Dia (Makin) Menyebalkan

5K 211 2

Kembali lagi nih sama penulis amatiran. Hiks
Aku nggak tau nih mesti kayak gimana lagi. Oh ya sama seperti cerita2 ku yg laen, cerita ini juga udh tersimpan lama di buku ku.
Readers, aku mau kalian tetep pantengin nih cerita biar aku semangat nulis.
oke cantik, oke ganteng!!!

Lophe,
221092♥

**

Moza POV

Sejak kejadian semalam itu aku tak ingin bertatap muka dengan saudara tiriku itu. Berani sekali dia masuk ke wilayah pribadiku. Mak Odah dan mamaku saja tidak aku biarkan masuk ke kamarku kalau tidak perlu.

Aku melihat jam motif nightmareku yang tergantung di dinding menunjuk pukul tujuh. Masih ada dua jam lagi untuk berangkat kuliah.

Tok tok tok..

Terdengar suara Mak Odah di luar kamarku dan sambil mengetuk pintu.

"Non Moza, Mak udah buatin sarapan. Yuk kita makan Non" kata Mak Odah penuh perhatian.

Dulu sewaktu usiaku kira-kira sebelas tahun aku pernah menyangka kalau aku anak Mak Odah dan bukan anak mamaku. Ah..drama queen sekali aku.

Buru-buru aku turun untuk sarapan. Aku menghentikan langkahku dan melihat Regas tengah duduk asyik sambil tertawa menonton film kartun Masha and The Bear.

Aku berjalan cuek melewatinya menuju ruang makan yang bersebelahan dengan ruang tengah.

"Moza sini deh lucu tuh si Masha . Hahaha.Itu lucu banget. Haha" Aku mengambil bantal dan kutimpuk pas depan wajahnya. Dia bengong.

"Sakit Moza. Nanti hidung aku pesek gimana?" rengek Regas.

"Ganti saja sama belalainya gajah. Gampang kan?" kataku asal dan langsung mengambil posisi duduk di kursi makanku.

"Aku minta maaf soal semalam. Aku niatnya ingin meminta kamu untuk mengecilkan volume lagu rock mu itu tapi nggak kamu gubris dan aku membuka pintu kamarmu ternyata kamu sedang di kamar mandi" Regas mengikuti ku dan duduk di sebelah kananku. Aku tidak ambil pusing soal permintaan maafnya karena setelah ku pikir aku yang salah kenapa tak kunci pintu kamarku ketika aku mandi.

"Lain kali kalau kamu masuk kamarku nggak segan-segan mobil kesayanganmu akan aku jadikan gerobak soto. Ingat itu!"

"Siap my sista. Kamu nggak berangkat hari ini?"

"Jam sembilan. Kamu sendiri?"

"Me too "

♥♥♥♥♥

Moza duduk di pojok kantin ditemani laptop dan segelas es kelapa. Sesekali tangannya meraba gelas yang berada di sampingnya karena terlalu fokus mengerjakan tugas.

"Mozaaa" teriakan itu membuat Moza menoleh dan mendapati Regas melambaikan tangan ke arahnya. "Thank you sista. Aku dapat nilai A+ atas makalah yang kamu pilihin untukku" lanjut Regas.

Moza mencubit pinggang Regas dengan keras sehingga membuat laki-laki keren itu kesakitan.

"Hei ingat ini di lingkungan kampus. Aku nggak mau ada yang mendengar kamu memanggilku sista lagi. Lagipula itu makalah kamu yang buat bukan aku"

"Tetap saja kamu berjasa karena kamu memilihkan yang biru untukku" Moza memberikan senyumnya yang agak dipaksa itu dan kembali fokus dengan tugasnya. "Bagaimana kalau ku traktir kau hari ini" Regas masih berisik menganggu Moza.

"Cepat pergi atau kamu aku timpuk dengan gelas ini"

"Moza, sekali saja kamu menganggapku sebagai saudara tirimu bisa kan? Aku nggak mau kita musuhan padahal daddyku dan mamamu telah menikah"

"Kamu..itu.." Moza berkemas menutup layar laptopnya dan pergi meninggalkan Regas sendirian.

Rasanya ingin ku sembunyikan wajah ini saat Regas berkata seperti itu. Ya aku memang tidak menyukainya karena daddynya memaksa mamaku untuk menikah dengannya. Aku tidak mau mempunyai ayah tiri apalagi saudara tiri.

Moza berteduh di halte karena hujan deras. Hampir setengah jam ia berdiri disana. Ia membiarkan motor kesayangannya terkena hujan. Ia menggigil kedinginan.

"Ehem.."suara itu. Moza mengenalnya. Ia berdiri terpaku menatap sosok tampan di hadapannya.

"Kamu pulang bawa mobilku dan aku yang akan bawa motormu. Bagaimana?"

"Nggak usah repot-repot aku akan pulang sekarang karena hujan mulai berhenti" Moza membawa motornya dengan kecepatan tinggi padahal jalanan licin sehabis hujan. Regas memandang jauh hingga motor Moza tak terlihat lagi.

Sesampainya di rumah, Regas tidak menemukan motor Moza yang biasanya terpakir di garasi.

"Mas Regas, Non Moza belum pulang. Mak sudah mencoba menelepon tapi nggak aktif. Mak khawatir mas" Mak Odah langsung menghambur keluar menemui Regas sesaat ia baru saja turun dari mobilnya. Mak Odah terlihat panik.

"Tadi aku ketemu di halte dan dia bilang akan pulang. Memang belum sampai Mak?"

"Belum mas. Tadi Nyonya menelepon menanyakan keadaan Non Moza dan mas Regas"

"Kalau begitu aku akan mencari Moza. Mak tunggu di rumah takutnya Moza pulang"

Mak Odah menurut. Regas kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

Di tempat berbeda..

Moza menangis di pinggir waduk sambil bersandar di sebuah pohon besar. Kakinya yang kecil ia rapatkan dan ia peluk. Menenggelamkan kepalanya diatas kedua pahanya.

Mama jahat. Mama sudah nggak sayang lagi sama aku. Aku kangen sama papa. Kangen..hiks

Sebuah tangan halus menyentuh bahu Moza. Moza mengangkat kepalanya dan mendapati sosok laki-laki yang ia kenal di kantin tempo hari. Laki-laki bermata berwarna capuchino.

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!