Pasal 4: Ingat Gebetan Sebelum Gelap

575 75 25

"Kamu mau langsung balik, Plan?"

"Enggak, Mean. Ada kerja kelompok bikin resensi."

Kami sekarang lagi jalan menuju parkiran.

"Ya udah, abis itu langsung balik. Jangan pulang malem-malem. Nanti Tante Pim marah," Mean mengoceh tidak jelas sambil mengusap rambutku kasar. Hobi Mean memang membuat tampilan rambutku berantakan. "Aku tinggal dulu, ya."

Mean masuk ke Mercy mewah yang terparkir tidak jauh dari gedung fakultasku. Dia memang aneh, jangan tanya. Fakultas kedokteran cukup jauh sebenarnya. Kau harus berjalan 10 menit menuju gedung tempatku kuliah. Aku pernah bertanya kenapa dia selalu suka parkir di fakultasku, dia bilang kedokteran sudah terlalu banyak orang bawa mobil.

Iyalah, kampusnya orang kaya. Apalah dibandingin sama anak sastra gembel sepertiku.

Ketika mobil Mean menghilang di belokan, aku hanya tersenyum menatap kosong bekas yang menyisakan aroma Mean lalu membuka ponsel. Masih jam 4 sore. Dia pasti masih di rumah. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kampus yang selalu buka hingga jam 9 malam.

Benar. Aku bohong pada Mean. Tidak ada kerja kelompok hari ini, tidak ada acara apapun. Aku seharusnya bisa langsung pulang, tapi tidak. Ini sudah jadi kebiasaanku sejak dulu, sejak aku masih kecil.

***

"Kenapa baru pulang, Plan?"

Aku melirik jam dinding yang menunjukkan jam 10 malam kemudian mengintip ruang tengah yang kosong. Ada kelegaan yang mengisi tubuhku. Jantungku yang semula berdebar takut mulai berdetak pelan.

"Ada kerja kelompok, Bu," jawabku tanpa berani memandang wajah ibu yang sedang mengusap rambutku.

"Kamu selalu saja pulang malam."

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum. "Bu-" kataku ragu.

"Ada apa, Sayang?" Kini ibu pergi ke dapur. Aku mencium aroma lezat datang dari sana.

"Ayah ke mana?" Aku bertanya ragu. Sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru, dengan takut-takut aku mendatangi ibu yang tengah memasak sesuatu yang menyenangkan.

Meski cahaya terlihat remang, aku mampu melihat senyum kecil ibu. "Dia sudah pergi, tenang saja."

Mendengar perkataan ibu, seolah jantungku yang semula berdentum keras perlahan-lahan mulai bersahabat. Begitu kentara kah ketakutanku hingga ibu pun menyadari kecemasan yang kurasakan?

"Dan berhenti membohongi ibu soal kerja kelompokmu itu," kata ibu yang membuatku meringis bersalah. "Sekarang mandilah, ibu akan menyiapkanmu makan malam. Kamu pasti lapar kan?"

Ibu adalah orang paling pengertian sejagad raya. Aku memang mudah lapar tapi pilihan untuk pulang lebih awal dan bertemu dengan sosok lain selain ibu, membuatku bergidik. Rasa perhatian ibu yang membuatku urung untuk pindah ke asrama kampus. Aku takut jika nanti ibu yang akan mendapat masalah ketika aku memilih pergi. Hanya ibu yang kumiliki saat ini, orang tulus yang menerimaku apa adanya bahkan ketika hal yang membuatku jijik pada diriku sendiri terbongkar, ibu membentangkan tangan sambal menenangkanku, mengatakan bahwa aku masih tetap anak ibu yang paling rupawan, apapun pilihan hidup yang kujalani.

Karena itulah, aku tidak akan meninggalkannya meski aku harus menghadapi kesakitan tiap kali pulang. Demi ibu, aku akan melakukan apapun.

Sebelum ibu mengizinkanku makan, beliau menyuruh untuk mandi. Dengan patuh, aku mengikutinya. Lahgipula seluruh tubuhku terasa lelah. Hari ini Mean membuatku bermuram. Tapi aku sadar dirinya sama sekali tidak bersalah. Lelaki itu tidak tahu perasaanku padanya.

Garis-garis Besar Gebetan PlanWhere stories live. Discover now