Bab 7

3K 307 230
                                                  

Jangan lupa Vote dan Comment yaa...

Hope you enjoy this chapter...

Hope you enjoy this chapter

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Setelah makan malam bersama keluarganya, kini Fifi tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan bersama sang kakak. Seperti apa yang dikatakan Raka sebelumnya jika ia akan membelikan sepatu baru untuk sang adik yang telah menjadi korban kekerasan Fifi pada Rico. Sejak tadi Fifi sama sekali tidak melepaskan dekapannya pada lengan kekar sang kakak, karena ia tidak ingin mata lapar para gadis-gadis di mall ini menelanjangi kakaknya.

"Nggak usah terlalu posesif gitu juga kali, Dek," tegur Raka yang mulai merasa tidak nyaman dengan tindakan sang adik.

"Terus Mas mau aja gitu dipelototin sama cewek-cewek haus darah putih itu?" tanya Fifi sedikit berapi-api karena tidak biasanya Raka protes dengan tindakannya.

"Cewek-cewek haus darah putih gimana maksudnya?" tanya Raka tidak mengerti.

"Itu kata Mba Sasa cewek begitu namanya cewek-cewek haus darah putih," jawab Fifi semakin membuat Raka memijat kepalanya, karena ia tahu siapa yang dimaksud oleh sang adik.

"Kamu kalau kebanyakan gaul sama Bastian, Angga dan Sasa bisa rusak. Nggak usah dekat-dekat deh sama mereka, Mas nggak suka," tegur Raka sembari berjalan mendahului Fifi masuk ke salah satu toko sepatu.

"Yah kok gitu? Mereka seru tahu, Mas," rengek Fifi menyusul Raka dengan langkah cepat.

"Seru sih seru, tapi kalau pada akhirnya jadi rusak ya lebih baik dihindari. Efeknya nggak bagus buat masa depan kamu, nanti kamu ikutan nikah muda kayak Sendy dan Angga lagi," ucap Raka tidak mau kalah.

"Tapi kan mereka dijodohin, Mas."

"Ya sudah sih nurut aja apa kata Mas, apalagi kamu habis disakitin cowok. Jangan terlalu mudah untuk membuat diri kamu jatuh hanya karena rasa yang nggak pasti," Raka berbalik menghadap sang adik dan menatap wajahnya penuh selidik.

Fifi memilih diam dan tidak menjawab lagi, karena sekali lagi ia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Raka. Lelaki itu memang pendiam, tapi sekalinya berbicara akan sepanjang ini dan sulit untuk dikalahkan. Sudah hampir setengah jam kedua kakak beradik itu berkeliling mall dan belum ada juga sepatu yang menarik hati Fifi. Sampai tanpa sengaja Raka menabrak seseorang yang berhasil membuat rahangnya mengetat dengan percikan amarah di matanya.

"Mata lo buta ya? Kalau jalan itu mata dipake juga, jangan gara-gara hati lo buta terus mata lo ikutan buta!" bentak Raka ketika melihat Rico yang tadi menabraknya.

"Maaf, Mas. Nggak sengaja," ucap Rico yang sesekali mencuri pandang ke arah Fifi yang memilih untuk bersikap cuek.

"Lo ikut gue keluar, ada yang mau gue omongin sama lo," ucap Raka dengan tatapan mengintimidasinya.

SAH!!! Sampai Akhirnya JodohTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang