulang kerja, huft'

Jeffrey menghela nafasnya dan kembali duduk di mejanya. Ia membuka bekal makannya dan sedikit berbinar saat melihat nugget, sosis, dan telur mata sapi buatan ibunya. Makanan kesukaanya. Tak lama Wendi berjalan ke meja Jaehyun untuk meletakkan secangkir kopi hitam yang baru saja diantar oleh OB.

" Kopi hitam terus sih, mbak? Aku kan doyannya es capuccino cincau. Beliin dong, haus"

Perintah Jeffrey yang dibalas anggukan oleh Wendi. Meskipun Jeffrey sangat kekanak-kanakan, tapi lelaki 26 tahun itu tetap saja atasannya. Jeffrey merasakan ponselnya bergetar. Ia mengecek ponselnya dan mendapati panggilan dari ibunya.

" Halo, Ma?" Tanya Jeffrey yang tengah mengunnyah sosis sapinya.

" Jeffrey lagi istirahat kerja kan?"

" Jeff lagi istirahat, Ma. Kenapa?"

" Jeff, tolong jemput Mama di salon yang waktu itu dong. Mama mau ajak kamu keluar sebentar."

Jeffrey tersenyum bahagia sekali, membuat Wendi yang sedari tadi belum keluar menatap Jeffrey aneh.

" Yes! Siap Ma!"

" Kamu udah makan? Kalau belum makan-"

" Udah habis kok! Ini Jeff siap meluncur"

Jeffrey dengan bahagia mengambil kontak mobilnya dan berdiri dari kursinya. Berjalan menuju pintu namun dihadang oleh Wendi.

" Pak, kan sudah saya bilang tidak boleh keluar-"

" Aku disuruh Mama jemput di salon kok. Kalau gak percaya telpon aja Mama" Jeffrey menjulurkan lidahnya kearah sekretarisnya, merasa menang dari Wendi kemudian berjalan sedikit berlari keluar ruangan.

Wendi menggelengkan kepalanya, merasa lucu dan kasihan melihat bosnya itu. Wendi mengelus perutnya yang mulai sedikit buncit. Sebentar lagi dia akan resign dari pekerjaannya karena ia hamil dan suaminya menyuruhnya untuk tidak bekerja lagi.

Dan hal inilah yang membuat Wendi khawatir. Ia sangat menyayangi Jeffrey layaknya adiknya sendiri karena bagaimanapun mereka sudah mengenal empat tahun lamanya. Hal yang mengusiknya adalah siapa nanti pengganti posisi sekretarisnya.

Jeffrey itu sedikit unik dan Wendi khawatir tidak ada yang tahan dengan sikap kekanakan Jeffrey. Ia khawatir nantinya sekretaris barunya menyebar luaskan perilaku CEOnya itu.

Tidak banyak yang tahu, kalau CEO dari PT Aaric Furniture itu memiliki Peter Pan Syndrome

****

Peter Pan Syndrome adalah ketidakmampuan seseorang untuk tumbuh dewasa secara psikologis. Peter Pan Syndrome kadang disebut dengan istilah Little Prince Syndrome atau King Baby Syndrome. Sindrom ini membuat orang yang mengindapnya cenderung tidak mandiri dan sangat kekanak-kanakan.
Contohnya pria usia 50 tahun yang masih bertingkah seperti usia 20an, atau pria 30 tahun yang bertingkah seperti umur 15 tahun.
Biasanya laki-laki lebih sering terkena sindrom ini karena pria memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Hehe cerita baru. Padahal Bad Papa belum kelar.

Btw ini pure fiksi ya. Dan buat Peter Pan sindromnya maaf kalau dalam karakter di ff aku menggambarkannya 'mungkin' kurang sesuai dari yang seharusnya (aku pribadi belum pernah ketemu orang yang kena peterpan syndrome sih)

Please support this story heheheheh 💚

BTW AKU BARU TES OMBAK YA BELUM RESMI UPDATE CERITA INI. CUMA MAU TAHU ADAKAH YG MINAT BACA FF LOKAL SEMACAM INI. DAN AKU MASIH GALAU SAMA PEMERANNYA.

/PAKE KEPSLOK BIAR DIBACA/

Little Prince ; JaehyunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang