Bab 11

530 35 1

Ustad in love

Bab 11

.
.
.

(Warning: Segala hal yang kutulis didalamnya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Typo, gaje but this story is mine.)

.
.
.

~Ada banyak hal yang ingin hatiku ungkapkan. Hanya saja entah mengapa mulutku tak pernah mngucapkan kata yang tepat.~

.
.
.

Malam semakin larut, namun manik sehitam arang itu enggan terpejam. Seolah memaksa Hasbi agar tetap terjaga. Wajah adonisnya masih terlihat pucat meski tidak sepucat beberapa hari lalu.

Sudah hampir satu minggu Ia berbaring di ranjang dengan selang infus yang masih setia menempel di tangannya.

Ridwan baru saja kembali siang tadi, sedangkan Ia sendiri kini ditemani oleh Faiz, santri dari Ponpes Al-Hadi yang diutus langsung oleh Ridwan untuk menemani adiknya saat Ia terpaksa harus kembali atas suruhan ayah mertuanya, Kyai Khoiry.

"Mas Zaki belum tidur?" Tanya Faiz yang baru masuk ke ruang inap sambil menenteng makanan yang dibelinya tadi.

"Kau sendiri?" Hasbi malah balik bertanya, tak lupa dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

"Ano... Ya." Jawab Faiz gugup.

"Mas Zaki, saya tadi beli martabak. Mas mau ndak? Atau mau saya belikan makanan yang lain?" Lanjut Faiz meski dengan kegugupan yang sangat kentara. Siapa yang tidak akan gugup jika dihapkan pada putra Kyai besar seperti Hasbi?

"Kau santri kelas berapa?" Bukannya menjawab, Hasbi malah bertanya balik. Sungguh, melihat Faiz mengingatkannya pada masa remajanya dulu.

"Sa-saya kelas lima, Mas."

"Begitu ya?" Balas Hasbi. "Dokter bilang, besok saya sudah boleh pulang. Kamu sebaiknya segera kembali ke pesantren saja." Lanjutnya yang mampu membuat Faiz, remaja berusia sekitar 17 tahunan itu terkejut.

"Ma'af mas, tapi mas Ridwan meminta saya un....."

"Soal mas Ridwan biar jadi urusan saya." Potong Hasbi cepat. "Dan satu lagi, jangan katakan pada siapapun kalo saya masuk rumah sakit, terutama Umi dan Abi. Cukup kamu dan mas Ridwan saja yang tau soal ini." Lanjut Hasbi lagi.

"Baik mas." Jawab Faiz meski dengan raut kebingungan.

Bukan tanpa alasan mengapa Hasbi memintanya untuk segera pergi. Ia hanya tidak ingin identitasnya sebagai seorang gus terbongkar.

***

Bagai terhempas jatuh ke jurang hingga membuat jantungnya nyaris tak berdetak. Fandi yang baru saja keluar dari ruangan Kyai Hasym melangkah gontai dengan raut wajah yang sulit diartikan. Separuh tubuhnya seolah baru saja dihantam dengan ribuan senjata tajam yang tak kasat mata, terutama di bagian hati, perih dan sakit tapi tak ada darah yang menetes sedikitpun.

Perkataan Kyai Hasym beberapa menit lalu masih terngiang jelas dalam pikirannya. Menamparnya pada kesadaran penuh hingga Ia kini terdorong pada pintu kenyataan.

Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!