#Prolog

11 5 2
                                        

By; ely sukma

Mentari bersinar dengan terangnya menyengat jarring besi yang mengelilingi lapangan basket yang menjadikannya menyala. Seorang gadis tampak mendribel bolanya kesana dan kemari tanpa lelah atau tanpa takut kulitnya terbakar, disampingnya seorang cowok berusaha merebut bola itu sebelum detik-detik masuknya bola ke dalam ring.

" Ra....nanti malam ada liga sepak bola....lo nonton gak?" Tanya Dafa pada Zahra seraya berjalan kepinggir lapangan untuk duduk.

" So pasti dong" masih terus mendribel bolanya.

" Bdw kok tante bibah gak pernah keliatan ya?" Seraya mengusap keringatnya yang mulai menetes.

" Oh, Umi seminggu ini dia ke kampung halamannya.....nenek gue meninggal."

" Lo gak ikut nyokap lo?"

" Gue Cuma nginep satu hari doang kata nyokap sih....biar gak ketinggalan pelajaran bentar lagi kan ulangan semester."

" Oh....." tampak memperhatikan Zahra yang terus bermain dengan bolanya tanpa lelah walau matahari menyengat kulitnya " Kita kembali ke kelas yuk Ra.....temen gue yang lain pasti udah pada ganti sragam....kayaknya sih udah ganti jam pelajaran juga dan kelas lo mungkin udah gak kosong lagi." Dafa berdiri dari duduknya.

" Males ah........gue dirumah sendirian juga udah sengsara Daf, sekarang di sekolah harus pusing-pusing juga."

" Lo kok ngomongnya gitu? Lo gak inget ada gue ? ada Reza,Edo dan yang lainnya?" disentuhnya pundak Zahra yang secara mendadak menghentikan bolanya.

Sejenak Zahra diam memegang bolanya dengan erat." Hmmm.....ide bagus daf.....ayo kekelas gue, ada yang perlu gue omongin sama tim basket kita." Dengan senyuman yang lebar Zahra merangkul Dafa,berjalan bersama menuju XI IPS 5 kelas tercinta. Dibiarkannya bola memantul keras kelantai dan melambung tinggi keudara dan jatuh kembali.

***

" Wow nyokap lo cantik banget ra....sholehah lagi....gue demen nich sama cewek solekhah." Celetuk Edo kegirangan melihat foto Umi Zahra.

" Gue bunuh lo suka ama Umi gue!" Zahra melotot kearah sohibnya itu yang membiarkannya jadi bahan tertawaan.

" Zahra kapan hijaban? jadi pingin lihat lo hijaban Ra" kali ini Reza angkat bicara menatap Zahra tanpa berdosa.

" Jungkir balik gue Zahra hijaban......" Edo kembali membully gadis toboy si empunya rumah itu.

" Jangan Cuma jungkir balik dong do.....traktir makan juga dong!"ucap figo seraya mengelus perutnya

" Kode keras cuy." Dafa menimpali apa yang dikatakan figo dengan senyuman yang cukup lebar.

" Anjir lo bilang dong kalo laper!! Kan biar nanti gue beliin makanan pake uang Zahra hehehe ." Edo kembali dengan candaannya.

" Dasar para kurawa......makannya satu karung." Celetuk Zahra mengambil ponselnya, sedangkan yang lain mulai menonton TV yang ada di ruang tengah rumah Zahra.

" Mana Ra?....gue kan minta makan ngapa lo ngambilin hp, dedek bayi butuh asupan nutrisi ni." figo Memegang perutnya selayaknya orang hamil.

" Dikira gue mak lo apa?" Zahra kembali melotot yang lain hanya geleng-geleng.

" Anjirr lo polos banget ya....kalo si Zahra ambilnya ponsel berarti dia pesen tau...tentunya lebih enak dari masakannya hehe" semua jadi tertawa melihat wajah Zahra yang sesmakin menjadi,tentu saja karna semua tahu Zahra tidak bisa masak.

" Selanjutnya kalo lo lo pada haus ambil aja tuh di kulkas....."

" Ada minum Ra?"

" Hadeh anak siapa sih lo? blo'on banget."

Tepat jam sepuluh pertandingan sudah dimulai mereka masih heboh dengan Timnas U 19 yang bermain dengan gagahnya di lapangan hijau. Waktu terus berjalan sampai sepak bola usai dan waktu menunjukkan pukul 3 pagi, sejak pertandingan usai para kurawa dan putri salju tertidur kali ini bukan karena apel atau melawan pasukan pandawa melainkan terlalu bersemangat dengan permainan sepak bola di TV. Kecuali Dafa cowok itu masih terjaga membiarkan teman-temannya tertidur ditempat yang ada, lama duduk sendirian menatap layar TV iapun menengok kearah Zahra yang tidur diantara para cucu adam, seperti biasa gadis tomboy itu tak pernah perduli dan takut sesuatu akan terjadi padanya.

Dafapun berdiri menghampiri Zahra, mengangkat tubuh gadis itu perlahan dan diboyongnya gadis si empunya ruamah masuk kedalam kamarnya. Meletakkan tubuh Zahra dengan perlahan di kasur yang terlihat begitu nyaman. Dafa meneliti sudut demi sudut kamar itu teringat kenangan masa kecil yang telah usang dimakan waktu. Sesaat ditatapnya wajah Zahra, disentuhnya kepala Zahra dengan lembut sebelum ia keluar dari kamar itu.

#Vote dan komen ya karya autor amatiran ini😆😆biar tambah semangat belajar menulis nya.....terimakasih

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 21, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RISALAH HATIWhere stories live. Discover now